Apa Itu Fenomena Child Grooming, Pelecehan terhadap Anak yang Dialami Artis Aurelie Moeremans?
Moh. Habib Asyhad January 13, 2026 01:34 PM

Dalam buku Broken Strings, Aurelie Moeremans menceritakan pengalamannya sebagai korban child grooming pada usia 15 tahun.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Artis Aurelie Moeremans mengungkap praktik child grooming yang pernah terjadi kepadanya bertahun-tahun yang lalu. Cerita itu dituangkannya dalam memoarnya berjudul Broken Strings.

Buku itu merangkum perjalanan hidup Aurelia termasuk sisi kelam masa remajanya. Dalam buku itu dia bercerita tentang pengalamannya menjadi korban child grooming.

"Buku ini adalah kisah nyata tentang aku, tentang bagaimana aku di-grooming waktu umur 15 tahun oleh seorang yang usianya hampir dua kali umur aku," tulis Aurelie di IG-nya, Minggu, 11 Januari 2026."(Buku ini) tentang manipulasi, kontrol, dan proses pelan-pelan belajar menyelamatkan diri sendiri."

Pada bab awal Aurelie bercerita tentang pertemuannya dengan seorang pria yang bernama Bobby di sebuah lokasi syuting. Sejak pertemuan itu, dia mengaku mulai mengalami manipulasi dan kontrol secara perlahan — dalam berbagai situs berita disebutkan bahwa dalam hubungan yang tidak sehat itu, Aurelie juga mendapat siksaan dan perlakuan yang kasar.

Aurelie sendiri telah menjadi hubungan dengan beberapa selebritas sebelum akhirnya menikah dengan suaminya yang sekarang, Tyler Bigenho. Salah satunya adalah Roby Tremonti pada 2009 lalu.

Ketika itu hubungan keduanya sempat menuai kontroversi karena Aurelie masih di bawah umur dan tidak mendapat restu orangtuanya. Sang ibu bahkan sampai meminta bantuan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan menuding adanya praktik cuci otak.

Walau sempat dikabarkan menikah secara diam-diam pada 2011, hubungan tersebut berakhir pada 2013 dengan adanya dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Tapi pada 2020 lalu, Aurelie mengklarifikasi bahwa pernikahan tersebut tidak sah secara hukum maupun agama. Melalui dokumen Status Liber dari gereja, dia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memiliki ikatan pernikahan yang sah dan membantah status janda yang sempat disematkan kepadanya.

Sebagai suami, Tyler begitu mendukung sang istri untuk mempublikasikan kisah kelamnya itu. "Dia yang dari awal percaya ceritaku bisa jadi sesuatu yang baik dan berarti buat banyak gadis muda lainnya," kata Aurelie.

Apa itu child grooming?

Mengutip Kompas.com, child grooming adalah serangkaian tindakan manipulatif yang dilakukan seseorang untuk menjalin kedekatan, membangun rasa percaya, serta menciptakan ikatan emosional dengan anak. Praktik ini tujuannya: untuk mengendalikan, mengeksploitasi, atau melakukan kekerasan terhadap anak, baik secara emosional maupun seksual.

Dalam berbagai kasus, child grooming sering dikaitkan dengan pedofilia, yakni ketertarikan seksual terhadap anak di bawah umur, sebagaimana disampaikan oleh psikolog anak, remaja, dan keluarga, Farraas Afiefah Muhdiar, kepada Kompas.com. “Intinya sih ada intensi buruk tadi, intensi untuk memanipulasi atau untuk melakukan kekerasan seksual, juga eksploitasi terhadap anak,” jelasnya.

Dia menambahkan bahwa proses grooming umumnya tidak dilakukan secara terang-terangan, apalagi dengan kekerasan fisik seperti penculikan. Sebaliknya, pelaku memanfaatkan pendekatan yang tampak positif, seperti memberi perhatian khusus, menunjukkan kasih sayang, hingga menciptakan rasa aman bagi anak.

Cara tersebut dilakukan agar pelaku dapat mendapatkan kepercayaan korban, sehingga anak kerap tidak menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi. "Seolah-olah ada intensi untuk sayang, padahal sebenarnya intensinya adalah memanfaatkan si anak tersebut,” katanya.

