Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Albert Aquinaldo
POS-KUPANG.COM, ENDE – Harapan warga Desa Fataatu Timur dan sejumlah desa lain di Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende untuk memiliki jembatan penghubung di Kali Lowolaka hingga kini belum juga terwujud.
Akibat ketiadaan jembatan, setiap musim hujan ratusan warga mulai dari bayi, balita, pelajar, orang dewasa, lanjut usia hingga ibu hamil, terpaksa nekat menerobos derasnya arus air bahkan banjir di Kali Lowolaka.
Kali Lowolaka merupakan satu-satunya akses transportasi yang menghubungkan Desa Fataatu Timur dengan Desa Aendoko serta wilayah lain di Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Kali Lowolaka ini harus dilintasi warga untuk menuju Kota Ende, Pasar Weloamosa, Kecamatan Ropa, pusat pemerintahan kabupaten dan kecamatan, gereja, pusat kegiatan budaya, hingga fasilitas pendidikan dan kesehatan.
Para pelajar dari Kampung Leleloo dan Aesi yang menempuh pendidikan di SD dan SMP pun tak luput dari risiko. Demi sampai ke sekolah, mereka kerap melepas sepatu agar tidak basah saat menyeberangi sungai.
Tak jarang, anak-anak harus dibantu orang tua atau warga setempat untuk melintasi derasnya arus Kali Lowolaka.
Saat hujan deras mengguyur, Kali Lowolaka kerap meluap. Kondisi ini membuat para pelajar ketakutan untuk menyeberang sehingga terpaksa meliburkan diri dan tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar.
“Kondisi ini merupakan masalah berulang setiap tahun. Saat musim hujan, akses transportasi lumpuh total. Mobilitas orang dan barang terhambat, dan yang paling terdampak adalah anak-anak sekolah,” ujar Kepala Desa Fataatu Timur, Isak Abel Do, Selasa (13/1/2026).
Isak Abel Do menjelaskan, jika terjadi banjir besar, air di Kali Lowolaka bisa memakan waktu hingga satu minggu untuk surut. Situasi tersebut semakin menyulitkan warga, terutama ketika bertepatan dengan masa ujian sekolah.
“Kalau banjir terjadi saat ujian, itu sangat sulit. Anak-anak tetap berusaha datang ke sekolah dengan dibantu orang tua mereka menyeberangi kali. Tapi kalau banjir besar, ujian terpaksa ditunda,” ungkap Isak Abel Do.
Isak Abel Do menceritakan pengalamannya pada tahun 2016 saat harus membawa seorang ibu hamil yang hendak melahirkan ke Puskesmas Weloamosa, yang berjarak lebih dari 10 kilometer dari Desa Fataatu Timur. Saat itu, Kali Lowolaka sedang banjir dan mobil kecil tidak mampu menembus arus.
Isak Abel Do terpaksa menggunakan mobil truk untuk mengangkut ibu hamil tersebut dan nekat menerobos banjir.
“Bahkan ada ibu hamil yang harus digendong menyeberangi kali saat musim hujan. Ada juga warga Desa Aendoko yang sakit dan dirujuk ke puskesmas pada malam hari, terpaksa digotong ke seberang kali sebelum dibawa mobil,” tutur Isak Abel Do.
Menurut Isak Abel Do, meski terdapat jalur alternatif berupa jalan rabat beton yang dibangun menggunakan dana desa pada tahun 2018, jalur tersebut tidak menjadi solusi efektif. Pasalnya, jarak tempuhnya mencapai empat jam. Sementara melewati Kali Lowolaka hanya memakan waktu sekitar 10 menit.
“Kami sangat berharap pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi NTT, dan Pemerintah Kabupaten Ende dapat merespons serius persoalan ini. Kali Lowolaka adalah satu-satunya akses transportasi masyarakat,” tegas Isak Abel Do.
Diketahui, jumlah penduduk Desa Fataatu Timur yang bergantung pada akses Kali Lowolaka mencapai sekitar 1.200 jiwa dengan 297 kepala keluarga. Sementara itu, jumlah pelajar yang terdampak meliputi lebih dari 100 siswa SD, 98 siswa SMP, serta sekitar 50 anak TK/PAUD. (bet)