UAJY Kukuhkan Dua Guru Besar Program Studi Teknik Industri
January 13, 2026 05:01 PM

Laporan Reporter Tribun, Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN – Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) mengukuhkan dua guru besar yakni Prof. Dr. Ir. Parama Kartika Dewa SP., S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng. dan Prof. Dr. Eng., Ir. Ririn Diar Astanti, S.T., M.MT., IPM., ASEAN Eng.

Rektor UAJY, Dr. G. Sri Nurhartanto, S.H., LL.M mengatakan pengukuhan ini menambah jumlah guru besar Program Studi Teknik Industri menjadi lima.

Ia menyebut menjadi guru besar harus dipertanggungjawabkan. 

Para guru besar harus bisa mewarnai dan memposisikan dirinya sebagai lokomotif yang menarik gerbong-gerbong di bawahnya, khususnya dosen-dosen muda.

“Dengan dikukuhkannya dua guru besar ini, total Universitas Atma Jaya Yogyakarta memiliki 23 guru besar. Tentu ini sangat membanggakan. Apalagi di era sekarang, tuntutan untuk menambah guru besar terus didorong oleh pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi,” katanya usai Pengukuhan Guru Besar di Student Center UAJY, Selasa (13/1/2026).

Ia menyebut guru besar terbanyak di Fakultas Teknologi Industri yang memiliki 10 guru besar, 5 guru besar di Prodi Teknik Industri dan 5 guru besar di Prodi Teknik Informatika.

Saat ini, UAJY masih berproses untuk penambahan guru besar di Prodi Teknik Informatika dan Fakultas Hukum.

“Kami percaya dengan sarana dan prasarana yang dimiliki UAJY maka para guru besar akan bisa menarik yang muda-muda untuk lebih produktif, dan akhirnya menyusul menjadi guru besar,” ujarnya.

Baca juga: FK UAJY Bersama Gereja Babarsari dan Polda DIY Gelar Bakti Sosial Kesehatan

Pada kesempatan tersebut, Prof. Dr. Ir. Parama Kartika Dewa SP., S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng. menyampaikan pidato berjudul “Human-centric Supply Chain: Paaradigma Bagi Ketangguhan, Keberlanjutan, dan Keunggulan Operasional.

Ia mengungkapkan supply chain di era industri 4.0 mengalami peningkatan kualitas manajemen, perbaikan efisiensi, dan efektivitas.

Namun berdasarkan beberapa kajian dan evaluasi, supply chain di sektor manufaktur memiliki kelemahan dari aspek teknis, operasional, dan keamanan siber.

Era industri 5.0 digulirkan untuk menjawab beberapa kelemahan sebelumnya.

Keberadaan teknologi internet, komputer, dan kecerdasan buatan berdampak pada berkurangnya peran manusia di industri manufaktur. 

Kondisi tersebut berdampak pada supply chain yang menopang luaran manufaktur untuk meningkatkan kepuasan konsumen.

Ini menunjukkan peran manusia penting dalam menjalankan operasi manufaktur di era industri 5.0

“Human-centric dalam sektor manufaktur modern adalah konsep yang menempatkan kebutuhan dan kemampuan manusia sebagai pusat dari proses produksi dan teknologi. Ini merupakan salah satu pilar utama dari industri 5.0, yang berfokus pada kesejahteraan pekerja, keberlanjutan, dan ketahanan industri,” ungkapnya.

Berdasarkan observasi yang dihadapi pelaku usaha, masih banyak peluang riset yang bisa dilakukan berbasis kolaborasi riset kajian supply chain dengan ergonomi.

Ia berharap ke depan dapat memberikan kontribusi yang berdampak pada supply chain di Indonesia..

Sementara itu, Prof. Dr. Eng., Ir. Ririn Diar Astanti, S.T., M.MT., IPM., ASEAN Eng. Menyampaikan pidato berjudul “Metode Klasik dan Teknologi Kontemporer Dalam Mendukung Pengambilan Keputusan Industri Berbasis Data: Refleksi Keilmuan, Arah, dan Tantangan”.

Ia menjelaskan metode klasik yang menjadi pilar keilmuan Teknik Industri, selamanya akan relevan, selama pada sistem yang menjadi obyek kajian Teknik Industri, seperti faktor manusia, mesin,material, metode masih ada.

Di sisi lain, setiap metode pasti memiliki beberapa tahapan.

Oleh karena itu teknik dan teknologi kontemporer dapat  diekplorasi.

Menurut dia, masih terbuka banyak kesempatan untuk mengeksplorasi penggunaan meetode klasik dan teknik serta teknologi kontemporer untuk menyelesaikan permasalahan industri.

“Teknologi yang saat ini sudah ada, kemungkinan besar akan berkembang lagi di masa yang akan datang dalam waktu yang tidak terlalu lama. Dan perkembangan tadi menciptakan perubahan-perubahan, baik itu pada lingkungan individu, keluarga, masyarakat, organisasi maupun pada tatanan negara,” ujarnya. 

Perubahan pada semua aspek, menciptakan tantangan tersendiri. Untuk bertahan, individu maupun organisasi perlu beradaptasi. 

“Adaptasi bisa dilakukan jika semua memiliki kesadaran untuk terus belajar. Selain creative thinking dan critical thinking, kemampuan untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat (long life learner) menjadi ketrampilan yang penting dan dibutuhkan saat ini,” imbuhnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.