Asal-usul Masjid Argomedjono di Tawangmangu Karanganyar, Konon Dibangun dengan Bantuan Sapi
January 13, 2026 05:13 PM

 

TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR - Tawangmangu, Karanganyar, yang berjarak 38 kilometer dari Solo, Jawa Tengah, tidak hanya dikenal dengan destinasi wisata alam sejuknya.

Di Tawangmangu, Tribuners bisa mengunjungi masjid tua yang sarat sejarah.

Berlokasi di kawasan lereng Gunung Lawu, masjid itu bernama Masjid Argomedjono, yang dipercaya masyarakat sebagai masjid tertua di Kecamatan Tawangmangu.

Baca juga: Asal-usul Masjid Golo di Paseban Bayat Klaten, Konon Katanya Dulu Dipindah dari Bukit

Masjid Argomedjono memiliki ciri khas yang mudah dikenali.

Bangunannya didominasi warna putih dan hijau, menghadirkan kesan bersih, sejuk, sekaligus menenangkan.

Yang paling mencolok adalah bentuk kubahnya yang berbeda dari masjid pada umumnya, menjadikan masjid ini memiliki karakter arsitektur yang unik dan khas.

Dibangun oleh Punggawa Keraton Surakarta

Masjid Argomedjono diyakini berdiri sekitar tahun 1939.

Berdasarkan kisah yang diwariskan secara turun-temurun, masjid ini didirikan oleh Eyang Sorodimedjo, seorang punggawa Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang dikenal masyarakat setempat dengan sebutan Mbah Soro.

Menurut Ketua Takmir Masjid Argomedjono, Bayu Abdul Karim, Eyang Sorodimedjo dahulu melakukan pengembaraan hingga ke wilayah Tawangmangu dan mendirikan sebuah padepokan.

Baca juga: Sejarah Capcay, Kuliner Kondang di Solo, Ternyata di China jadi Makanan Rakyat Miskin

Saat itu, Mbah Soro beribadah di sebuah gua yang berada di sebelah utara lokasi masjid sekarang.

Gua itu dinamakan Gua Soro.

Di sanalah Mbah Soro mendapatkan ilham untuk mendirikan masjid sebagai tempat ibadah masyarakat sekitar.

Setelah menerima ilham tersebut, Eyang Sorodimedjo kemudian mendirikan masjid dan menamainya Argomedjono.

Meski tidak diketahui secara pasti arti nama tersebut, masyarakat meyakini kata Argomedjono merujuk pada bangunan agung yang berdiri di lereng gunung.

Awalnya Masjid Agung Tawangmangu

Pada masa awal berdirinya, Masjid Argomedjono bahkan dikenal dengan nama Masjid Agung.

Masjid ini menjadi pusat ibadah warga se-Kecamatan Tawangmangu.

Dahulu warga dari berbagai wilayah, bahkan dari Blumbang dan daerah sekitarnya, datang ke masjid ini untuk melaksanakan salat.

Seiring perkembangan waktu dan bertambahnya jumlah penduduk, masjid-masjid lain mulai dibangun di berbagai wilayah Tawangmangu, sehingga Masjid Argomedjono tidak lagi menjadi satu-satunya pusat ibadah.

Baca juga: Sejarah Jenang Grendul, Kuliner Legendaris di Solo, Dipercaya Sudah Ada Sejak Kerajaan Hindu-Budha

Dibangun dengan Tenaga Sapi dan Manusia

Pembangunan Masjid Argomedjono juga menyimpan cerita unik.

Seluruh bahan bangunan masjid diketahui berasal dari Keraton Surakarta.

Pada masa itu, belum tersedia sarana transportasi modern untuk mengangkut material ke daerah pegunungan seperti Tawangmangu.

Bahan bangunan diangkut menggunakan tenaga sapi dari Surakarta hingga Karangpandan.

Setelah itu, material dibawa secara gotong royong oleh masyarakat dengan tenaga manusia menuju lokasi masjid.

Awalnya, ukuran bangunan hanya berukuran 7 x 7 meter, dengan teras sekitar 2 meter.

Baca juga: Sejarah Mie Nyemek, Kuliner Malam yang Populer di Solo

Mengalami Perluasan, Tapi Tetap Menjaga Keaslian

Seiring berjalannya waktu, Masjid Argomedjono mengalami perluasan.

Pada tahun 1991, Yayasan Amal Mulya melakukan pengembangan bangunan secara bertahap hingga bentuknya seperti sekarang. Meski demikian, bagian inti masjid tetap dipertahankan keasliannya.

Hingga kini, sejumlah bagian asli masih terjaga, seperti ruang utama masjid, beduk, kentongan, kusen jendela, dan ornamen dalam.

Sebuah beduk dan kentongan bertuliskan “1927–Belik” masih berdiri kokoh di serambi masjid.

Di serambi juga terdapat dua prasasti bersejarah.

Baca juga: Asal-usul Kampung Batik Laweyan Solo : Berkembang Mulai Abad ke-15, Kini jadi Destinasi Wisata

Salah satunya mencatat perluasan masjid oleh Yayasan Amal Mulya pada 1 Oktober 1991.

Prasasti lainnya memuat penanggalan Jawa dan Hijriah yang menunjukkan nilai historis dan spiritual masjid ini.

Masjid Tua yang Terawat dan Aktif

Meski telah berusia lebih dari 80 tahun, kondisi Masjid Argomedjono terbilang sangat terawat.

Halaman masjid yang kini tertutup kanopi tampak bersih dan rapi.

Toilet serta tempat wudu di sisi kanan dan kiri masjid juga terjaga kebersihannya.

Masjid ini terbuka untuk umum.

Siapa pun, termasuk pendatang dan wisatawan, diperbolehkan beribadah di ruang utama. Bahkan di luar waktu salat berjamaah, pintu pemisah serambi dan ruang utama tetap terbuka.

Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Argomedjono juga aktif memakmurkan lingkungan sekitar.

Baca juga: Asal-usul Dukuh Mao di Klaten : Ada Sejak Mataram Kuno, Punya Mitos Dilarang Tanam Pohon Pisang

Berbagai kegiatan rutin digelar, seperti TPA untuk anak-anak, kajian subuh, kajian keluarga berkah, hingga angkringan berkah, di mana hasil keuntungannya digunakan untuk mendukung kegiatan masjid.

Diusulkan sebagai Benda Cagar Budaya

Dengan usia bangunan yang telah melampaui 50 tahun serta nilai sejarah yang kuat, Masjid Argomedjono sempat diusulkan sebagai Benda Cagar Budaya (BCB) Kabupaten Karanganyar.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Karanganyar telah melakukan pendataan dan kajian kelayakan bersama tim ahli.

  • Lokasi : Jalan Ngunut, Nano, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah.
  • Berjarak 39 kilometer dari Kota Solo, bisa ditempuh kurang lebih 1 jam 10 menit kendaraan pribadi.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.