Khotimah Meninggal Dunia di Mobil Pikap Pengangkut Sekam Padi
January 14, 2026 06:09 AM

TRIBUNJATENG.COM, BANYUMAS – Nurdiansyah (29) tak pernah membayangkan, keputusan membawa bibinya ke Puskesmas dengan sepeda motor akan berujung pada duka mendalam.

Warga Desa Banjaranyar, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas, itu masih mengingat jelas detik-detik kepanikan ingin menyelamatkan saudaranya yang berujung duka.

Saat itu, Sabtu (10/1/2026) sekira pukul 20.30, bibi Nurdiansyah, Khotimah (43), meninggal dunia di perjalanan menuju RSUD Ajibarang, Kabupaten Banyumas.

Jenazah Khotimah telah dimakamkan di desanya, pada Minggu (11/1) sore.

Udin, sapaan akrab Nurdiansyah, menjelaskan bahwa sebelumnya Khotimah lebih dulu dibawa ke Puskesmas 1 Pekuncen dalam kondisi gawat darurat.

Udin merupakan orang yang pertama kali membawa Khotimah ke Puskesmas Pekuncen 1.

Dalam keadaan panik melihat Khotimah nafas dalam keadaan tersengal-sengal naik motor dengannya pada malam itu.

Sebulan sebelumnya, Khotimah baru saja menjalani pemasangan ring jantung di RSUP Dr Kariadi, Kota Semarang. 

Perjalanan dari rumah ke Puskesmas Pekuncen 1 hanya sekira lima menit.

Udin menceritakan, saat tiba di Puskesmas, kondisi Khotimah sudah dalam keadaan kritis dan sesak napas terus.

Menurut Udin, penanganan awal memang dilakukan.

Pasien dipasangi selang oksigen oleh petugas IGD dan ada dua perawat jaga saat itu, satu laki-laki dan satu perempuan.

Namun tak lama kemudian, pihak puskesmas menyampaikan mereka tidak sanggup menangani kondisi pasien dan mengatakan agar pasien segera dirujuk ke RSUD Ajibarang.

Adapun jarak Puskesmas 1 Pekuncen dan RSUD Ajibarang sekira 6,6 kilometer dengan waktu tempuh hanya 11 menit apabila menggunakan mobil.

"Memang pelayanan pertama saat itu sudah dipasang oksigen,” kata Udin kepada Tribun Jateng, Selasa (13/1/2026).

“Saat itu, perawat bilang bahwa pihak Puskesmas tidak sanggup menangani dan pasien harus segera dirujuk ke RSUD Ajibarang," sambungnya.

Mendengar hal tersebut, Udin langsung menginginkan segera dirujuk.

Oleh karena sudah panik dan tak kuasa melihat kondisi pasien melemah, Udin berinisiatif membawa bibinya dengan sepeda motor.

Akhirnya selang oksigen yang semula terpasang dilepas atas persetujuan perawat jaga dan membiarkan pasien ketika itu akan dibawa keluar IGD.

Saat keluar dari IGD, Nurdiansyah melihat ada mobil ambulans terparkir di area depan Puskesmas.

Ia pun meminta kepada petugas Puskesmas agar Khotimah dibawa dengan ambulans.

“Kemudian dari pihak Puskesmas meminta agar pasien masuk lagi ke IGD, katanya, mau dipasang infus dan oksigen lagi," katanya.

Nurdiansyah mengaku, tidak menolak tindakan medis dan prosedur medis dan akhirnya membawa masuk lagi pasien ke IGD Puskesmas Pekuncen 1.

Pada saat Khotimah kembali masuk ke IGD Puskesmas, Udin kala itu sangat berharap, pasien yang sudah kritis bisa segera dibawa ke rumah sakit rujukan tanpa menunggu prosedur yang, menurutnya, terlalu lama.

"Menurut saya, karena pasien sudah parah, tidak perlu prosedurlah. Kalau ada sopirnya, langsung bawa saja. Kondisinya sudah lemas dan sesak sekali," ujarnya.

Ia bahkan menegaskan kesiapannya apabila memang harus membayar biaya ambulans.

Namun jawaban yang diterima dari petugas puskesmas membuatnya semakin panik.

"Jawaban perawat, nunggu koordinasi dulu dengan RSUD Ajibarang. Katanya, kalau tidak (koordinasi—Red), nanti Puskesmas kena omel," kata Udin.

Merasa waktu terus berjalan sementara kondisi pasien semakin memburuk, Udin akhirnya mengambil keputusan berat.

