BANGKAPOS.COM -- Kematian Muliandy Nasution, Commercial Director Garuda TV, sekaligus Anggota Badan Pengurus Besar Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) masih menyisakan kenangan mendalam.
Terutama bagi penumpang mobil yang duduk bersama Muliandy Nasution saat kecelakaan terjadi.
Muliandy Nasution, penumpang yang meninggal saat kecelakaan terjadi di Jalan Raya Pangkalpinang–Mentok, Desa Terentang, Kecamatan Kelapa, Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Sabtu (10/1/2026) siang.
Sedangkan korban lain yang menaiki Nissan Serena dikabarkan selamat.
Baca juga: Sosok Muliandy Nasution, Bos TV Meninggal di Bangka Barat, Suami Desainer Ternama Ayu Dyah Andari
Korban selamat pun menceritakan detik-detik kronologi kecelakaan terjadi.
Ialah A. Dani Hamid (67), korban selamat yang memberikan klarifikasi bagaimana kronologi sebenarnya kecelakaan fatal terjadi antara mobil yang ditumpanginya dengan truk bermuatan sawit.
Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan mobil Nissan Serena dan truk bermuatan buah sawit di Jalan Raya Pangkalpinang–Mentok, Desa Terentang, Kecamatan Kelapa, Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Sabtu (10/1/2026) siang, dipastikan bukan akibat mobil menyalip kendaraan di depannya.
Klarifikasi tersebut disampaikan langsung oleh A. Dani Hamid (67), saksi hidup yang duduk di kursi depan sebelah sopir Nissan Serena saat kejadian.
Bersama Abdul Wahab Syachroni, rekan korban yang berada di mobil lain, Dani membeberkan kronologi kecelakaan dalam wawancara eksklusif bersama Bangka Pos Group di Studio Bangka Pos, Senin (12/1/2026).
Kenangan demi kenangan pun diceritakan Dani mengenai sosok Muliandy Nasution dari awal mendarat di Bumi Serumpun Sebalai hingga akhirnya kecelakaan terjadi.
Tidak lupa, Dani juga sempat menawarkan Muliandy Nasution minum kopi namun ajakan tersebut langsung disambut almarhum dengan nada lembut.
“Saat itu menunggu di bandara kami sambil bercerita. Sekitar satu jam kemudian pesawat Pak Muliandy Nasution, ia landing. Kita salaman dan ramah-tamah lah kita. Mau kita ajak ngopi, namun kata beliau idak usah lagi, mending kita langsung. Kata almarhum saat itu,” ujar Dani.
Dani pun menceritakan perjalanan dari Kota Pangkalpinang menujju Kota Mentok, Kabupaten Bangka Barat.
Berikut hasil petikan wawancara Bangka Pos Group, dibuat dengan questions and answers
Edy: Pak Dani berada tepat di samping sopir Nissan Serena saat kejadian. Boleh bercerita terlebih dahulu. Awalnya seperti apa.?
Dani: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, tentunya kita bersyukur, Bangka Pos, yang diwakili Pak Edy, bisa menerima kita untuk bercerita di kantor Bangka Pos ini. Pertama kami jemput para tamu ini, turun dari Lion Air Pukul 07.45 WIB. Tamu, dari Jakarta Lee Junn Shyong, Shen Can, dan Michael.
Dan almarhum Muliandy naik pesawat lain, Citilink kami menunggu di bandara itu, sambil bercerita, sekitar satu jam kemudian, mendarat. Pak Muliandy Nasution, ia landing, kita salaman ramah-tamahlah kita. Mau kita ajak ngopi, tidak usah lagi, mending kita langsung kata Pak Mul.
Langsung menuju ke rumah Pak Wahap, untuk mengambil mobil pak Wahab di Jalan Balai, tukar mobil menggunakan mobil Nissan Serena, karena bagus semi Alphard kata Pak Ihsan, bangkunya satu-satu dan cukup untuk enam orang.
Baca juga: Posisi Duduk Bos TV Muliandy Nasution Tewas Kecelakaan di Bangka Barat, Sopir Serena Luka Parah
Edy: Boleh tidak bapak mengingat kembali posisi orang enam ini dahulu, karena bapak berada di samping sopir Nissan Serena?
Dani: Saya di depan samping sopir Anisul Hakimi, di belakangnya saya Pak Michael, belakang sopir, Pak Muliandy belakang lagi Lee Junn Shyong, sebelahnya lagi pak Shen Can.
