Staf Kedutaan Prancis Sudah Angkat Kaki, Gedung Putih: Trump Isyaratkan Opsi Serangan Udara ke Iran
TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Amerika Serikat (AS) Senin (12/1/2026) mengkonfirmasi kalau Presiden AS, Donald Trump tetap mempertimbangkan opsi melancarkan serangan udara terhadap Iran.
Gedung Putih, Kantor Kepresidenan AS, beralasan, kemungkinan serangan ke Teheran ini sebagai respons atas aksi represif Iran terhadap demonstrasi anti-pemerintah.
Baca juga: Khamenei Unggah Foto Trump Seperti Firaun, AS Beri Kode Serang Iran Paling Cepat Pekan Depan
Meski menjadikan penyerangan sebagai opsi utama, AS, kata pihak Gedung menyatakan tetap mempertahankan komunikasi diplomatik terbuka dengan Teheran.
"Presiden Trump sangat pandai menjaga semua opsi tetap terbuka. Serangan udara akan menjadi salah satu dari banyak opsi yang tersedia bagi Panglima Tertinggi Militer AS," kata
Juru bicara Gedung Putih Caroline Leavitt,
Levitt menekankan dalam pernyataannya kepada wartawan bahwa "diplomasi selalu menjadi pilihan pertama presiden,".
Dia menambahkan, "Apa yang Anda dengar secara publik dari rezim Iran sangat berbeda dari pesan-pesan yang diterima pemerintah... dan saya pikir presiden tertarik untuk mempelajari pesan-pesan tersebut."
Teheran sebelumnya mengumumkan pada Senin kalau mereka siap untuk bernegosiasi dan juga siap untuk perang.
Pernyataan ini dikeluarkan setelah Trump mengancam intervensi militer jika para pengunjuk rasa dibunuh.
Kementerian Luar Negeri Iran mengkonfirmasi bahwa terdapat saluran komunikasi yang "terbuka" dengan Utusan Khusus Presiden AS, Steve Wittkopf.
Trump mengkonfirmasi pada hari Minggu Washington sedang mempertimbangkan "beberapa opsi yang sangat kuat," dan menambahkan, "Kami akan membuat keputusan" mengenai kemungkinan intervensi militer.
Dia menjelaskan bahwa pimpinan Iran menghubunginya untuk "bernegosiasi" setelah dia mengancam akan melakukan aksi militer.
Dia menambahkan: "Para pemimpin Iran menelepon kemarin.... persiapan sedang dilakukan untuk sebuah pertemuan... mereka ingin bernegosiasi," tetapi "kita mungkin harus bertindak sebelum pertemuan itu berlangsung."
Sinyalemen segeranya serangan udara AS ke Iran ditandai oleh kepulangan sejumlah staf diplomatik negara-negara lain di Teheran.
Terbaru, staf diplomatik di kedutaan Prancis di Teheran telah meninggalkan wilayah Iran.
"Status staf diplomatik yang meninggalkan Iran adalah "staf secondary". Mereka keluar dari negara ini karena protes (demonstrasi meluas) di Iran," menurut dua sumber pada Senin malam.
Kedua sumber tersebut menjelaskan kalau para karyawan kedutaan ini meninggalkan Iran dalam dua kelompok, pada hari Minggu dan Senin, tanpa menyebutkan jumlah mereka. Dalam keadaan normal, kedutaan di Teheran mempekerjakan 30 warga negara Prancis, di samping beberapa lusin staf lokal.
(oln/khbrn/*)