Psikolog Ungkap Grooming Disebut Kekerasan Bertahap Rusak Mental, Pilu Aurelie Moeremans Mengalami
January 13, 2026 02:38 PM

TRIBUNTRENDS.COM - Praktik grooming disebut para ahli sebagai salah satu bentuk kekerasan yang berlangsung secara bertahap dan kerap luput dari perhatian.

Meski tidak menimbulkan luka fisik, dampaknya terhadap kondisi mental korban bisa sangat serius dan berlangsung dalam jangka panjang.

Fakta inilah yang membuat publik tersentak ketika aktris Aurelie Moeremans mengungkap bahwa dirinya pernah mengalami pengalaman kelam tersebut.

Baca juga: Tuai Kritik Buntut Isu Cueki Laporan Aurelie Moeremans, Kak Seto: Kami Berupaya Semaksimal Mungkin

Pengakuan Aurelie mencuat setelah buku yang ditulisnya berjudul Broken String ramai diperbincangkan.

Lewat karya itu, ia secara terbuka menceritakan bagaimana dirinya pernah menjadi korban grooming di masa lalu.

Kisah tersebut sekaligus membuka mata banyak orang bahwa kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk fisik yang kasat mata.

Child grooming sering kali tidak disadari sebagai tindakan kekerasan karena prosesnya dilakukan perlahan, terselubung, dan dibungkus dalam hubungan yang tampak wajar.

Padahal, efek yang ditinggalkan dapat menghancurkan kepercayaan diri, membingungkan emosi, hingga mengganggu kesehatan mental korban dalam waktu lama.

Psikolog Klinis untuk Klien Dewasa, Rini Hapsari Santosa, menegaskan bahwa grooming bukan sekadar relasi yang bermasalah.

Menurutnya, grooming merupakan bentuk kekerasan psikologis yang dirancang secara sistematis untuk mengikat korban, menguasai pikirannya, serta melumpuhkan kemampuan korban dalam menilai mana yang benar dan salah.

Melalui kisah Aurelie Moeremans, masyarakat diajak untuk lebih waspada dan peka terhadap pola-pola manipulatif yang kerap tersembunyi di balik relasi yang tampak normal.

Pengakuan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa luka psikis akibat grooming sama nyatanya dengan luka fisik, dan membutuhkan perhatian serta pemahaman yang serius dari lingkungan sekitar.

CHILD GROOMING AURELIE - Aurelie Moeremans dan sang ibu, Sri Sumarti, pernah mendatangi Kak Seto untuk melaporkan soal child grooming, laporan mandek, Seto Mulyadi dikritik.
CHILD GROOMING AURELIE - Aurelie Moeremans dan sang ibu, Sri Sumarti, pernah mendatangi Kak Seto untuk melaporkan soal child grooming, laporan mandek, Seto Mulyadi dikritik. (Instagram/@aurelie @kaksetosahabatanak)

Grooming Dimulai dari Hal “Manis”, Berakhir pada Kontrol

Berbeda dengan kekerasan yang terjadi secara tiba-tiba, grooming dibangun perlahan lewat kepercayaan dan kedekatan emosional.

Di fase awal, korban kerap merasa aman, dipahami, bahkan diselamatkan.

“Biasa dimulai dengan membangun kedekatan dan kepercayaan. Dimulai dengan hal-hal yang baik dan manis. Namun lama-lama mengarah kepada keterikatan, upaya kontrol dan menyakiti, disertai manipulasi," ungkap Rini saat dihubungi Tribunnews, Selasa (13/1/2026). 

Pada titik ini, relasi mulai berubah arah. Korban tidak lagi bebas menentukan sikap, sementara pelaku mulai menanamkan ketergantungan emosional.

Manipulasi Membuat Korban Sulit Sadar Sedang Disakiti

Salah satu alasan grooming sangat berbahaya adalah karena korban dibuat ragu pada penilaiannya sendiri. 

Pelaku kerap bersikap tidak konsisten, mencampur perhatian dengan tekanan, kasih dengan ancaman.

“Karena erat dengan manipulasi, sulit bagi korban untuk menilai secara objektif. Karena tingkah laku pelaku tidak konsisten dan didasari oleh tujuan atau kepentingan tertentu yg sudah diatur.”

Akibatnya, korban cenderung menyalahkan diri sendiri, merasa terlalu sensitif, atau takut dianggap berlebihan. 

Kondisi ini memperbesar risiko gangguan kecemasan, depresi, hingga trauma psikologis jangka panjang.

SUAMI AURELIE MOEREMANS - Sosok Tyler Bigenho suami Aurelie Moeremans.
SUAMI AURELIE MOEREMANS - Sosok Tyler Bigenho suami Aurelie Moeremans. (Instagram/@aurelie)

Isolasi Jadi Tanda Paling Nyata Child Grooming

Dalam banyak kasus, grooming ditandai dengan semakin menyempitnya dunia sosial korban. Hubungan dengan teman, keluarga, atau lingkungan luar perlahan terputus.

“Tanda paling umum, makin sulit dijangkau dan terisolasi di bawah kontrol pelaku. Sulit ditemui, apa-apa harus izi , kehidupan sosial makin sempit,"jelasnya. 

Isolasi ini bukan hanya strategi kontrol, tetapi juga faktor utama yang memperparah dampak kesehatan mental. 

Tanpa ruang aman untuk berbagi, korban semakin sulit keluar dari lingkaran kekerasan.

Rini menekankan bahwa grooming dapat dialami siapa saja, terutama ketika terdapat ketimpangan relasi kuasa. 

Perbedaan usia, status sosial, jabatan, pendidikan, atau kondisi emosional membuat korban berada pada posisi rentan.

Dalam situasi ini, korban sering merasa tidak punya pilihan selain patuh, meski harus mengorbankan kenyamanan dan kesehatan psikologisnya sendiri.

Berani Bercerita, Titik Balik Pemulihan Mental

Menurut Rini, perubahan biasanya mulai terjadi ketika korban berani membuka cerita kepada orang lain. 

Respon dari lingkungan luar membantu korban menyadari bahwa relasi yang dijalaninya tidak sehat.

Dari proses ini, korban mulai memulihkan kembali daya nilai, kepercayaan diri, dan kendali atas hidupnya, langkah penting dalam pemulihan kesehatan mental pascakekerasan.

(TribunTrends.com/Tribunnews.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.