Kami menuju ke jalan Mentok dan menuju Mentok, sekitar pukul 10.00 WIB, kami saling calling, makan siang di Puding. Terus kita stop sampai di Puding, kita ramah-tamah bebas makan apa.
Selesai makan, ada ngopi, santai suasana itu. Selesai makan baru bergerak kita menuju Mentok melanjutkan perjalanan.
Dalam perjalanan itu tidak ada kendala apa-apa.
Biasa saja lempeng enak. Rileks saling ngobrol, sampai ke Desa Terentang itu.
Edy: Lalu bagaimana kecelakaan terjadi di Desa Terentang, Bangka Barat?
Dani: Jadi sambil bercerita tidak ada gelagat apa-apa. Pak Mul juga bercerita, suasana itu enak lah. Sampai ke posisi masuk kampung Terentang, itu tidak ada kendala apalah.
Saya juga di depan melihat, sambil cerita lah, dengan sopir sudah biasalah bawa truk bawa apa-apa, ada ke Jakarta sampai ke Aceh, Medan sudah pengalaman kata si sopir.
Jadi pas, perhitungan detik lah. Lajunya sedang lah, mobil Pak Wahab Nissan Serena disetting tidak bisa deras. Paling tinggi 80 KM, sudah diseting tidak boleh deras.
Jadi ngobrol-ngobrol ya kan tidak ada apa-apa di depan itu. Tidak ada mau motong, mau apa kan. Pas kita biasa di mobil melihat kiri melihat kanan, pas saya menoleh ke kiri, bunyi kayak bom. Doarr. Meledak gitu. Saya balik kok kaca sudah pecah. Kemudian keluar airbag. Saya melihat pak sopir. Di setir itu. Ngocor darah ke baju saya.
Edy: Jadi dapat dipastikan tidak ada upaya mendahului mobil di depan.
Dani: Jadi intinya saya di depan. Tidak ada saya lihat nyalip mobil, mobil di depan pun kosong. Tidak ada mobil di depan di lajur yang sama. Lajur berlawanan truk itulah, tiba menyentuh atau gimana. Terlihat truk, pas saya menoleh ke samping sudah terguling.
Jadi, kita tidak nyangka terjadi begitu, menoleh ke kiri, hitungan detik. Langsung dorr, seperti ledakan. Tidak nyangka, mobil itu bisa menyentuh, dan mobil sawit itu rebah.
Kita menyalip, apa yang kita salip, karena tidak ada mobil di jalur yang sama, tidak ada mobil lain, hanya satu truk di arah berlawanan.
Jadi tidak menyalip, itu kami keberatan, saya melihat tidak ada nyalip, saya di depan, mobil apa yang disalip. Mobilnya, tidak ada, nyalip apa, mobil tidak ada yang disalip.
Edy: Setelah kecelakaan terjadi apa yang dilakukan?
Dani: Pertama saya tidak bisa keluar dari mobil itu kan. Pintu itu macet. Ditarik sama pak Wahab, terbuka pintu itu yang di bagian depan, itu kan, keluarlah saya.
Awalnya saya berusaha untuk membuka pintu, tidak bisa. Macet. Larilah Pak Wahab, cepat mendekati saya dengan pak Edy, mobil mereka ada di belakang.
Mereka tahu saya berada di depan. Ini pasti pak Dani parah ini. Sekali di buka pintu saya sudah berdiri, karena saya tidak pingsan.
Kita berusaha menolong sopir Anisul Hakimi, saya juga tidak bisa menolong, karena saya ada benturan lah sedikit, walaupun pakai seat belt. Saya bilang, saya tidak bisa menolong. agak ngilu, saya bilang. Jadi saya duduk di pinggir tokoh itu kan. Kemudian, ada ibu-ibu dibuatkan teh gula, itupun saya tidak banyak minum.
Saya melihat teman teman ini saya lihat sudah gawat. Ada yang di larikan ke Pelangas, ternyata Puskesmasnya tutup, masih diperbaiki. Larikan kita arah Mentok, RSUD Sejiran Setason. Yang lain itu Pak Mul dan sopir dilarikan ke arah Kelapa.
Baca juga: Nasib ASN Pemkab Bateng Terseret Korupsi Tambang Ilegal, Manipulasi Laporan Patroli Kini Tersangka
Edy: Apakah ada firasat sebelum kecelakaan terjadi?
