Ketua STIPER Flores Bajawa Jadi Keynote Speaker Webinar Nasional Universitas Dwijendra
January 13, 2026 01:47 PM

 

 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM,Charles Abar 

TRIBUNFLORES.COM-BAJAWA – Ketua Sekolah Tinggi Pertanian Flores Bajawa (STIPER FB), Dr. Nikolaus Noywuli, S.Pt., M.Si., tampil sebagai keynote speaker dalam Webinar Nasional Fakultas Pertanian dan Bisnis Universitas Dwijendra Bali yang digelar dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-73 Yayasan Dwijendra Bali, Selasa (13/1/2026).

Dalam forum akademik nasional tersebut, ia menegaskan bahwa pengembangan agroindustri berbasis komoditas unggulan Flores merupakan kunci mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan.

Webinar nasional bertema “Mewujudkan Swasembada Pangan yang Berkelanjutan” ini diikuti ratusan peserta yang terdiri atas dosen dan mahasiswa Universitas Dwijendra Bali serta mahasiswa STIPER Flores Bajawa. Selain Dr. Nikolaus Noywuli, kegiatan ini juga menghadirkan Rektor Universitas Dwijendra Bali Prof. Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc., M.M.A., serta Dekan Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang Dr. Ir. Anis Rosyidah, M.P. sebagai pembicara.

Dalam pemaparannya sebagai keynote speaker, Dr. Nikolaus Noywuli mengangkat prospek agroindustri komoditas unggulan Pulau Flores yang dinilai memiliki daya saing tinggi di pasar nasional hingga global. Salah satu komoditas utama yang disoroti adalah kopi Flores, khususnya kopi arabika dari wilayah Bajawa, Manggarai, dan Ende, yang telah masuk kategori specialty coffee.

 

 

Baca juga: Mahasiswa Agroteknologi STIPER Flores Bajawa Tanam Padi di Persawahan Ogi

 

 

 

 

 

 

Ia menjelaskan, secara nasional Indonesia memiliki luas perkebunan kopi sekitar 1,24 juta hektare, dengan sekitar 70 persen berada di Pulau Sumatera. Namun, meskipun volume produksi Flores relatif lebih kecil, kualitas kopi arabika Flores diakui memiliki nilai tambah tinggi di pasar ekspor.

“Pada tahun 2024, produksi kopi di Nusa Tenggara Timur mencapai 25.800 ton, dan sekitar 84 persen berasal dari Flores. Ini menunjukkan Flores sebagai sentra kopi arabika premium yang potensial,” jelasnya.

Selain kopi, Flores juga dikenal sebagai pulau utama penghasil vanili terbesar di NTT. Vanili dinilai memiliki prospek besar untuk dikembangkan sebagai agroindustri bernilai tinggi, seiring meningkatnya permintaan global terhadap bahan alami.

Komoditas kelapa juga menjadi perhatian. Menurut Dr. Nikolaus, kelapa tidak hanya diolah menjadi kopra dan minyak kelapa, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi PCO (Pure Coconut Oil) dan berbagai produk turunan lainnya yang memiliki permintaan pasar tinggi.

Sementara itu, jambu mete Flores memiliki peluang besar untuk memenuhi pasar premium Eropa dan Jepang. Dengan produksi yang cukup tinggi, komoditas ini berpotensi dikembangkan melalui industri hilir yang mampu memberikan nilai tambah signifikan bagi petani lokal.

Dr. Nikolaus juga menyoroti sorgum sebagai komoditas pangan alternatif yang mulai berkembang di Flores, dengan luas tanam mencapai sekitar 4.394 hektare. Permintaan terhadap gula cair sorgum dinilai terus meningkat seiring tren pola makan sehat.

Untuk kakao, harga biji kakao Flores telah mencapai sekitar Rp100.000 per kilogram, yang mencerminkan tingginya permintaan pasar hingga tingkat global. Sementara pada komoditas buah-buahan, Flores belum menjadi pusat produksi nasional, namun memiliki peluang melalui strategi rebranding buah lokal. Tantangan utama yang dihadapi adalah daya simpan buah, seperti mangga yang cepat rusak, sehingga membutuhkan inovasi teknologi pascapanen.

Dalam perspektif keberlanjutan, Ketua STIPER Flores Bajawa menekankan pentingnya pemanfaatan limbah pertanian dan perikanan. Limbah kopi, misalnya, dapat diolah menjadi teh kulit kopi, kompos bokashi, pakan ternak, dan media tanam jamur. Limbah kelapa seperti sabut dan batok juga dapat dikembangkan menjadi bahan industri, arang, briket, hingga karbon aktif.

Isu strategis lain yang disoroti adalah tingginya biaya pakan ternak di Flores, seiring meningkatnya populasi sapi, kambing, babi, dan unggas. Menurutnya, pengolahan limbah pertanian lokal menjadi pakan alternatif dapat menekan biaya produksi dan membangun sistem pertanian terpadu yang berkelanjutan.

“Pemanfaatan limbah sebagai pakan ternak bukan hanya solusi ekonomi, tetapi juga menciptakan sistem pangan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” tegasnya.

Webinar nasional ini ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada para pemateri, termasuk kepada Ketua STIPER Flores Bajawa Dr. Nikolaus Noywuli, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi akademik yang diberikan.

Melalui forum ini, ditegaskan bahwa Flores memiliki kekayaan komoditas pertanian dan perikanan yang melimpah dan bernilai tinggi. Pengolahan bahan mentah secara lokal menjadi produk bernilai jual memerlukan dukungan teknologi, riset, dan kolaborasi lintas institusi, sebagai langkah strategis menuju swasembada pangan yang berkelanjutan dan berdaya saing global.(Cha).

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.