Tangis Nuraini Melahirkan Anak Kelima di Teras Musala, Pertaruhkan Nyawa di Tengah Kemiskinan
January 14, 2026 12:34 PM

 

 

SERAMBINEWS.COM - Tangis itu pecah di teras Musala Al Ikhlas, Senin pagi (12/1/2026).

Bukan hanya tangis seorang bayi perempuan yang baru melihat dunia, tetapi juga tangis seorang ibu—Nuraini (32)—yang menahan pilu karena harus melahirkan anak kelimanya tanpa dokter, tanpa bidan, tanpa biaya, bahkan tanpa tempat yang layak.

Pagi itu, teras musala menjadi ruang bersalin darurat. 

Sehelai kain seadanya menjadi alas. 

Warga sekitar menjadi saksi sekaligus penolong. 

Di sanalah Nuraini mempertaruhkan nyawa, di tengah keterbatasan ekonomi yang menyesakkan.

“Pilu, Pak… kalau diceritakan,” ucapnya lirih, air mata kembali mengalir saat ia ditemui di Klinik Bidan Rahayu. 

Tubuhnya masih lemah, infus terpasang di tangan kanan, namun ingatannya tentang malam itu terpatri jelas.

Minggu malam (11/1/2026) sekitar pukul 23.00 WIB, rasa sakit mulai menyerang perutnya. 

Usia kehamilan telah memasuki 9 bulan 7 hari. 

Namun di tengah kontraksi yang datang bergelombang, Nuraini dan suaminya, Sakimin (40), hanya bisa saling berpandangan dalam kebingungan.

Tak ada Kartu Indonesia Sehat (KIS). Tak ada uang sepeser pun.

“Kami bingung mau ke mana. Rumah sakit takut ditolak, ke bidan juga tidak ada biaya,” katanya.

Baca juga: Kisah Dede, 25 Tahun Jadi Pembaca Garis Tangan, Tolak Disebut Dukun: Takdir Itu dari Allah

Pagi harinya, dengan tekad nekat, mereka berangkat menuju fasilitas kesehatan hanya bermodal KTP. 

Namun belum jauh berjalan, kontraksi kian hebat. Ketuban pecah di tengah jalan. 

Panik dan tak tahu harus berbuat apa, Sakimin meninggalkan Nuraini sejenak untuk mencari pertolongan.

Dalam kondisi menahan sakit seorang diri, Nuraini akhirnya ditolong warga. 

Ia dipapah ke teras Musala Al Ikhlas, Jalan KH Balqi Lorong Banten VI, Kecamatan Seberang Ulu II.

 Tak ada persiapan medis. Tak ada tenaga kesehatan. Hanya empati dan keberanian warga sekitar.

“Ketuban saya sudah pecah. Saya dibantu warga, di teras musala itu… tanpa persiapan apa-apa,” tuturnya.

Sekitar 15 menit kemudian, tangisan bayi perempuan terdengar.

Tangisan yang sekaligus menjadi penguat di tengah rasa malu, takut, dan pasrah.

“Haru sekali, Pak. Air mata ini tidak berhenti saat dengar anak saya menangis,” ujarnya.

Anak kelima itu lahir selamat. 

Tak lama kemudian, seorang bidan datang memotong tali pusat dan membawa bayi ke tempat praktik terdekat.

Nyawa ibu dan anak terselamatkan—namun kisah pilu itu terlanjur menyentuh hati banyak orang.

Baca juga: Kisah Ressa Ditelantarkan Denada Selama 24 Tahun, Kini Putus Kuliah hingga Jadi Penjaga Toko

Nuraini mengaku, persoalan administrasi menjadi tembok tinggi dalam hidupnya. 

Pernikahannya belum tercatat resmi. 

Surat nikah belum selesai. 

Semua itu membuat pengurusan KIS terhambat. 

Di tengah kondisi ekonomi yang sulit dan suami yang sedang menganggur, pilihan mereka seolah buntu.

“Kami sudah mencoba mengurus, tapi belum selesai juga. Akhirnya pasrah,” katanya.

Video berdurasi 53 detik yang merekam peristiwa itu pun viral. 

Warga menyebarkannya bukan untuk sensasi, melainkan sebagai jeritan kepedulian—agar pemerintah melihat, agar bantuan datang, agar kejadian serupa tak terulang.

 

Wali Kota Palembang WARNING Nakes Jangan Tolak Pasien

Peristiwa ini mengetuk perhatian Wali Kota Palembang, Ratu Dewa. 

Ia dengan tegas mengeluarkan peringatan keras kepada seluruh fasilitas dan tenaga kesehatan di Palembang.

“Jangan pernah menolak pasien, walau hanya bermodal KTP. Semuanya gratis,” tegasnya.

Ia menegaskan komitmen Pemkot Palembang untuk memastikan pelayanan kesehatan tanpa diskriminasi. 

Puskesmas rawat inap diperkuat, ambulans ditambah, dokter spesialis disiapkan. Menurutnya, kesehatan adalah fondasi utama kesejahteraan kota.

Namun kisah Nuraini menjadi pengingat bahwa di balik data pertumbuhan ekonomi dan angka investasi, masih ada warga yang melahirkan di teras musala karena kemiskinan dan keterbatasan akses.

“Saya berharap ada bantuan dari pemerintah kota,” kata Nuraini pelan. 

“Bukan hanya untuk saya, tapi supaya tidak ada lagi ibu yang melahirkan seperti ini.”

Di teras musala itu, Palembang bercermin.Tentang empati warga. Tentang celah dalam sistem.

Dan tentang tanggung jawab bersama agar setiap ibu bisa melahirkan dengan layak, bermartabat, dan manusiawi.(*)

Baca juga: Utusan Trump Diam-diam Temui Reza Pahlavi, Sinyal AS Siapkan Pemerintahan Transisi Iran?

Baca juga: Prakiraan Cuaca Abdya 14 Januari 2026, Seluruh Wilayah Berawan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.