Ia membawa keluar Khotimah untuk yang kedua kali, tanpa ambulans, dan Khotimah saat itu dibonceng dengan sepeda motor. 

"Saya bukan antiprosedur. Tapi lihat kondisinya. Sudah parah, lama, akhirnya saya putuskan bawa sendiri," ujarnya.

Tidak lama berselang datang pula anak laki-laki Khotimah dan neneknya yang juga menggunakan sepeda motor.

Mereka bertiga berboncengan, yaitu Udin, Khotimah, dan anaknya.

"Di Puskesmas itu sekitar 10 menitan. Sayangnya tidak ada upaya dari pihak Puskesmas untuk mencegah kami bawa naik motor, padahal bonceng bertiga dan kondisi pasien sudah kritis," tegasnya. 

Memburuk

Dalam perjalanan ke RSUD Ajibarang, tepatnya di sekitar depan SD Cikawung, kondisi Khotimah semakin memburuk. 

Setengah perjalanan itu semakin genting kurang lebih berjarak 3 kilometer dari Puskesmas, pasien tiba-tiba pingsan di atas motor.

"Kami berhenti malam-malam, pasien masih ada napasnya, tapi pingsan. Kami bingung," kata Udin. 

Dia akhirnya memutuskan menurunkan Khotimah dan mencoba cari bantuan lain.

Tak lama kemudian, mereka melihat sebuah mobil pikap melintas dari arah belakang.

Awalnya sopir ragu karena mengira mereka begal, namun setelah dijelaskan, sopir akhirnya bersedia menolong.

Mobil pikap tersebut diketahui mengangkut muatan sekam padi sisa penggilingan yang mengisi penuh muatan.

Khotimah kemudian dipindahkan ke bak mobil ditemani oleh anak laki-lakinya dan neneknya.  

Sementara Udin mengawal di belakang pikap menggunakan motor. 

"Sopirnya sampai tidak enak karena mobilnya bawa merang (sekam padi--Red), tapi dia mau nolong," ujarnya. 

Di dalam mobil pikap itulah, pada pukul 21.00, Khotimah mengeluarkan busa dari mulutnya.

Bayu (17), anak laki-laki Khotimah yang memangku, tak kuasa sedih karena ibunya itu mengeluarkan busa.

Di tengah perjalanan saat naik pikap itulah Khotimah sepertinya telah meninggal dunia.

Tidak sadar

Sesampainya di RSUD Ajibarang, Khotimah datang dalam kondisi tidak sadar dan penuh sekam padi di badan karena tadi menumpang pikap.

"Jadi karena naik pickup itu kondisi jalan lagi ramai karena malam minggu, jadi laju kendaraannya juga lambat. Coba kalau ambulans bisa cepet, wong lampu merah aja bisa diterabas," katanya.

Pihak rumah sakit menyatakan Khotimah telah meninggal dunia di perjalanan.

Diagnosis sementara mengarah pada serangan jantung.

Padahal, menurut Nurdiansyah, Khotimah baru saja menjalani kontrol kesehatan di RSUD Ajibarang, pada 27 Desember lalu.

Sekitar satu bulan sebelumnya, pasien juga menjalani pemasangan ring jantung di RSUP Dr Kariadi, Kota Semarang.

Khotimah diketahui memiliki riwayat penyakit jantung dan diabetes. 

Suami Khotimah, Nasrudin (49), yang saat kejadian berada di Kalimantan untuk bekerja, menceritakan kondisi istrinya sempat stabil setelah pemasangan ring jantung.

"Sebulan lalu saya minta izin kerja ke Kalimantan dan istri mengizinkan karena kondisinya sudah mendingan," kata Nasrudin dengan mata berkaca-kaca. 

Ia mengaku mendapat telepon dari istrinya, pada Sabtu (10/1/2026) sore, beberapa jam sebelum kejadian. Khotimah mengeluh sesak napas dan meminta bantuan.

"Saya lalu telepon keponakan, Nurdiansyah, saya perintahkan membantu istri saya karena saya jauh di Kalimantan," ujar Nasrudin.

Dia menyayangkan penanganan yang diterima istrinya di Puskesmas.

"Harusnya kalau sudah tidak sanggup menangani, langsung dibawa saja (ke rumah sakit—Red). Wong sudah gawat,” katanya.

“Tidak perlu prosedur macam-macam," sambungnya. (Permata Putra Sejati) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.