Spanyol Tribunjogja.com -- Ketika Real Madrid mengumumkan bahwa Álvaro Arbeloa Coca akan menjadi pelatih tim utama, seisi Santiago Bernabéu seakan merasakan getaran nostalgia bercampur harapan baru.
Arbeloa bukanlah sosok asing bagi Madridistas.
Ia adalah bek tangguh yang pernah mengenakan seragam putih kebanggaan antara tahun 2009 hingga 2016, tampil dalam 238 pertandingan resmi, dan menjadi bagian dari salah satu era paling gemilang dalam sejarah klub.
Bersama Los Blancos, ia mengangkat 8 trofi bergengsi: dua Liga Champions, satu Piala Dunia Antarklub, satu Piala Super UEFA, satu gelar LaLiga, dua Copa del Rey, dan satu Supercopa de España.
Namun kisah Arbeloa tidak berhenti di lapangan.
Setelah gantung sepatu pada 2017, ia kembali ke Real Madrid sebagai pembina generasi muda.
Sejak 2020, ia menapaki jalur kepelatihan dari bawah: memimpin tim U-14 A dan langsung mempersembahkan gelar liga, kemudian menangani U-16, hingga akhirnya dipercaya mengasuh U-19.
Di level junior, Arbeloa menunjukkan kapasitas luar biasa. Musim 2022–2023 menjadi puncak kejayaannya ketika ia membawa tim U-19 meraih treble: juara liga, Copa del Rey, dan Champions Cup.
Musim 2024–2025, ia kembali mempersembahkan gelar liga, bukti konsistensi dan kualitas kepemimpinannya.
Pada Juni 2025, ia naik ke kursi pelatih Castilla, dan kini, Januari 2026, ia resmi menempati posisi tertinggi: pelatih tim utama Real Madrid.
Sebagai pemain, Arbeloa juga bagian dari generasi emas Spanyol.
Ia mencatat 56 caps bersama La Roja, menjadi saksi sekaligus aktor dalam kemenangan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, serta dua kali mengangkat trofi Euro pada 2008
dan 2012.
Pengalaman internasional ini menambah bobot kepemimpinannya di ruang ganti.
Kini, tantangan besar menanti. Real Madrid bukan sekadar klub, melainkan institusi dengan ekspektasi langit.
Arbeloa harus menggabungkan kedisiplinan khas bek, semangat juang Madridista, dan visi modern yang ia pelajari di akademi.
Para pemain muda yang pernah ia latih kini bisa menjadi senjata rahasia, sementara bintang-bintang senior akan menguji otoritasnya.
Bagi Madridistas, penunjukan Arbeloa adalah kisah tentang kontinuitas dari pemain loyal, menjadi mentor generasi muda, hingga akhirnya dipercaya memimpin tim utama.
Seperti halnya sebuah pertandingan besar, babak pertama sudah dimulai.
Arbeloa kini berdiri di pinggir lapangan, siap mengatur strategi, memberi instruksi, dan membawa Real Madrid menuju kemenangan berikutnya.
• Raphinha Seniman Gol FC Barcelona di Final Supercopa: Man of the Match
Nama lengkap: Álvaro Arbeloa Coca
Tanggal lahir: 17 Januari 1983 (usia 42 tahun per Januari 2026)
Tempat lahir: Salamanca, Spanyol
Kewarganegaraan: Spanyol
Karier pemain terakhir: West Ham United (2016–2017), pensiun 1 Juli 2017
Formasi favorit sebagai pelatih: 4-3-3 menyerang
Rata-rata masa jabatan pelatih: ±2 tahun
Statistik Castilla (2025/26): 23 pertandingan → 12 menang, 3 seri, 8 kalah, poin rata-rata 1,70 per laga. (iwe)