Laporan Reporter Tribun Jogja, Almurfi Syofyan
TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Selama berpuluh tahun, Sungai Kedunglo di Dusun Parakan memaksa warga memutar hampir empat kilometer hanya untuk sampai ke seberang.
Kini, sebuah jembatan biru sepanjang 18 meter memotong jarak itu dan mengubah ritme hidup ratusan keluarga di desa terpencil, Kelurahan Sidomulyo, Kapanewon Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Sungai Kedunglo, yang oleh sebagian warga juga disebut Sungai Tedunan, selama bertahun-tahun menjadi batas tak kasat mata bagi warga.
Di musim kemarau, sungai itu masih bisa dilalui dengan berjalan kaki.
Namun saat hujan turun dan air meluap, aliran sungai berubah menjadi penghalang yang menyimpan risiko.
Sigit Wiratmaka (65), pedagang kelontong warga Parakan, masih mengingat betul bagaimana setiap musim hujan menghadirkan kegelisahan.
Jarak yang seharusnya dekat mendadak terasa melelahkan dan menakutkan.
“Kalau musim banjir begini nggak berani. Harus muter lewat Jembatan Sawaking. Bisa sampai empat kilo,” kata Sigit saat berbincang dengan Tribun Jogja di warungnya, Selasa (13/1/2026).
Empat kilometer bukan jarak yang ringan, terutama bagi anak-anak sekolah, lansia, dan warga yang menggantungkan hidup pada aktivitas harian.
Anak-anak yang bersekolah di SDN Kutogiri, yang berada tepat di seberang sungai, kerap terpaksa memutar jauh.
Tak jarang, hujan membuat mereka memilih tinggal di rumah.
Kondisi serupa juga dirasakan warga yang hendak beribadah.
Di seberang sungai, selain sekolah juga berdiri Masjid Jami Sabilillah dan Gereja Pepanthan.
Dulu, perjalanan ke tempat ibadah kerap diiringi rasa cemas, bahkan sebelum doa dipanjatkan.
“Kadang sudah bersih dari rumah mau ibadah, eh harus nyeberang sungai dulu. Sekarang sudah enggak, nggak waswas lagi,” ujar Sigit.
Kenangan pahit pun masih tersimpan. Ia bercerita, pernah ada warga yang hanyut karena nekat menyeberangi sungai ketika banjir datang.
Sungai yang awalnya berfungsi sebagai bendungan pengairan sawah itu pernah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan warga.
Harapan warga akhirnya terwujud pada awal 2023.
Jembatan Ngelo mulai dibangun pada 22 Januari 2023 dan rampung pada 22 Maret 2023.
Jembatan sepanjang 18 meter dengan lebar 2,4 meter itu dibangun atas inisiasi polisi.
Kini, Jembatan Ngelo berdiri kokoh membentang di atas Sungai Kedunglo.
Jembatan ini dicat biru, memberi kesan bersih dan menenangkan di tengah rimbunnya pepohonan bantaran sungai.
Rangkanya terbuat dari besi anti karat yang dirancang tahan terhadap cuaca dan derasnya aliran air.
Di sisi kanan dan kiri jembatan terpasang pagar besi pelindung, menghadirkan rasa aman bagi warga yang melintas.
Lantainya berupa cor beton yang kokoh, cukup untuk pejalan kaki, pesepeda dan pemotor, sekaligus menjadi jalan tembus yang memperlancar mobilitas warga.
Di bawah jembatan, Sungai Kedunglo tetap mengalir deras di antara bebatuan.
Namun kini, suara gemuruh air tak lagi menghadirkan ketakutan, melainkan menjadi penanda perubahan.
Baca juga: Kisah Rohmat Wibowo, Anak Petani yang Berani Bermimpi dan Raih IPK Sempurna di UNY
Suratman (55), petani warga Parakan, menyebut Jembatan Ngelo kini menghubungkan tiga kampung sekaligus, Parakan, Kutogiri, dan Talunombo.
Sekitar 200 kepala keluarga merasakan langsung manfaatnya.
“Sebelum ada jembatan ya menyeberang sungai. Kalau hujan muter hampir empat kilo,” ujar Suratman.
Kini, hasil panen bisa dibawa lebih cepat ke jalan raya tanpa harus memutar jauh. Biaya bensin berkurang, waktu dan tenaga pun lebih hemat.
“Kalau sekarang hasil panen lebih cepat dan mudah dibawa. Tinggal lewat jembatan langsung sampai jalan raya,” katanya.
Namun bagi warga, manfaat terbesar jembatan ini dirasakan anak-anak.
Mereka tak lagi harus membuka sepatu, menggulung celana, atau menantang arus sungai demi bersekolah.
“Anak sekolah sekarang nggak perlu was-was lagi. Nggak perlu buka sepatu atau kaus kaki,” ucap Suratman.
Bagi Lurah Sidomulyo, Pengasih, Kulon Progo, Suprijanto, Jembatan Ngelo bukan sekadar proyek infrastruktur.
Ia adalah jawaban atas penantian panjang warga yang telah berlangsung hampir empat dekade.
“Kalau dihitung, ini sudah dinantikan warga sejak 40 tahun lalu. Dari lurah pertama sampai zaman saya, pengajuan jembatan itu selalu ada. Baru sekarang bisa terealisasi,” ujarnya saat ditemui Tribun Jogja di ruang kerjanya, Selasa (13/1/2026).
Awalnya, kata Suprijanto, bantuan yang datang dari Polda DIY bukanlah untuk membangun jembatan.
Polisi berniat membuatkan pondasi, dilandasi rasa iba melihat warga yang harus menyeberangi sungai demi beraktivitas sehari-hari.
