SURYA.CO.ID, SURABAYA – Bagi calon mahasiswa yang menargetkan jalur Golden Ticket Universitas Airlangga (Unair), Airlangga Education Expo (AEE) 2026 menjadi tahapan krusial yang tidak boleh dilewatkan. Kegiatan ini bukan sekadar pameran pendidikan, melainkan bagian dari proses seleksi awal untuk menjaring calon mahasiswa berprestasi.
Ketua Pusat Penerimaan Mahasiswa Baru (PPMB) Unair, Dr Achmad Solihin, SE, MSi, menegaskan bahwa keikutsertaan dalam AEE 2026 menjadi syarat penting dalam jalur Golden Ticket.
“Kalau ingin tahu lebih dalam tentang Golden Ticket, datang ke AEE. Kami menyelenggarakan ini selama tiga hari, dan ini waktu yang sangat berharga bagi calon Ksatria Airlangga,” ujar Solihin saat dikonfirmasi SURYA di Surabaya, Jawa Timur (Jatim), Selasa (13/1/2025).
Solihin menjelaskan, terdapat tiga syarat utama yang wajib dipenuhi calon peserta Golden Ticket Unair.
Golden Ticket merupakan program tahunan Unair untuk menjaring siswa berprestasi, baik akademik maupun non-akademik, sebagai bentuk apresiasi terhadap capaian siswa sejak di bangku sekolah.
Menurut Solihin, prestasi yang dinilai dalam jalur Golden Ticket tidak terbatas pada olimpiade sains. Unair juga mempertimbangkan prestasi kepemimpinan, olahraga hingga keagamaan.
“Prestasi itu luas. Bisa akademik, ketua OSIS, prestasi olahraga, sampai capaian keagamaan seperti penghafal kitab suci dari seluruh agama yang diakui di Indonesia,” jelasnya.
Namun demikian, tidak semua prestasi memiliki bobot yang sama. Penilaian dilakukan secara komprehensif, mencakup tingkat kejuaraan, peringkat juara, serta linearitas prestasi dengan program studi yang dipilih.
“Semakin linier prestasi dengan jurusan, bobot nilainya semakin tinggi. Juara internasional tentu lebih besar bobotnya dibanding nasional atau provinsi,” tutur Solihin.
Solihin menegaskan, bahwa jalur Golden Ticket tidak mengurangi kuota SNBP, melainkan menjadi tambahan kuota di luar jalur reguler.
“Golden Ticket justru menambah kuota. Mahasiswa yang diterima lewat jalur ini adalah tambahan, bukan mengambil jatah SNBP,” tegasnya.
Terkait jumlah penerima, Unair tidak menetapkan kuota pasti per fakultas. Seluruhnya bergantung pada kualitas peserta.
“Kalau prestasinya belum memenuhi standar, Golden Ticket bisa saja tidak diberikan,” ujarnya.
Selain prestasi, kredibilitas sertifikat juga menjadi perhatian serius dalam proses seleksi.
Solihin mengingatkan bahwa tidak semua ajang lomba memiliki legitimasi yang kuat.
“Yang dinilai bukan sekadar ikut lomba, tapi capaian juaranya dan kredibilitas penyelenggara. Sekarang banyak olimpiade yang sifatnya bisnis, apalagi yang online, tentu kami pertanyakan,” tegasnya.
Ia juga menegaskan, bahwa Unair tidak bekerja sama dengan lembaga bimbingan belajar mana pun.
“Kalau ada lomba atau olimpiade yang mengklaim bekerja sama dengan Unair atau bimbel tertentu, itu tidak benar,” ungkap Solihin.
Menutup pernyataannya, Solihin mengimbau calon mahasiswa agar lebih strategis dan selektif dalam menyiapkan portofolio prestasi serta memilih program studi.