Plus Minus Sorotan 1 Tahun Makan Bergizi Gratis: MBG Dinanti, MBG Ditakuti
January 14, 2026 03:03 PM

Oleh: Harimansyah - Guru Sosiologi SMAN 1 Namang, Kabupaten Bangka Tengah

PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu kebijakan unggulan pemerintahan Prabowo-Gibran yang tertuang dalam Asta Cita, yakni memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), dan seterusnya. Program ini mendapat banyak sorotan dan perhatian.

Sejak diresmikan peluncuran program ini di awal Januari 2025, masyarakat mengalami “mix feelings”. Di satu sisi, program ini dinanti dengan penuh harapan karena diyakini mampu meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia menghadapi harapan Emas 2045 serta dapat menjadi motor penggerak ekonomi lokal. Namun di sisi lain, program yang sejatinya mulia ini juga ditakuti, terutama oleh pihak-pihak yang khawatir terhadap kesiapan pelaksanaan di lapangan disertai kasus-kasus yang terjadi.

Bagi banyak sekolah dan orang tua, MBG ibarat angin segar di tengah keterbatasan ekonomi, tantangan pemenuhan kebutuhan gizi anak serta motivasi belajar yang rendah. Target awal dari program ini diharapkan dapat menekan angka stunting, meningkatkan daya pikir, dan menumbuhkan kebiasaan makan sehat di kalangan peserta didik,  mulai dari PAUD hingga SMA/SMK. 

Lebih dari sekadar menyediakan makanan gratis, MBG diharapkan menjadi bentuk nyata kehadiran negara dalam menjamin tumbuh kembang anak-anak dari berbagai latar belakang. Harapan besar ini pula yang membuat banyak masyarakat menunggu pelaksanaannya dengan optimisme — bahwa melalui gizi yang baik, akan lahir generasi muda yang cerdas, sehat, dan berdaya saing.

Banyak sekolah yang masih menantikan kehadiran program ini (MBG) hadir di tempat mereka. Dapur-dapur SPPG (satuan pelayanan pemenuhan gizi) terus digenjot pembangunannya pada tiap-tiap lokal sehingga anggaran terserap maksimal dan merata.

Siswa-siswi yang sudah kedatangan MBG-pun menantikan kejutan menu harian yang akan mereka konsumsi. Di balik cerita penantian dan harapan tersebut, tidak sedikit pihak yang menyambut MBG dengan rasa khawatir. Kekhawatiran muncul bukan karena menolak gagasan “makan bergizi gratis”, melainkan karena pelaksanaan di lapangan yang berpotensi menghadirkan tantangan besar.

Beberapa daerah misalnya, belum memiliki sistem logistik dan distribusi pangan yang siap, terutama di wilayah terpencil. Di sisi lain, pengawasan kualitas makanan menjadi hal krusial agar tidak muncul kasus makanan tidak higienis atau tidak layak konsumsi yang berakibat keracunan massal yang sudah banyak terjadi di beberapa tempat, dengan jumlah korban yang tidak sedikit.

Kekhawatiran juga muncul terhadap pengelolaan anggaran dan transparansi karena program sebesar MBG tentu melibatkan dana publik yang tidak sedikit.  Banyak ahli memberikan saran, program MBG sebaiknya difokuskan ke daerah-daerah agar lebih tepat sasaran atau pengelolaan diberikan ke sekolah masing-masing dengan memberdayakan unsur kantin atau orang tua siswa.

Selain itu, sekolah dan tenaga pendidik juga harus siap menanggung tugas tambahan administratif dan koordinatif, mulai dari pencatatan, pelaporan, hingga evaluasi program. Ketidaksiapan ini dapat menimbulkan beban baru bagi satuan pendidikan. 

Makan Bergizi Gratis yang juga digadang menggerakan ekonomi lokal, sebab memberdayakan produsen-produsen bahan pangan setempat, belumlah terbukti. Hal yang terjadi justru sebaliknya. Setelah ada MBG, banyak pedagang di sekitar sekolah mengalami penurunan omzet. Kantin-kantin sekolah banyak yang tutup, sebab siswa tidak lagi banyak berbelanja. Dampak ekonomis makro lainnya yang dirasakan, beberapa bahan makanan mengalami kenaikan harga, seperti telur, ayam, daging, dan bahan lainnya.

Frasa “Makan Bergizi Gratis dinanti, Makan Bergizi Gratis ditakuti” merefleksikan realitas sosial dari kebijakan besar: setiap niat baik membutuhkan persiapan matang agar tidak kehilangan maknanya. Program MBG sejatinya merupakan langkah mulia, namun pelaksanaannya harus disertai dengan perencanaan yang berbasis data dan kebutuhan nyata sekolah, kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat, sistem pengawasan yang transparan dan akuntabel, serta edukasi gizi agar program ini tidak sekadar menjadi rutinitas administratif, namun juga gerakan budaya hidup sehat seutuhnya.

Makan Bergizi Gratis memang dinanti karena menjanjikan masa depan yang lebih sehat. Tetapi, ia juga ditakuti karena bisa menjadi beban baru jika tidak dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan kesiapan. Pada akhirnya, program ini akan benar-benar bermakna apabila mampu menjawab dua hal sekaligus: memberi makan yang menyehatkan, dan menumbuhkan kesadaran bahwa gizi adalah investasi masa depan bangsa. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.