SURYA.CO.ID, SURABAYA – Impian memiliki kulit glowing seketika bisa berubah menjadi mimpi buruk kesehatan jika masyarakat salah memilih tempat perawatan.
Fenomena menjamurnya klinik kecantikan tidak berizin dan peredaran skincare ilegal, kini tengah menjadi perhatian serius Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) Cabang Surabaya.
Ketua Perdoski Surabaya, Dr dr Linda Astari Sp.D.V.E., mengimbau masyarakat agar tidak mudah tertipu oleh label "klinik estetik" yang tidak memiliki standar medis yang jelas.
“Sekarang ini banyak klinik yang tidak berizin atau tidak legal, juga banyak skincare ilegal beredar. Ini yang sangat kami khawatirkan,” ujar dr Linda Astari pada Senin (12/1/2026).
Meningkatnya tren kecantikan, mendorong banyak pihak membuka praktik tanpa memenuhi standar kompetensi.
Akibatnya, banyak pasien yang datang ke dokter spesialis kulit dalam kondisi mengalami komplikasi medis yang parah.
Menurut dr Linda, pasien sering kali tidak bisa membedakan antara dokter estetika umum dengan Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi dan Estetika (Sp.D.V.E.).
“Sering kali pasien datang sudah parah. Kasus yang paling sering ditemui adalah komplikasi pasca suntik botox, suntik filler serta keluhan iritasi seperti eritema dan hiperpigmentasi berat,” ungkapnya.
Perdoski Surabaya tidak tinggal diam. dr Linda menjelaskan, bahwa pihaknya terus bersinergi dengan Dinas Kesehatan Kota Surabaya dalam memantau legalitas layanan kecantikan di Kota Pahlawan.
Dinas Kesehatan melibatkan Perdoski untuk melakukan review, atau memberikan rekomendasi sebelum izin klinik estetika diterbitkan atau diperpanjang.
Langkah tersebut, bertujuan untuk memastikan klinik memiliki tenaga ahli yang kompeten di bidang dermatologi dan estetika secara profesional.
Agar tidak terjebak dalam praktik abal-abal, Perdoski membagikan panduan bagi masyarakat dalam memilih layanan perawatan kulit:
“Kalau bukan Sp.D.V.E., ya pasti bukan dokter spesialis kulit. Harga mahal juga tidak menjamin. Yang paling penting adalah kualifikasi medisnya,” pungkas dr Linda.