TRIBUNJABAR.ID - Kasus lansia dianiaya pemuda hingga tewas di Bandung pada Selasa (6/1/2026) lalu, hingga saat ini masih jadi sorotan publik.
Terlebih, kasus penganiayaan berujung maut itu kini sampai menyita perhatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Dedi Mulyadi menyampaikan duka sekaligus prihatin atas apa yang menimpa korban, lansia bernama Ade Dedi (62) tersebut.
Baca juga: Dedi Mulyadi Berduka Respons Kasus Lansia Tewas Dianiaya Pemuda di Bandung, Beri Bantuan Rp 50 Juta
Kabid Humas Polda Jabar Kombes Hendra Rochmawan menjelaskan kronologi penganiayaan itu terjadi berawal saat pelaku berbelanja di minimarket. Pelaku kepergok memasukkan barang ke dalam jaketnya tanpa membayar.
"Berdasarkan hasil penyelidikan, kejadian bermula saat pelaku berbelanja di Alfamart dengan memasukkan sejumlah barang ke dalam jaketnya tanpa menggunakan keranjang belanja," ujar Kombes Hendra Rochmawan.
Korban yang berada di lokasi bermaksud membantu pegawai minimarket menegur pelaku.
Namun, ternyata niat baik korban membantu justru membuat pelaku menyerangnya, dipukul lalu tak sadarkan diri.
Menurut keterangan Kombes Hendra Rochmawan, pelaku memukul wajah bagian rahang korban hingga terjatuh dan sempat menginjak leher dan dada korban hingga tak sadarkan diri.
Setelah itu korban dilarikan ke RSUD Ujung Berung untuk mendapat perawatan intensif di ICU. Namun, nyawa korban tak tolong dan dinyatakan meninggal dunia.
Sebelum meninggal dunia, diketahui ternyata Ade Dedi atau korban penganiayaan oleh pemuda di Bandung itu sempat menjalani perawatan intensif ICU di RSUD Ujung Berung.
Diungkap oleh anak perempuan korban, sang ayah disarankan ditindak melakukan operasi karena mengalami luka serius di bagian kepala.
Ade Dedi seharusnya menjalani operasi namun dibawa ke rumah karena terkendala biaya.
Hal ini terungkap saat anak korban menjelaskan kronologi Ade Dedi dilarikan ke rumah sakit pasca penganiayaan.
Menurut sang anak, dalam kondisi mash koma atau tak sadarkan diri, Ade dibawa keluarga ke rumah semalam.
“Jadi dalam keadaan koma dibawa ke rumah, cuman masih gerak kalau tangan, tapi bapak tidak bisa buka mata sama mulut, nangis dan respons masih bisa, dari awal kejadian.”
“Kita awam pak, jadi kita tak tahu soal yang begitu, jadi kita inisiatif untuk membawa pulang dulu bapak, semalam tinggal di rumah,” papar penjelasan anak perempuan korban.
Melihat kondisi Ade masih tak sadarkan diri dan kritis, keluarga dan warga setempat mengusahakan kembali agar korban menjalani perawatan di RSUD Kota Bandung.
Sayangnya, saat kembali menjalani perawatan di RSUD tersebut, nyawa Ade tak tertolong dan berakhir meninggal dunia.
Lantas, Dedi Mulyadi menduga selain akibat penganiayaan yang fatal, kondisi Ade Dedi bisa meninggal tersebut juga karena telatnya penanganan.
“Jadi itu (penanganan) tidak sempat dilakukan tindakan (operasi) ya?,” tanya Dedi Mulyadi memastikan.
Baca juga: Sosok Ade Dedi Lansia yang Dianiaya Pemuda hingga Tewas di Bandung Ternyata Pertugas Limnas
Sebelumnya, anak korban itu juga menceritakan keluarga memang sempat mendapat santunan dari minimarket tempat kejadian perkara.
Saat masuk rumah sakit dan masuk ICU, biaya perawatan Ade Dedi menggunakan biaya reguler menggunakan uang santunan dari minimarket tersebut.
“Waktu pertama di RSUD itu karena harus umum pak, alhamdulillah kita ada bantuan santunan dari pihak toko tersebut sehingga bapak bisa masuk ICU,” ujar anak perempuan korban.
Namun, saat akan ditindak menjalani operasi, pihak keluarga harus kembali terkendala biaya.
Kemudian warga setempat berinisiatif kembali membawa Ade Dedi ke RSUD untuk menjalani perawatan karena kondisinya masih kritis.
Dedi Mulyadi menjelaskan seharusnya di RSUD sudah bisa langsung melayani karena pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat yang akan menanggung biaya dengan catatan melaporkan kejadian.
Namun, anak korban itu menjelaskan dalam keadaan darurat pihaknya tak tahu adanya pelayanan yang dimaksud Gubernur Jawa Barat tersebut.
Ade Dedi (62) dianiaya pemuda bernama Dika Restu Wibowo alias DRW (21) di depan minimarket di kawasan Jalan AH Nasution, Kecamatan Penyileukan, Kota Bandung, Selasa (6/1/2026).
Saat kejadian, diketahui Ade Dedi sedang bertugas sebagai anggota Limnas di lingkungan sekitarnya.
Ade Dedi merupakan pria lanjut usia (lansia) 62 tahun, warga di sekitar Cibiru, Jalan AH Nasution, Kota Bandung.
Wati istri korban, menceritakan suaminya itu sehari-hari bekerja serabutan jual beli motor dan mobil hingga menjadi Limnas.
Baca juga: Tampang Pemuda Aniaya Lansia hingga Tewas di Bandung, Sempat Ngaku Anggota
Limnas termasuk pekerjaan mulia. Linmas singkatan dari Perlindungan Masyarakat, adalah satuan tugas yang dibentuk pemerintah desa atau kelurahan dan beranggotakan warga masyarakat setempat.
Satuan Limnas bertugas untuk menjaga keamanan, ketertiban, serta membantu penanggulangan bencana di lingkungan mereka.
Selama menjadi Limnas, ternyata Ade Dedi termasuk anggota yang berdedikasi menjaga keamanan di lingkungan tempatnya tinggal.
Bahkan di jam berapa pun Ade sigap melakukan pengamanan di lingkungannya.
Menurut keterangan anaknya, Ade Dedi sudah sering menangani kasus pencurian, namun hanya kali ini ayahnya itu mengalami kejadian fatal dan tragis.
“Sering pak, bapak mah mau jam berapa pun, bapak selalu bangun, kalau misalnya ada laporan dari yang ronda, langsung bapak pergi, melihat, aman-aman saja, tapi kemarin memang sampai fatal, sebelumnya belum pernah sampai dipukuli,” papar amal korban.
Bersama Wati, Ade Dedi memiliki empat orang anak yang semuanya sudah dewasa dan menikah.
Kini, Ade meninggalkan keluarganya untuk selama-lamanya.