Dani: Tidak ada, kami makan rileks happy, tidak ada tanda apalah.
Edy: Apa misi/tujuan dari teman-teman dari Pangkalpinang kemudian ke Bangka Barat
Dani: Ini sehubungan kita mau meninjau Pusmet. Survei Pusmet, ditunggu di Pusmet itu, belum pekerjaan, masih orientasi, rencana akan ada pekerjaan.
Edy: Apa yang menjadi titik berat cerita hari ini, memastikan apa yang beredar itu kurang tepat?
Dani: Titik beratnya begini, kan kita baca juga dari Bangka Pos, banyak artinya yang Bangka Pos terima laporan juga. Tapi kami baca, tidak tepat, karena kendaraan apa yang mau disalip, karena tidak ada kendaraan yang disalip.
Sudah itu kita stabil, lari mobil itu tidak bisa kencang juga. Jadi senggolan itulah yang bikin ledakan kayak bom itu. Sehingga terjadi korban.
Sementara berikut kutipan wawancara, Abdul Wahab Syachroni, rekan para korban yang berada di mobil lain saat kecelakan terjadi.
Edy: Boleh cerita juga bapak ikut rombongan, atau justru berbeda mobil atau seperti apa?
Wahab: Jadi awal cerita, kita janjian sama rombongan, pada saat itu, akan ada tamu, dengan pesawat Lion pagi pukul 07.45 WIB mendarat, jadi pak Dani menjemput saya ke rumah. Rombongan lain mereka bawa dua mobil ke bandara, saya dengan Pak Dani berdua semobil.
Setelah sampai Pak Ihsan, Michael, Lee, Shen Can dan mereka sudah landing. Sudah ketemu kita duduk di meja, bicara sekalian menunggu satu lagi tamunya Pak Mul. Itu beda pesawat mereka, ia naik Citilink, pukul 08.45 WIB, kita menunggu di bandara hampir satu jam menunggu di bandara, kemudian pak Mul, datang kita kenalan, memang kita baru ketemu mereka, belum kenal kan.
Kita rencana survei ke Pusmet Mentok, setelah orangnya komplit, melihat mereka berdesak Mobil berhimpitan, kalau biasa jalan jauh. Jadi kata Pak Tio. Sudah pakai Serena saja.
Kata pak Ihsan, itu enak semi Alphard. Mampir ke rumah saya, mobil Masda parkir, mereka pindah ke Mobil Serena. Dan itu disopiri oleh Anisul memang sopir perusahaan dari pak Tio. Sudah sampai ke Aceh, dia makai mobil, jam terbangnya juga tinggi.
Setelah mapir makan, selesai makan, pertama kita yang di depan, setelah sampai Puding. Kita di belakang. Jadi kita pakai mobil Terios, yang nyupirin Pak Edi, sebelah Pak Edi, Pak Ihsan, di belakang Ihsan, saya, sebelah saya Pak Tio.
Sepanjang jalan kontek kontekan, via Handy Talkie (HT) ini pak Anizul bilang mobil maksimal 80 KM. Saya sampaikan, karena yang makai orang tua, jangan ngebut ngebutan lah. Kita santai mana hujan lagi.
Malah Pak Tio, ingatkan Pak Edi jangan kencang kencang hujan, 60-an sajalah sudah. Anisul juga diingatkan lewat HT. Siap Pak. Gitu.
Edy: Dari puding sampai ke lokasi tempat kejadian apakah mobil beriringan dekat, atau ada mobil lain.?
Wahab: Jauh paling 5-600 meter, terpantau, kadang-kadang ada juga mobil yang nyalip kita kan. Saya bilang mereka duluan aja kita nyalip-nyalip orang lah. Nyali-nyalip ilang kan. Dari jauh masih kelihatan.
Edy: Waktu di tempat kejadian apa yang bisa bapak informasikan?
Wahab: Pas kejadian saya di belakang tidak lihat kedepan. Pas kejadian itu tikungan, makanya menurut perkiran saya, kalau namanya truk muatanya berat begitu, kendali setirnya berat loh pak. Pasti dia tidak mengikuti pinggir jalan, pasti agak mengambil ke tengah. Kalau mengambil pinggir bisa kebalik, Saya bisa pakai truk, pernah pakai truk, saya tahu persis itu
Pas itu, Pak Edi sopir, bilang, ada mobil truk sawit sudah tebalik, dia kan kelihatan megang setir di depan. Kita di barisan belakang saya lihat sudah rebah mobil sawit. Karena agak menikung gak kelihatan Serena.
