BANJARMASINPOST.CO.ID - Kabar duka datang dari mantan orang nomor satu di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Kolonel M Effendi Ritonga, Wali Kota Madya KDH Tk.II Banjarmasin periode 1984-1989, berpulang pada Selasa (13/1/2026).
Dia meninggal dunia pagi sekitar pukul 08.00 WIB di Jakarta.
Brigjen TNI (Purn) M Effendi Ritonga lahir pada 22 Juli 1937.
Semasa menempuh pendidikan militer, Effendi Ritonga memiliki kedekatan dengan sosok Pahlawan Revolusi Pierre Tendean.
Mereka bersama-sama merasakan masa perploncoan yang paling seram sepanjang sejarah Bumi Panorama di akhir November 1958.
Keduanya berbagi kamar tidur yang sama ditingkat dua saat menyandang pangkat sersan taruna.
Bahkan, pada waktu kenaikan ke tingkat 3 tahun 1961, Ser Ma Tar Effendi Ritonga dan Ser Ma Tar Pierre Tendean bersaing head to head untuk dipromosikan Direktur Atekad menjadi Komandan Resimen Korps Taruna.
Akhirnya Ser Ma Tar Effendi yang menjadi Komandan Resimen Korps Taruna, sementara Pierre ditunjuk sebagai Komandan Batalyon Korps Taruna Remaja yang membina adik-adik taruna tingkat satu.
Effendi dan Pierre juga pernah bersama sama mengikuti kursus dansa di sekolah dansa Napit Dancing School yang di Jalan Stasiun Timur di seberang Stasiun Kereta Api Bandung.
Mereka mempelajari dansa Waltz Cha-cha, Rumba, Quick Step, dan Javelin (Rock n Roll) di sana selama 4 bulan, yaitu bulan Mei -Agustus 1959.
Oleh sebab pada saat itu belum ada satu pun di antara mereka yang mempunyai kekasih, partner dansa mereka adalah para asisten sekolah dansa yang dimiliki seorang Batak bermarga Napitupulu tersebut.
Puncak peringatan hari jadi ke-496 Kota Banjarmasin pada Sabtu siang (23/9/2023) turut dihadiri mantan Wali Kota Banjarmasin periode 1984 hingga 1989, Effendi Ritonga.
Effendi hadir didampingi sang anak setelah mendapat undangan langsung dari Wali Kota Banjarmasin saat itu, H Ibnu Sina.
Sebagai orang yang pernah memimpin Kota Seribu Sungai dan ibu kota provinsi parawisata Kalimantan Selatan, Effendi mendukung penuh program pemerintah untuk menjadikan Banjarmasin sebagai kota pariwisata berbasis sungai.
Apalagi Banjarmasin saat ini sesuai dengan visi misi Effendi saat menjabat dulu.
“Saya dan Ibnu Sina berbeda umur 40 tahunan, namun visi misi kita sama. 80 persen Banjarmasin itu rawa, Banjarmasin itu wisata sungainya harus dikembangkan,” ujar Effendi Ritonga, dikutip dari duta tv.
Effendi menambahkan, meski sudah tidak lagi menjadi ibu kota provinsi Kalimantan Selatan, Banjarmasin tetap bisa berkembang, khususnya pada sektor perdagangan.
(Banjarmasinpost.co.id/danti ayu)