TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT – Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Kotawaringin Timur (Kotim), AKBP Muhamad Fadli, mengungkapkan bahwa keresahan warga di kawasan eks Golden soal maraknya transaksi narkoba di Kelurahan Mentawa Baru Hulu, Kecamatan MB Ketapang itu karena faktor keamanan.
Hal tersebut terungkap saat BNNK Kotim bersama DPRD Kotim, TNI/Polri, Gerakan Dayak Anti Narkoba (GDAN), serta unsur pemerintah daerah turun langsung ke lapangan, Selasa (13/1/2026).
Menurut Fadli, kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari rapat konsolidasi lintas sektor yang digelar pada 1 Desember 2025, di mana seluruh pihak sepakat tidak lagi hanya bergerak di atas kertas, melainkan hadir langsung di tengah masyarakat.
Baca juga: Presiden RI Resmikan 166 Sekolah Rakyat, Wali Kota Fairid Naparin Sebut Investasi Masa Depan Bangsa
Baca juga: Kabar Transfer Pemain Liga Inggris, Arsenal Incar Pedri 2.0 Dari Brasil Breno Bidon
Baca juga: Man United Siap Bayar Mahal Demi Datangkan Kenan Yildiz, Bruno Fernandes Diminati Klub Arab
“Kegiatan hari ini adalah tindak lanjut rapat konsolidasi kemarin. Kita sepakat untuk turun langsung ke lapangan, melihat sendiri kondisi di belakang eks Golden,” kata AKBP Muhamad Fadli.
Ia menegaskan kehadiran pemerintah dan aparat penegak hukum di lokasi merupakan pesan kuat bahwa negara tidak tinggal diam menghadapi persoalan narkoba.
“Pemerintah ada di mana-mana. Pemerintah hadir untuk membantu masyarakat dalam penegakan hukum terhadap peredaran narkoba,” ujarnya.
Fadli mengungkapkan, warga sebenarnya mengetahui adanya transaksi narkoba, namun memilih diam karena takut mengambil risiko.
“Kegelisahan masyarakat itu nyata. Ada transaksi narkoba, tapi mereka diam saja. Yang penting keluarga mereka aman, tidak terlibat dan tidak diganggu,” ungkapnya.
Karena itu, warga berharap ada kehadiran nyata aparat dan pemerintah yang bersatu dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, hingga unsur pemuda.
Sebagai tindak lanjut, BNNK Kotim merencanakan pembentukan posko terpadu di kawasan eks Golden, sesuai aspirasi warga yang telah tinggal bertahun-tahun di wilayah tersebut.
“Posko terpadu ini nantinya diisi oleh aparat kepolisian, TNI, elemen masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, dan juga BNNK. Ini langkah awal, dan akan berkelanjutan,” jelas Fadli.
Ia juga meluruskan bahwa mayoritas pelaku transaksi narkoba di kawasan itu bukanlah warga setempat.
“Yang menjual dan membeli itu orang luar. Mereka hanya memanfaatkan tempat kosong di belakang Golden yang tidak digunakan,” katanya.
Terkait adanya kelompok mencurigakan saat rombongan tiba di lokasi, Fadli menyebut tidak ditemukan transaksi secara langsung, namun gelagat mereka sudah cukup mencurigakan.
“Ada beberapa kelompok pakai motor. Begitu melihat kita datang bersama-sama, mereka langsung putar balik dan kabur. Teman-teman dari Satresnarkoba Polres Kotim sempat mendekat, tapi mereka sudah lebih dulu lari,” ujarnya.
Kasat Narkoba Polres Kotim, AKP Suherman, memastikan pihaknya mendukung penuh langkah kolaboratif yang digagas BNNK Kotim bersama pemerintah daerah dan elemen masyarakat.
"Tentunya kita dukung penuh, karena kita juga berharap lokasi ini (eks Golden Sampit) bisa bebas dari narkoba," bebernya.
Sementara itu, Ketua Gerakan Dayak Anti Narkoba (GDAN) Kotim, Ririn, menilai pembentukan posko terpadu merupakan langkah efektif, merujuk pada keberhasilan penanganan kawasan Puntun di Palangkaraya.
“Puntun itu dulu jauh lebih besar kasusnya. Dengan posko terpadu yang dijaga TNI, Polri, dan aparat adat, dalam waktu sekitar tiga bulan jalur transaksi bisa diputus,” katanya.
Menurut Ririn, konsep serupa sangat memungkinkan diterapkan di eks Golden.
“Kalau posko berdiri di titik-titik tertentu dan dijaga konsisten, orang luar tidak berani jualan, pembeli juga tidak berani datang. Saya yakin kawasan ini bisa bersih,” tegasnya.
Dengan langkah kolaboratif ini, kawasan eks Golden diharapkan tidak lagi dikenal sebagai titik rawan narkoba, melainkan menjadi wilayah yang aman dan bermartabat bagi warganya.