WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Tifauzia Tyassuma alias Dokter Tifa melontarkan pernyataan kontroversial terkait akun media sosial anonim bernama Fufufafa yang selama ini ramai diperbincangkan.
Ia mengklaim akun tersebut 99,9 persen dimiliki oleh Gibran Rakabuming Raka yang kini merupakan Wakil Presiden, berdasarkan serangkaian analisis perilaku dan neurosains yang tengah disusunnya dalam sebuah buku.
Pernyataan itu disampaikan Dokter Tifa saat mendatangi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk menagih kejelasan hukum atas surat keterangan penyetaraan pendidikan yang pernah diterbitkan untuk Gibran, Senin (12/1/2026).
Baca juga: Dokter Tifa Klaim Akun Fufufafa Milik Gibran Sesuai Analisis Neurosains, Sebut Terindikasi Insomnia
Ia juga memaparkan rencana peluncuran buku trilogi bertajuk Branch Black Paper, sebuah karya kolaboratif yang mengulas sosok Gibran dari berbagai sudut pandang.
Trilogi tersebut terdiri dari tiga bagian, yang ditulis Roy Suryo, dirinya serta satu buku lain oleh Rismon Sianipar.
Menurut Tifa, buku yang ia tulis berfokus pada analisis neuroscience behavior, neuropolitik, dan psikologi forensik terhadap ribuan unggahan akun Fufufafa yang pernah muncul di forum Kaskus dan media sosial.
“Saya melakukan analisis perilaku otak dan pola psikologis dari tulisan-tulisan akun Fufufafa. Ada indikasi kuat masalah pada aspek neuroscience behavior,” ujar Tifa, seperti ditayangkan Kompas TV, Senin.
Salah satu temuan paling mencolok yang diungkap Dokter Tifa adalah pola aktivitas unggahan akun Fufufafa yang dianggap tidak wajar secara klinis.
Ia menyoroti sebuah cuitan yang diklaim belum pernah terpublikasi sebelumnya, tertanggal 23 Juni 2014 pukul 01.57 WIB.
"Penulis ini mencuit pada tengah malam lewat. Secara medis, ini mengindikasikan adanya problem insomnia atau gangguan tidur pada subjek tersebut," ujar Dokter Tifa.
Cuitan yang dibedah tersebut berisi narasi satir dan sarkastik yang menyerang Prabowo Subianto, rival politik ayah Gibran kala itu, dengan menyinggung aspek personal, mulai dari hobi koleksi kuda hingga sindiran fisik yang tajam.
Metode Neuroscience Behavior: Membedah "Isi Kepala" Digital
Untuk memperkuat klaimnya, Dokter Tifa menggunakan Neuroscience Behavior (Sains Perilaku Saraf), yakni cabang ilmu yang mempelajari hubungan antara fungsi otak, sistem saraf, dan perilaku yang tampak.
Dalam konteks Fufufafa, metode ini digunakan untuk memetakan "sidik jari mental" melalui tiga aspek utama, yakni:
-Pola Impulsivitas: Penggunaan diksi kasar dan sarkasme berulang menunjukkan aktivitas amygdala (pusat emosi) yang lebih dominan dibanding prefrontal cortex (pusat logika).
-Ritme Sirkadian: Cuitan pukul 01.57 WIB menunjukkan gangguan tidur yang secara kronis dapat menurunkan fungsi frontal lobe, sehingga seseorang sulit menyaring ucapan atau menahan diri dari tindakan impulsif di ruang publik.
-Neuropolitika: Bagaimana otak merespons figur otoritas yang mencerminkan sikap batin dan persepsi kekuasaan di dalam memori subjek.
-Analisis Neuro-Politika: Klaim Identitas 99,9 Persen
Dokter Tifa menjelaskan bahwa risetnya mengombinasikan temuan teknis Roy Suryo dengan analisis perilaku saraf.
Dari total sekitar 5.000 cuitan, ia melakukan kurasi terhadap 50 unggahan paling signifikan untuk memetakan profil psikologis sang pemilik akun.
"Hasil analisis kami menunjukkan indikasi kuat. Saya berani katakan ada bukti bahwa akun Fufufafa ini 99,9 persen identik dengan Gibran Rakabuming Raka," tegasnya.
Baca juga: Dokter Tifa Ancam Pidanakan Faizal Assegaf, Bantah Terima Uang di Kasus Jokowi
Menurutnya, meskipun identitas digital bisa disamarkan, pola perilaku saraf, seperti gaya bicara dan waktu aktif, sangat sulit dipalsukan secara konsisten dalam jangka waktu lama.