Baru turun ya Allah mobil kita, langsung kaget sempat memfotokan, jadi pak Dani, keluar dari mobil kita bantuin buka pintunya. Dia masih berdiri, sampai bantuin orang, tapi kayak kebinginan gitu.
Edy: Bagaimana reaksi ketika tahu mobil yang ditimpangi enam teman bapak?
Syok lah, kaget juga. Gimana mulai, ramaj saya bilang ada ambulan, desa dia bilang. Tidak ada sopirnya, saya punya siasat nelpon anak saya di sini. Coba telpon pak bupatinya, telpon langsung pak Bupati. Pak Markus, saya bilang mobil ini, di mana pak. Tolong kirim ambulan, oke saya telpom Puskesmas Kelapa. Maka dikirim sama dia dua ambulan. Tapi pak Dani, dibantu sama orang desa, pakai mobil Pickup bawa ke Pelangas, tetapi masih direnovasi langsung ke Mentok.
Edi: Bagaimana jarak pandang bapak sebagai penumpang, bisa melihat di depan seperti apa atau jangkauannya?
Wahab: Kita kan asik ngobrol dengan pak Tio Ihsan, dan pak Eddy bertiga. Saya penumpang, asik bicara saja. Kita kecepatan saat itu hanya 60 KM, karena sudah diingatkan Pak Tio, pak Edi jangan cepat-cepat, hujan.
Edy: Bagaimana kondisi mobil bapak Wahab saat dilihat?
Wahab: Ringsek, buka pintu tidak bisa, sampai minta bantuan orang tarik pakai rantai tidak bisa, akhirnya pakai linggis congkel, tidak bisa. akhirnya pakai gerinda di pintu sebelah kanan yang ringsek. Baru korban bisa dikelurkan.
Sebelah kiri mulus, sebelah kanan ringsek berat. Berarti bukan adu kambing, kalau secara logika. Jadi yang dihantam itu sisi sopir kanan.
Edy: Apa yang ingin bapak sampaikan terkait peristiwa ini, karena mobil Nissan Serena yang dikendarai mobil Bapak?
Maksud saya jangan terbentuk opini yang keliru lah. karena di masyarakat terbentuk opini mobil itu nyalip, berusaha mendahului dan adu kambing lagi katanya. Kalau namanya adu kambing sudah ringsek dari depan. Itu dari samping kanan.
Pengemudi mobil Truk Mitsubishi Colt Diesel warna kuning Nopol, BN-8879-RP, Izhariansyah (47), lahir di Desa Kacung, 10 Januari 1979, pekerjaan, petani/pekebun, warga Kacung RT 001 RW 001 Desa Kacung, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, kondisi mengalami luka ringan, keseleo di pergelangan mata kaki kanan.
Sementara, pengemudi Mobil Nissan Serena warna Abu-Abu Nopol B-2477-WBD, Anisul Hakimi (27), tanggal lahir 7 Febuari 1998, karyawan swasta, alamat tinggal Kelurahan Selindung, Kecamatan Gabek, Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, kondisi mengalami luka berat, cedera kepala berat, robek kepala belakang, patah kaki kanan dan patah kaki kiri.
Baca juga: Sosok Desainer Ayu Dyah Andari, Istri Bos TV Meninggal, CO-owner Brand Baju Laudya Cinthya Bella
Penumpang mobil Nissan Serena, Muliandy Nasution (42), kelahiran Medan, 26 April 1983, alamat tinggal Villa Nusa Indah 5 RT, 005 RW. 013 Desa Ciangsana, Kelurahan Gunung Putri Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, kondisi mengalami cedera kepala berat, luka robek di bagian dahi, luka robek di bagian wajah, luka robek kepala samping kanan dan meninggal dunia (MD).
Penumpang mobil Nissan Serena, lainnya, A. Dani Hamid (67), tempat dan tanggal lahir Bangka, 09 Juni 1958, pensiunan, alamat rumah jalan Taib RT 022 RW 008, Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, mengalami sesak pada bagian dada dan lecet pada lutut sebelah kiri.
Penumpang mobil Nissan Serena, Michael Andy Prayitno L (48), kelahiran Jakarta, 6 November 1977, karyawan swasta, alamat tinggal Cipinang Elok Blok C / 20 RT 002 RW 010 Cipinang Muara Kota Jakarta Timur Provinsi DKI Jakarta, mengalami luka lecet di paha sebelah kanan dan memar pada bagian dada.
