Trump Ancam Caplok Greenland, Warga Nuuk Tegas Tolak Jadi Orang Amerika
January 14, 2026 04:38 AM

 

TRIBUNNEWS.COM - Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump tentang keinginannya untuk mengakuisisi Greenland memicu kegelisahan di pulau Arktik tersebut.

Warga dan para pemimpin politik Greenland secara terbuka menolak gagasan itu dan menegaskan bahwa mereka tidak ingin menjadi bagian dari Amerika Serikat.

Meningkatnya perhatian internasional terlihat dari padatnya permintaan wawancara terhadap Aaja Chemnitz, politisi Greenland yang menjabat sebagai anggota parlemen di Denmark.

Dalam situasi yang sibuk dan penuh tekanan, Chemnitz mengatakan bahwa wacana pencaplokan Greenland telah menyentuh persoalan paling mendasar bagi masyarakat setempat.

“Greenland tidak untuk dijual dan tidak akan pernah dijual,” kata Chemnitz dari Partai Inuit Ataqatigiit kepada Al Jazeera, Rabu (14/1/2026).

Ia menegaskan Greenland bukan sekadar wilayah, melainkan identitas yang mencakup bahasa, budaya, dan cara hidup masyarakatnya.

Menurutnya, menjadi warga negara Amerika bukanlah sesuatu yang diinginkan mayoritas warga Greenland.

Nada serupa disampaikan anggota parlemen Greenland lainnya, Aki-Matilda Hoegh-Dam dari Partai Naleraq.

Ia menyebut situasi saat ini sebagai masa yang penuh ketidakpastian bagi sekitar 56.000 penduduk Greenland.

Selama ratusan tahun, Greenland relatif terisolasi dari dinamika politik global, namun kini tiba-tiba menjadi pusat perhatian dunia.

“Kami merasa terpojok, dan itu membuat banyak orang cemas,” kata Hoegh-Dam.

Baca juga: Kongres AS Ajukan RUU Pencaplokan Greenland Jadi Negara Bagian AS ke-51

Ia menambahkan bahwa semua partai politik di Greenland sepakat menolak menjadi orang Amerika maupun orang Denmark.

“Kami ingin menjadi orang Greenland. Kami sudah punya satu penjajah. Kami tidak membutuhkan yang baru,” ujarnya.

Trump Ingin Caplok Greenland

Sejak Desember, Trump kembali menyuarakan keinginannya untuk mengakuisisi Greenland, sebuah gagasan yang pernah ia lontarkan pada 2017.

Kali ini, pemerintahannya bahkan mengisyaratkan bahwa opsi militer tidak sepenuhnya dikesampingkan, sehingga memperburuk hubungan antara Amerika Serikat dan Kerajaan Denmark.

Meskipun Greenland memiliki pemerintahan sendiri sejak 2009, urusan pertahanan dan kebijakan luar negeri masih berada di bawah kendali Denmark.

Kondisi ini membuat ketegangan dengan Amerika Serikat menjadi persoalan sensitif bagi Kopenhagen dan Nuuk.

Komentator politik Denmark, Hans Engell, menyebut situasi ini sebagai krisis hubungan luar negeri terburuk bagi Denmark sejak Perang Dunia II.

Ia menilai sulit menemukan solusi yang benar-benar menguntungkan semua pihak.

Trump beralasan bahwa Greenland penting bagi keamanan nasional Amerika Serikat.

Pulau itu memang memiliki posisi strategis dan menyimpan cadangan mineral langka serta potensi minyak di bawah lapisan esnya.

Sejumlah pengamat menilai sumber daya alam tersebut menjadi alasan utama ketertarikan AS, sementara yang lain melihat Trump tengah mengejar warisan politik sebagai presiden yang memperluas wilayah Amerika.

Kekhawatiran masyarakat Greenland semakin besar setelah Trump menyatakan bahwa ia lebih mementingkan “kepemilikan” daripada sekadar kendali.

Hoegh-Dam mengatakan sebagian warga tidak menganggap ancaman itu serius, tetapi banyak pula yang merasa takut hingga sulit tidur.

“Situasinya makin sulit karena Presiden Amerika tidak mengikuti aturan internasional seperti biasanya,” ujarnya.

Baca juga: Greenland Tegas Tolak Invasi AS, Uni Eropa Siap Kerahkan Militer Bantu Denmark

Meski Trump menyebut lebih memilih kesepakatan tanpa kekerasan, sejarah mencatat Amerika Serikat pernah beberapa kali mencoba membeli Greenland, termasuk pada 1868 dan 1946.

Denmark selalu menolak gagasan tersebut.

Tekanan terbaru dari Washington dinilai lebih mengkhawatirkan.

Pemimpin redaksi media Greenland Sermitsiaq, Masaana Egede, mengatakan bahwa tekanan politik semacam ini sangat meresahkan, terutama karena datang langsung dari Trump.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Denmark dan Greenland telah meminta pertemuan dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.

Pertemuan itu dinilai penting untuk memperjelas sikap dan niat Amerika Serikat.

Hoegh-Dam berharap pertemuan tersebut dapat mempertegas bahwa Greenland bukan wilayah yang bisa diperjualbelikan.

Ia menegaskan bahwa masyarakat Greenland adalah bangsa yang bangga dan teguh mempertahankan jati diri mereka.

Baca juga: 5 Populer Internasional: Demo di Iran Memanas - Usaha NATO Lindungi Greenland dari AS

Chemnitz menutup dengan peringatan bahwa Greenland saat ini menghadapi dua tantangan besar, yakni persoalan internal dan ancaman eksternal.

“Ancaman dari luar, khususnya dari Amerika Serikat, harus ditanggapi dengan serius,” katanya.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.