Contohnya, pelaku bisa rutin mengirim pesan, menunjukkan kepedulian berlebihan, memberikan hadiah, sering melontarkan pujian, serta mengapresiasi korban. Saat kedekatan emosional sudah terbangun, pelaku mulai mengajukan permintaan tertentu yang mengarah pada unsur seksual. Permintaan tersebut bisa berupa permintaan foto hingga mengarahkan anak untuk melakukan tindakan seksual.

Masih menurut Farraas, ada beberapa faktor yang membuat anak rentan dimanipulasi oleh orang dewasa dalam praktik child grooming:

  1. Rasa Bangga

Salah satu pemicunya adalah perasaan bangga karena menjalin hubungan dengan sosok yang lebih dewasa, terutama yang dianggap mapan secara ekonomi maupun pendidikan. "Jadi dia merasa kayak 'Ih keren kok aku bisa pacaran sama orang yang kayak gini yang udah punya ini, udah punya itu',” terang Farraas.

Anak menilai pasangan yang lebih tua memiliki kelebihan yang tidak dimiliki teman seusianya, seperti stabilitas finansial, perhatian, dan pengalaman hidup.

  1. Mencari Figur Ayah

Faktor kedua adalah kebutuhan akan figur ayah yang tidak terpenuhi dalam kehidupan sehari-hari. "Kayak punya isu sama figur ayah, jadi ketika dikasih perhatian sama laki-laki dewasa jadi lebih rentan," tutur Farraas. Kondisi ini membuat anak lebih mudah menerima perhatian dari pria dewasa yang menunjukkan kepedulian.

  1. Butuh apresiasi

Tak hanya itu, ketertarikan pada orang dewasa juga bisa muncul karena kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi di rumah. "Punya isu keluarga, dia punya kebutuhan yang selama ini tidak terisi. Mungkin dia orangtuanya tidak hadir secara emosional," kata Farraas.

Yang diwanti-wanti oleh Farraas adalah mengenali anak korban child grooming bukan perkara mudah. Terutama pada remaja dalam keluarga dengan komunikasi yang kurang terbuka.

Walau begitu, ada sejumlah tanda awal yang patut diwaspadai orangtua, meliputi:

- Perubahan perilaku yang mencolok, seperti anak menjadi lebih tertutup, sering menyembunyikan sesuatu, mengunci gawai, dan memilih menyendiri

- Perubahan kondisi keuangan, misalnya anak tiba-tiba memiliki barang baru atau uang lebih banyak tanpa penjelasan jelas

Saat orangtua mencoba menggali informasi, korban grooming kerap menunjukkan sikap defensif, menghindar, atau tampak gelisah.

"Yang paling kelihatan banget sih ya, banyak ngerahasiain sesuatu, pokoknya kayak enggak mau ceritain tentang itu (aktivitas anak)," ujar Farraas.

Bagaimanapun caranya, praktik child grooming harus diberantas mengingat dampaknya terhadap kesehatan mental si anak dan remaja. Di antaranya, korban berisiko mengalami gangguan psikologis jangka panjang, seperti kecemasan, depresi, stres pascatrauma, hingga munculnya pikiran untuk mengakhiri hidup.

Terlebih jika korban sampai harus dipaksa membuat konten bermuatan intim. Mereka akan mengalami rasa malu mendalam dan menyalahkan diri sendiri atas pelecehan yang dialami.

Sebagai langkah pencegahan, ada beberapa langkah yang bisa ditempuh untuk mencegah child grooming, terutama untuk para orangtua, sebagaimana dikutip dari laman Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kabupaten Tangerang:

  1. Bangun komunikasi terbuka. Ajari anak bicara jujur tentang perasaannya tanpa takut dimarahi
  2. Awasi aktivitas offline dan online. Pantau media sosial, game online, dan pergaulan anak.
  3. Ajarkan batasan tubuh. Didik anak tentang hak atas tubuhnya dan bagaimana berkata "tidak".
  4. Ajari anak berani melapor. Beri tahu anak untuk segera bercerita jika ada seseorang yang membuatnya tidak nyaman.

Begitulah, hingga detik ini, child grooming masih terjadi di beberapa negara, termasuk Indonesia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.