Dokter Tifa menekankan bahwa seluruh hasil pembedahan klinis terhadap cuitan selektif tersebut akan disajikan secara komprehensif dalam bukunya.
Ia mengajak publik untuk melihat kasus ini sebagai kajian akademik mengenai integritas dan profil kejiwaan seorang pemimpin.
"Silakan nanti masyarakat menilai sendiri hasil analisis saya di buku Gibran Black Brain. Ini adalah upaya kami memberikan edukasi dari sudut pandang sains terhadap fenomena yang terjadi," tutupnya.
Hingga saat ini, pihak Istana maupun Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka belum memberikan tanggapan resmi terkait klaim analisis neuroscience yang dilontarkan oleh Dokter Tifa tersebut.
Ngantukan
Sebelumnya dokter Tifa, melontarkan terkait Gibran yang disebut komika Pandji Pragiwaksono memiliki mata ngantukan dalam materi lawakannya.
Dokter Tifa menyinggung perdebatan seputar istilah 'ngantukan' yang diucapkan komika Panji Pragiwaksono atas mata Wapres Gibran, dengan istilah medis 'ptosis' yang sempat diungkapkan dokter Tompi dan ramai diperbincangkan publik.
Menurut dokter Tifa, label 'ngantukan' yang dikatakan Pandji justru lebih ringan dibandingkan penyebutan ptosis, yang dalam dunia medis memiliki implikasi lebih serius.
Ia menegaskan bahwa dalam pendekatan Evidence Based Medicine (EBM), ptosis tidak sekadar persoalan kelopak mata turun, melainkan bisa berkaitan dengan kondisi kesehatan tertentu.
“Lebih baik dikatain ngantukan dong daripada ptosis,” tulis dr Tifa dalam pernyataan di akun X-nya @DokterTifa, Kamis (8/1/2026).
Dokter Tifa menjelaskan sejumlah penelitian berbasis bukti ilmiah menunjukkan adanya keterkaitan antara ptosis dengan masalah dan gangguan yang lebih serius.
"Evidence Based Medicine, basis bukti ilmiah yang jadi rujukan dokter seluruh dunia membuktikan, bahwa ptosis berhubungan dengan gangguan mental, depresi, bipolar, scizopenia, dan penggunaan psikotropika atau narkoba," kata dokter Tifa.
Menurut Dr Tifa riset tersebut melibatkan lebih dari 4.000 subjek, yang menurutnya membuat temuan tersebut sangat valid dan sulit dibantah.
Ia pun mempertanyakan istilah mana yang lebih dapat diterima oleh Gibran, antara disebut “ngantukan” oleh Panji atau “ptosis” oleh kalangan medis.
"Jadi, Gibran lebih suka disebut Ngantukan sama Panji atau Ptosis sama dr Tompi?" ujar dokter Tifa.
Dokter Tifa juga mempromosikan buku terbarunya berjudul GIBRAN’S BLACK BRAIN.
Buku itu diklaim akan mengupas perilaku dan pola pikir pemimpin melalui pendekatan neuroscience behavior, epidemiologi perilaku, dan neuropolitik.
"SEGERA! MEMBEDAH ISI OTAK FUFUFAFA, APA ISINYA? Baca buku GIBRAN'S BLACK BRAIN! Bagaimana Ilmu Neuroscience Behavior, Epidemiologi Perilaku, dan Neuropolitika menjadi pisau dan gunting yang tajam dalam membedah isi otak seseorang yang terpaksa harus diterima sebagai pemimpin negara ini," kata Tifa.
Buku tersebut disebut dokter Tifa sebagai kelanjutan dari karya sebelumnya, JOKOWI’S WHITE PAPER.
Dalam narasinya, dr Tifa menyatakan buku itu ditujukan sebagai upaya kritis untuk memahami kepemimpinan nasional agar “kesalahan fatal” tidak terulang kembali dalam sejarah bangsa.
Ia menyebut karya tersebut akan menjadi pisau analisis untuk membedah perilaku figur publik yang, menurutnya, terpaksa harus diterima sebagai pemimpin negara.
"Cukup sekali ini saja sebuah kesalahan fatal! Jangan sampai ada lagi jejak hitam menodai sejarah bangsa ini," katanya.
Pernyataan dr Tifa ini kembali memantik reaksi publik karena memadukan isu kesehatan, politik, dan kritik personal terhadap pejabat negara.