Banjir Kota Serang Dikurangi, Wali Kota Budi Rustandi Pantau Operasi Modifikasi Cuaca
January 13, 2026 05:00 PM

TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Wali Kota Serang, Budi Rustandi, mengunjungi Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa (13/1/2026), untuk meminimalisir risiko banjir akibat hujan deras yang terus mengguyur Kota Serang.

Lanud Halim Perdanakusuma saat ini dijadikan posko Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) BMKG. 

Dilansir situs Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Modifikasi Cuaca adalah suatu bentuk upaya manusia untuk memodifikasi cuaca dengan tujuan tertentu agar mendapatkan kondisi cuaca seperti yang diinginkan. 

Disebut sebagai suatu teknologi karena aktivitas memodifikasi cuaca pada dasarnya merupakan suatu aplikasi yang memerlukan sentuhan teknologi dalam prosesnya.

Dalam kunjungannya, Budi menyatakan Kota Serang mendapatkan manfaat dari operasi ini tanpa harus menanggung biayanya.

“Kita ke Lanud Halim Perdanakusuma, itu posko operasi modifikasi cuaca BMKG pusat. Kalau yang lain bayar, kita tidak. Tapi efeknya masuk ke Kota Serang,” ujarnya.

Baca juga: 1.579 Rumah Terendam Banjir, 6.105 Warga Kota Serang Terdampak

Menurut Budi, arah angin yang dominan dari barat membuat hasil pemecahan awan melalui OMC langsung berdampak pada Kota Serang. 

Ia berharap intensitas hujan di wilayahnya dapat berkurang dalam dua hingga tiga hari ke depan.

“Sekarang anginnya dari barat, jadi terbawa ke kita. Awan dipecah dari sumbernya. Kita lihat 2–3 hari ke depan untuk mengurangi curah hujan di Kota Serang,” jelas Budi.

Budi menambahkan, biaya operasi modifikasi cuaca cukup tinggi jika harus ditanggung sendiri, bisa mencapai Rp2–3 miliar. 

Namun, Kota Serang diuntungkan karena biaya tersebut ditanggung oleh daerah lain seperti DKI Jakarta dan Jawa Barat.

“Kota Serang beruntung, Jabar sama DKI yang bayar, kita dapat kecipratan manfaatnya,” ucapnya.

Wali Kota menegaskan, upaya ini merupakan bagian dari ikhtiar pemerintah daerah untuk mengurangi risiko banjir, sesuai arahan Gubernur Banten. 

Ia juga menyadari bahwa banjir di Kota Serang kerap dipicu oleh kiriman air dari Kabupaten Pandeglang dan Lebak, selain hujan lokal.

Selain itu, Budi menyoroti persoalan sungai yang dangkal akibat normalisasi yang belum optimal. 

Ia menyebut, Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian (BBWSC3) selama puluhan tahun belum melakukan penanganan maksimal di beberapa sungai.

“Kali Ciwaka dan Kali Cibanten itu berdampak langsung ke permukiman warga. Hulu dan hilir harus sama-sama ditangani,” tegas Budi.

Ia juga mengingatkan bahwa penyempitan aliran sungai akibat bangunan liar dan sampah turut memperparah banjir di Kota Serang. 

Karena itu, edukasi kepada masyarakat menjadi hal yang sangat penting.

“Jangan pernah membangun di aliran sungai. Pemerintah harus terus mencari solusi dan mengedukasi masyarakat,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.