“Dari Polda DIY itu sebenarnya mau membuatkan pondasi saja. Mereka kasihan melihat warga kami yang harus menyeberang sungai,” tuturnya.
Namun Suprijanto melihat kesempatan yang tak boleh dilewatkan.
Ia pun memberanikan diri menyampaikan kegelisahan warga secara langsung kepada Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda DIY saat itu, Kombes Pol Alfian Nurrizal yang kini menjabat sebagai Kapolres Metro Jakarta Timur.
“Saya sampaikan, ‘Pak Polisi, kalau cuma pondasi percuma, karena kelurahan nggak punya anggaran untuk membangun jembatan. Kenapa nggak sekalian jembatan saja?’," kenang Suprijanto.
Ia lalu menceritakan kondisi warga yang harus memutar hingga empat kilometer hanya untuk menuju masjid atau gereja. Sebuah cerita sederhana, namun sarat empati.
“Warga mau ke masjid, mau ke gereja, harus mutar sekitar empat kilometer. Itu kan kasihan. Padahal jembatan ini sudah dinanti warga sejak puluhan tahun lalu,” ujarnya.
Gayung pun bersambut. Kombes Pol Alfian Nurrizal bersedia membantu pembangunan jembatan, dengan satu syarat akses jalan menuju jembatan harus dicor agar benar-benar bisa dimanfaatkan warga.
Tantangan berikutnya datang dari dalam desa sendiri.
Jalan yang akan dicor merupakan jalan usaha tani yang sebagian melewati lahan persawahan warga. Suprijanto harus kembali mengetuk pintu kesadaran warganya.
“Saya minta ke warga, rela nggak tanah sawahnya diminta sedikit buat jalan. Karena kalau cuma jalan setapak 1,5 meter kan kasihan,” katanya.
Perlahan, kesepakatan tercapai. Jalan yang dulu hanya setapak sempit kini berubah menjadi akses beton selebar dua meter dengan panjang sekitar 250 meter. Janji kepada pihak kepolisian pun ditepati.
“Begitu jembatan selesai dan diresmikan, satu-dua bulan kemudian jalan langsung kita cor. Karena saya janji,” ujarnya.
Warna biru muda yang kini mendominasi Jembatan Ngelo juga menyimpan cerita tersendiri.
Menurut Suprijanto, warna itu dipilih sebagai bentuk apresiasi warga kepada jajaran Direktorat Lalu Lintas yang menginisiasi.
“Biru itu identik dengan Polantas. Awalnya cuma bagian bawah saja yang dicat biru, sekarang semuanya kita cat. Itu bentuk terima kasih warga,” ucapnya.
Kini, manfaat jembatan itu melampaui dugaan awal. Tak hanya warga sekitar, masyarakat dari kampung lain hingga luar kecamatan ikut melintas.
“Sekarang bukan warga sini saja. Warga yang jauh-jauh juga lewat sini, karena lebih dekat daripada mutar jauh,” kata Suprijanto.
Sementara itu, Kombes Pol Alfian Nurrizal mengatakan bahwa proses pembangunan jembatan itu bermula dari sebuah laporan sederhana.
Bukan proposal resmi, bukan pula berkas tebal pengajuan proyek. Hanya kisah warga yang disampaikan seorang anggota kepolisian kepada dirinya saat menjabat sebagai Dirlantas Polda DIY.
Anggota tersebut melaporkan kondisi warga Parakan, Sidomulyo, Pengasih, Kulon Progo, yang selama puluhan tahun hidup tanpa akses jalan penghubung yang layak.
Untuk beraktivitas sehari-hari termasuk anak-anak yang hendak bersekolah warga harus menyeberangi sungai.
Namun ada satu cerita yang membuat Alfian benar-benar terenyuh.
“Yang paling menyentuh hati saya adalah cerita tentang seorang lansia yang harus menyeberangi sungai pada malam hari tanpa penerangan demi melaksanakan ibadah salat tarawih,” ungkap Alfian, saat dihubungi Tribun Jogja, Selasa (13/1/2026).
Berangkat dari cerita itulah, Alfian mulai mengupayakan solusi nyata. Ia berinisiatif membantu membangun jembatan agar warga memiliki akses yang lebih aman dan layak.
Niat tersebut ternyata disambut hangat oleh masyarakat dan pemerintah setempat.
Alih-alih menunggu lama, proses pembangunan justru berjalan cepat dengan mengedepankan semangat gotong royong.
“Alhamdulillah, niat tersebut disambut dengan sangat baik oleh masyarakat,” kata lulusan Akpol 2000 itu.
Pembangunan Jembatan Ngelo pun dilakukan bersama-sama.
Polisi, warga, dan berbagai pihak bahu-membahu, menyatukan tenaga dan kepedulian. Bagi Alfian, kebersamaan itu menjadi nilai penting dari jembatan tersebut.
“Proses pembangunan dilakukan secara gotong royong bersama warga setempat. Ini menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan,” tuturnya.
Kini, jembatan yang membentang di atas Sungai Kedunglo itu telah berdiri hampir tiga tahun dan menjadi akses vital bagi ratusan kepala keluarga.
Anak-anak tak lagi harus menyeberang sungai untuk bersekolah.
Warga tak perlu memutar jauh untuk beribadah. Dan para lansia bisa melangkah dengan tenang, tanpa rasa was-was.
“Alhamdulillah, semoga jembatan ini benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan menjadi jalan kemudahan bagi aktivitas sehari-hari warga,” tutupnya.
( tribunjogja/almurfi syofyan)