Usai Banjir Rusak Sekolah, Siswa SDN 49 Batang Kabung Tetap Semangat Ikuti Belajar di Ruang Pinjaman
January 13, 2026 07:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Raut wajah Suryani tampak tegar meski di balik matanya tersimpan duka mendalam saat menatap satu per satu siswanya.

Wali kelas 5 SDN 49 Batang Kabung, Kota Padang ini, kini harus terbiasa dengan suasana baru mengajar di dalam ruangan milik Puskesmas Pembantu (Pustu).

Bencana banjir bandang yang melanda akhir November lalu bukan hanya menghancurkan bangunan sekolah tempatnya mengabdi, tapi melenyapkan segalanya tanpa sisa. 

Sekolah yang dulu riuh dengan tawa anak-anak, kini telah berubah rupa menjadi aliran sungai yang deras.

Baca juga: Lenyapnya SDN 49 Batang Kabung Padang, Saat Ruang Kelas Berubah Menjadi Aliran Sungai

PASCA BANJIR PADANG: Meski kehilangan gedung sekolah secara permanen, semangat para siswa dan guru SDN 49 Batang Kabung tidak ikut hanyut terbawa arus. Para siswa-siswi  kini menempati gedung Puskesmas Pembantu (Pustu) Batang Kabung dan TK Negeri 5 sebagai lokasi sementara, Selasa (13/1/2026).
PASCA BANJIR PADANG: Meski kehilangan gedung sekolah secara permanen, semangat para siswa dan guru SDN 49 Batang Kabung tidak ikut hanyut terbawa arus. Para siswa-siswi kini menempati gedung Puskesmas Pembantu (Pustu) Batang Kabung dan TK Negeri 5 sebagai lokasi sementara, Selasa (13/1/2026). (Padang.tribunnews.com/Arif Ramanda Kurnia)

"Bangunannya sudah tidak ada yang tersisa sedikit pun. Benar-benar habis dihondoh (dihantam) banjir dan sekarang lokasinya sudah jadi sungai," ujar Suryani dengan nada lirih saat berbincang dengan TribunPadang, Selasa (13/1/2026).

Meski kehilangan "rumah" kedua, Suryani tidak ingin larut dalam kesedihan. Baginya, pendidikan anak-anak harus tetap tegak berdiri meski sekolah mereka telah hanyut. 

Sejak dua minggu terakhir, siswa-siswinya menempati lantai dua gedung Pustu Batang Kabung untuk melanjutkan proses belajar mengajar (PBM).

Di gedung Pustu yang kini dialihfungsikan sebagian menjadi kelas, para guru mencoba menata ruang seadanya. 

Baca juga: Sekolah Rata Jadi Sungai, Siswa SDN 49 Batang Kabung Padang Kini Naik Tangga Puskesmas Demi Belajar

Identitas kelas hanya ditandai dengan secarik kertas sederhana yang ditempel di depan pintu masuk. 

Perjuangan Suryani dan rekan-rekan sesama guru dimulai sejak ujian Asesmen Sumatif Akhir Semester (ASAS) Desember lalu. 

Di tengah trauma banjir yang masih basah, mereka harus membawa seluruh siswa menumpang ujian di SD IT Buah Hati karena belum memiliki tempat bernaung.

"Kemarin saat ujian, kami menumpang ke tempat lain. Sekarang sudah dua minggu kami di sini (Pustu). Alhamdulillah, anak-anak tetap semangat belajar meski ruangannya berganti-ganti," kenang Suryani.

Baca juga: SDN 05 Batang Anai Padang Pariaman Roboh, Sekolah Setuju Relokasi demi Hindari Bencana Susulan

Meski penuh keterbatasan, Suryani tetap bersyukur. Di ruangan darurat itu, ia melihat keceriaan yang tak luntur dari wajah anak-anaknya. 

Ada yang asyik menggambar, ada pula yang serius menyimak pelajaran Bahasa Indonesia di tengah suara kipas angin yang menderu.

"Tempat sekarang pun bagus, ada atap yang kokoh dan kipas supaya tidak panas. Yang penting bagi kami, anak-anak bisa belajar dengan nyaman dan kegiatan Pustu di bawah tidak terganggu," tambahnya.

Harapan untuk memiliki gedung baru mulai menemui titik terang. Pemerintah daerah dikabarkan sedang mengurus administrasi serta surat-surat terkait pemanfaatan sebuah fasilitas umum untuk dibangun kembali menjadi gedung SDN 49 Batang Kabung yang permanen.

Baca juga: 94 Siswa SDN 05 Batang Anai Ujian Semester di Musala Usai Sekolah Ambruk Dihantam Banjir dan Longsor

Kepedulian dari berbagai lapisan masyarakat juga terus mengalir. Bantuan dari berbagai pihak mulai berdatangan untuk menyokong kebutuhan sekolah dan siswa, mulai dari alat tulis hingga perlengkapan pendukung lainnya demi memastikan pendidikan tidak terhenti pascabencana.

Bagi Suryani, setiap langkah kaki siswa yang datang ke Pustu adalah bukti bahwa semangat belajar tidak bisa dihanyutkan oleh banjir bandang. 

Setiap bantuan yang datang adalah pesan bahwa mereka tidak sendirian dalam memperjuangkan masa depan anak-anak di tengah kepungan sisa bencana. (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.