Laporan Yolanda Putri Dewanti & Ramadhan L Q
TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA – Pemandangan "hutan beton" mangkrak yang menghiasi sepanjang Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, resmi berakhir.
Rabu (14/1/2026) pagi, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memulai proses pembongkaran tiang monorel yang telah terbengkalai selama lebih dari dua dekade.
Momen bersejarah ini disaksikan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Wakil Gubernur Rano Karno, serta mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso (Bang Yos), sosok yang mengawali proyek transportasi makro tersebut pada tahun 2003 silam.
Restu KPK dan Kejaksaan: Menghapus Jejak Hukum
Pramono Anung menegaskan bahwa pembongkaran ini bukan sekadar urusan teknis, melainkan hasil dari proses koordinasi panjang dengan aparat penegak hukum untuk memastikan tidak ada sengketa di masa depan.
“Hari ini saya bersama Bang Yos (Sutiyoso), Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati), Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati), dan juga dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan penataan Jalan Rasuna Said yang dimulai dengan memotong tiang monorel yang sudah 21 menginjak 22 tahun,” ujar Pramono di Jakarta, Rabu (14/1/2046).
Pramono juga memastikan telah melaporkan langkah ini secara transparan.
“Secara khusus saya melaporkan hal ini kepada KPK supaya tidak ada permasalahan di kemudian hari,” tambahnya.
Klarifikasi Anggaran: Bongkar Tiang Hanya Rp254 Juta
Gubernur Pramono juga meluruskan simpang siur informasi mengenai biaya fantastis yang beredar di masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa biaya pembongkaran murni untuk 109 tiang (sebelumnya disebut 98 hingga 109 tiang di berbagai titik) relatif kecil, sementara sisa anggaran dialokasikan untuk revitalisasi kawasan.
"Pertama, anggaran untuk membongkar aja Rp254 juta. Yang Rp100 miliar itu adalah anggaran untuk mengatur pedestrian, jalan, taman selama satu tahun penuh," tegas Pramono.
Ia menambahkan rincian untuk penataan menyeluruh di lokasi pembongkaran:
“Untuk penataan secara keseluruhan, nanti ada jalan, selokan, taman, dan pedestrian, diperkirakan Rp102 miliar. Jadi yang Rp100 miliar itu bukan untuk memotong tiangnya.”
Lega Hati Bang Yos: "Pilihan Paling Buruk Tapi Harus Dilakukan"
Sutiyoso, yang hadir mengenakan kacamata hitam, tak dapat menyembunyikan rasa leganya.
Baginya, monorel adalah bagian dari mimpi integrasi transportasi makro Jakarta (MRT, Monorel, Busway, dan Waterway) yang ia rancang sejak 2003. Namun proyek ini terhenti akibat perubahan kebijakan setelah masa jabatannya.
“Saya jujur saja hari ini hati saya lega sekali dengan adanya kepastian yang dicanangkan oleh Pak Gubernur Pramono,” kata Bang Yos.
Menghadapi kenyataan tiang yang mangkrak belasan tahun, Bang Yos menilai keputusan ini adalah langkah realistis terakhir.
“Dalam kondisi seperti itu hanya ada dua pilihan, lanjutkan atau bongkar. Kalau tidak bisa dilanjutkan ya dibongkar. Itu pilihan paling buruk tapi harus dilakukan,” tuturnya.
Skema Pembongkaran: Dilakukan Malam Hari untuk Tekan Macet
Demi menjaga kelancaran lalu lintas di kawasan bisnis tersebut, Polda Metro Jaya telah menyiagakan personel untuk mengamankan proses pemotongan beton.
Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Metro Jaya, Kombes Komarudin, menyebut pembongkaran dilakukan secara situasional.
"Situasional saja," ujar Komarudin.
"Rencana pembongkaran malam hari dan di jalur lambat," imbuhnya.
Pramono Anung meyakini bahwa setelah pembersihan tiang-tiang ini, kawasan Rasuna Said akan memiliki kualitas jalan yang lebih baik dan trotoar yang lebih luas bagi pejalan kaki.
“Ini menjadi penanda bahwa Jakarta sedang menata diri untuk memperbaiki fasilitas publik yang dimiliki,” pungkas Pramono.