TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Banjir di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, meluas hingga merendam 24 desa di 6 kecamatan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus mencatat, hingga Selasa (13/1/2026) pagi, ada 34.277 warga Kudus terdampak banjir.
Satu di antara wilayah yang terendam banjir ada di Dukuh Goleng, Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati.
Banjir masuk permukiman sejak Minggu (11/1/2026).
"Banjir di sini semakin bertambah karena derasnya hujan," ujar Ketua RW 12 Dukuh Goleng, Sukijan, saat ditemui di lokasi banjir, Selasa.
Data BPBD Kudus, banjir di Goleng terjadi karena limpasan Sungai SWD yang ada di Kaliwungu.
Baca juga: Jalur Pantura Kudus Macet 4 Km Akibat Banjir di Ngembalrejo, Polisi Terapkan Buka Tutup Jalan
Berbeda dengan banjir tahun sebelumnya, banjir di Goleng biasanya terjadi karena curah hujan tinggi dan kiriman dari aliran Sungai Wulan yang lokasinya memang bersebelahan dengan Dukuh Goleng.
Saat ini, kata Sukijan, tidak ada kiriman banjir dari Sungai Wulan karena sungai tersebut sudah dinormalisasi.
"Biasanya kan kiriman banjir dari Sungai Wulan, ini sudah dinormalisasi, sudah cukup bagus, cuma curah hujan masih tinggi. Airnya dari arah Kaliwungu ke Goleng," katanya.
Saat ini, sebagian warga Goleng sudah mengungsi.
Ada 24 orang yang kini tinggal di pengungsian.
Sementara, sebagian besar warga Goleng masih bertahan di rumah meski air menggenangi rumah mereka setinggi 30-80 sentimeter.
"Kalau jumlah keseluruhan warga di RW 12 Dukuh Goleng ini sekitar 800-an jiwa. Sedangkan untuk rumah, ada 100-an rumah," kata Sukijan.
BPBD Kudus mencatat, banjir terparah terjadi di Kecamatan Mejobo.
Pasalnya, banjir datang dari limpasan empat sungai yaitu, Sungai Piji, Dawe, Mrisen, dan Sungai Jati Pasean.
Ada sembilan desa di Kecamatan Mejobo yang tergenang banjir yaitu Desa Kesambi, Jojo, Mejobo, Golantepus, Temulus, Tenggeles, Hadiwarno, Payaman, dan Kirig.
Sementara, di Kecamatan Kota Kudus, banjir menggenangi Demangan dan Singocandi.
Pada Selasa pagi, banjir akibat luapan Sungai Gelis itu sudah surut.
Berikutnya, banjir terjadi di Kecamatan Jekulo, terjadi di Desa Hadipolo dan Bulungcangkring.
Banjir di dua desa ini datang akibat limpaasan air dari Sungai Piji dan Jati Pasean.
BPBD mencatat, kondisi di kedua desa tersebut telah surut.
Sedangkan di Kecamatan Bae, banjir menggenang di Desa Ngembalrejo.
Banjir di sini karena luapan Sungai Dawe dan Sungai Nolo.
Baca juga: Banjir Bandang Sungai Setro Seret Mobil Warga Kedungsari Kudus, Pemilik Sempat Dengar Gemuruh
Di Kecamatan Kaliwungu, banjir menggenang di enam desa yaitu Desa Sidorekso, Mijen, Papringan, Gamong, Prambatan Kidul, dan Setrokalangan.
BPBD mencatat, banjir di Kecamatan Kaliwungu sudah surut, kecuali di Desa Setrokalangan.
Banjir juga menggenangi wilayah Kecamatan Jati.
Di sini, ada empat desa yang terdampak banjir, yaitu Desa Ploso, Ngembal Kulon, Parusuhan Lor, dan Loram Kulon.
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris memastikan, pihaknya akan terus koordinasi dengan berbagai instansi, organisasi, juga gubernur Jawa Tengah dalam upaya penanganan banjir yang terjadi di Kudus.
"Terima kasih dukungan dari kepolisian maupun TNI, relawan, dan semua masyarakat dalam tanggap darurat kebencanaan ini," kata Sam’ani.
Sam’ani memerintahkan kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kudus untuk melakukan asesmen untuk mengetahui kerusakan infrastruktur apa saja akibat bencana yang saat ini melanda Kudus.
Kerusakan tersebut akan segera diperbaiki.
Satu di antara banjir yang saat ini parah yaitu terjadi di Dukuh Goleng, Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.
Menurut Sam’ani, kondisi Dukuh Goleng yang berada di cekungan ini membuatnya rawan terjadi genangan saat musim hujan.
Apalagi posisinya juga berbatasan dengan sungai, sewaktu-waktu bisa meluap.
"Kalau di atas, hulu sungai terjadi hujan, di sini (Goleng) pasti terjadi genangan," katanya.
Upaya penanganannya, kata Sam’ani, pihaknya akan mengajukan ke pemerintah pusat untuk membangun embung atau kolam retensi seperti yang sudah dilakukan Kementerian PU yang telah membangun kolam retensi di Desa Jati Wetan Kudus.
"Salah satu solusinya dibuatkan kolam retensi penampungan air seperti di Jati Wetan," kata dia. (*)