Penumpang mobil Nissan Serena, Shen Can (45) laki-laki, tempat tanggal lahir Chinese, 15 Juni 1980, pekerjaan Investor, alamat Republic of China (WNA), mengalami pusing pada bagian kepala.
Penumpang mobil Nissan Serena, Lee Junn Shyong (52), laki-laki, tempat tanggal lahir Malaysia, 13 Mei 1973, pekerjaan Ministry of Home Affairs, alamat Singapura (WNA), mengalami luka di bagian wajah.
Muliandy Nasution berusia 42 tahun.
Ia merupakan kelahiran Medan, 26 April 1983.
Muliandy tinggal di Villa Nusa Indah 5 RT, 005 RW. 013 Desa Ciangsana, Kelurahan Gunung Putri Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.
Saat ditemukan meninggal, kondisi Muliandy mengalami cedera kepala berat, luka robek di bagian dahi, luka robek di bagian wajah, luka robek kepala samping kanan dan meninggal dunia di lokasi tempat kecelakaan terjadi.
Almarhum merupakan suami dari desainer ternama Ayu Dyah Andari.
Duka terasa kian pilu setelah diketahui bahwa keduanya baru saja merayakan ulang tahun perkawinan ke-17.
Dalam unggahan di media sosial, sang istri membagikan momen perayaan sederhana namun penuh makna, yang kini menjadi kenangan terakhir kebersamaan mereka.
Ayu Dyah Andari adalah desainer ternama Indonesia, terutama di ranah modest couture atau busana muslim mewah.
Baju-baju karya Ayu Dyah Andari dikenal dengan nama brand Byaudyahandari dan telah sering kali bekerja sama dengan banyak artis serta model terkenal.
Ayu Dyah Andari juga merupakan CO-owner dari L by LCB yang merupakan brand baju milik Laudya Cinthya Bella.
Ayu memulai karier di dunia mode sejak tahun 2011.
Baca juga: Pernah Jualan Bakmi, Profesi Patricia Schuldtz Dinikahi Cucu Soeharto, Lapangan Golf Suami Rp1,2 T
Ia kemudian berkembang menjadi salah satu nama penting di industri fashion Indonesia dengan ciri khas desain yang feminin, klasik, dan detail mewah.
Karyanya telah dipamerkan di acara fashion besar, termasuk acara internasional seperti London Fashion Week.
Pada Minggu (11/1/2026) unggahan Instagram Ayu Dyah Andari dibanjiri ucapan duka cita dari sejumlah rekan artis.
Dari pantauan Tribun Trends di laman unggahan terakhirnya, terlihat artis Ryana Dea, Poppy Putri, Enno Lerian, Richa Iskak, Ririn Ekawati, Chiki Fawzi, Adelia Pasha hingga publik figure lainnya ramai mengucapkan bela sungkawa kepada Ayu Dyah Andari.
Ayu rupanya baru saja kehilangan suami tercinta yang meninggal dunia dalam kecelakaan fatal.
Di unggahan terakhirnya, Ayu mengunggah momen terakhir saat ia sempat menunaikan umroh bersama suami dan anak-anak.
Ayu bersyukur lantaran kenangan terakhir bersama suami adalah kenangan indah ketika mereka beribadah di tanah suci.
Ia juga berdoa agar jalan pulang sang suami dimudahkan, juga dosanya diampuni.
Berikut isi unggahan Ayu Dyah Andari dikutip oleh Tribun Trends:
"Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah.. Allah ijinkan memory terakhir bersamamu indah sayangku sayangku sayangku...
Alhamdulillah Allah beri kebahagiaan umroh sekeluarga lengkap untuk terakhir kalinya..
Alhamdulillah kamu selalu senyum, sabar, khusyuk..
Ya Allah.. mudahkanlah jalan nya..
Ampunilah dosanya
Rahmatilah suamiku
Selamatkanlah suamiku
Maafkanlah suamiku...
Kumohon terimalah semua amal ibadahnya ya Allah.. ampunilah Dosa2nya..
Terimalah suamiku yang paling sabar ini ditempat terbaik disisi-Mu ya Allah..
Sayangku sayangku sayangku.." tulis Ayu di unggahan itu.
(Bangkapos.com/Riki Pratama/TribunTrends.com)