Profil Gereja Katolik Santo Theresia Kefamenanu TTU, Saksi Sejarah Iman di Jantung Kota
January 13, 2026 07:47 PM

TRIBUNFLORES.COM, KEFAMENANU – Gereja Katolik Santo Theresia Kefamenanu merupakan salah satu gereja tertua sekaligus paling bersejarah di Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur. 

Gereja ini dibangun pada tahun 1938, jauh sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia berdiri dan hingga kini tetap kokoh menjadi pusat kehidupan rohani umat Katolik di wilayah tersebut.

Berlokasi strategis di Jalan Yos Sudarso, pusat Kota Kefamenanu, Gereja Santo Theresia sangat mudah diakses oleh masyarakat. Letaknya yang berdampingan dengan rumah jabatan Wakil Bupati TTU menjadikan gereja ini bukan hanya ikon religius, tetapi juga bagian tak terpisahkan dari denyut sejarah dan perkembangan kota.

Sebagai gereja induk di wilayah Kefamenanu, Gereja Santo Theresia memiliki bangunan yang luas dan kokoh. Ukurannya mencerminkan jumlah umat Katolik di Kabupaten Timor Tengah Utara yang cukup signifikan, di mana agama Katolik menjadi mayoritas masyarakat setempat.

 

Baca juga: Pesona Gereja Katolik Santo Mikhael Kumba Ruteng Jadi Sorotan Warga

 

 

Dalam kehidupan pastoral, Gereja Santo Theresia Kefamenanu secara rutin menggelar perayaan Ekaristi setiap hari Minggu. Misa pagi dilaksanakan pada pukul 06.00 dan 08.00 Wita, sementara misa sore digelar pada pukul 17.00 Wita. Setiap perayaan selalu dihadiri umat dari berbagai penjuru Kota Kefamenanu dan wilayah sekitarnya.

Tak hanya menyimpan nilai sejarah, Gereja Santo Theresia Kefamenanu juga memiliki nilai artistik yang tinggi. Interior gereja ditata dengan indah dan sarat makna iman, menciptakan suasana doa yang khidmat dan menenangkan. Keindahan arsitektur interior ini menegaskan gereja sebagai ruang ibadah yang sakral sekaligus warisan iman lintas generasi.

Selama lebih dari delapan dekade, Gereja Katolik Santo Theresia Kefamenanu terus berdiri teguh sebagai saksi perjalanan iman umat Katolik di Timor Tengah Utara, memadukan sejarah, seni, dan spiritualitas di jantung Kota Kefamenanu.

Pusat Dekenat Kefamenanu

Selain berperan sebagai pusat paroki, Gereja Santo Theresia Kefamenanu juga menjadi pusat Dekenat Kefamenanu. Dekenat ini pada awalnya bernama Dekenat Timor Tengah Utara (TTU), yang meliputi seluruh wilayah Kabupaten TTU.

Dekenat TTU didirikan berdasarkan Surat Keputusan Uskup Atambua pada 26 Juli 1954. Gagasan pembentukan dekenat ini dicetuskan oleh Uskup Atambua saat itu, Mgr. Jacobus Passers, SVD, dengan sejumlah alasan mendasar.

Pertama, di wilayah TTU telah berdiri beberapa paroki, yakni Paroki Hati Yesus Yang Maha Kudus Noemuti, Paroki Santa Maria Mediatrix Omnium Gratiarum Kiupukan, dan Paroki Santa Theresia Kefamenanu. Ketiga paroki tersebut sebelumnya dikoordinasi langsung oleh Keuskupan Atambua. Namun, jarak yang jauh serta keterbatasan sarana transportasi mendorong perlunya pembentukan dekenat untuk meningkatkan efektivitas koordinasi pastoral.

Kedua, jumlah umat Katolik di wilayah TTU yang tersebar luas dari Lurasik hingga Naekake, serta dari Mena dan Haumeni hingga Noemuti terus bertambah. Kondisi ini menuntut pemekaran paroki-paroki baru yang lebih terorganisasi dalam satu wilayah dekenat.

Ketiga, alasan paling mendasar adalah kebutuhan pendekatan pelayanan pastoral yang lebih dekat kepada umat Allah di seluruh Kabupaten TTU. Pada masa itu, pelayanan pastoral masih berpusat di Atambua sehingga membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang besar, bahkan kerap berlangsung berbulan-bulan.

Pemilihan Kefamenanu sebagai Pusat Dekenat

Melansir berbagai sumber, gagasan menjadikan Kefamenanu sebagai pusat dekenat mendapat dukungan dari Dewan Keuskupan dan umat Katolik TTU, meskipun sempat muncul perdebatan terkait lokasi pusat dekenat. Sebagian pihak mengusulkan Paroki Hati Yesus Yang Maha Kudus Noemuti sebagai pusat dekenat karena merupakan paroki tertua.

Namun, secara geografis Paroki Noemuti dinilai kurang strategis karena berada di pinggiran wilayah TTU dan relatif sulit dijangkau dalam hal komunikasi dan transportasi.

Atas pertimbangan tersebut, Kefamenanu akhirnya dipilih sebagai pusat Dekenat TTU karena lokasinya berada di pusat kota dan mudah diakses dari seluruh penjuru wilayah TTU, baik dari utara, selatan, timur, maupun barat.

Dengan terpilihnya Kefamenanu sebagai pusat dekenat, pada 26 Juli 1954 Uskup Atambua, Mgr. Jacobus Passers, SVD, secara resmi mengesahkan berdirinya Dekenat Timor Tengah Utara.

Dalam keputusan tersebut, Pastor Theodorus van den Tilaart, SVD—yang saat itu menjabat sebagai Pastor Paroki Santa Theresia Kefamenanu sekaligus Rektor SVD Wilayah TTU diangkat sebagai Deken TTU pertama.

Sejak saat itu, Gereja Katolik Santo Theresia Kefamenanu tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga pusat penggerak kehidupan pastoral dan iman umat Katolik di seluruh Kabupaten Timor Tengah Utara.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.