Oleh: Syamsul Bahri - Kepala MTs Al-Hidayah Toboali
ISRA Mikraj adalah salah satu peristiwa penting dan bersejarah bagi umat Islam. Peristiwa itu menjadi tempat berkumpulnya sains dan agama. Sains dan agama bukanlah dua hal yang parsial. Keduanya bisa saling berkaitan. Menurut MH Rahmat, sains memerlukan bimbingan agama agar menghasilkan produk pengetahuan yang menyelamatkan masa depan umat manusia, demikian juga agama perlu penjelasan sains agar tidak terjatuh ke dalam mitos dan takhayul.
Perjalanan Isra Mikraj yang sangat jauh dan sulit untuk digambarkan dengan akal, namun bisa Rasulullah tempuh dengan tempo waktu yang sangat singkat. Peristiwa ini menjadi peristiwa gaib dan aneh yang harus diterima oleh keimanan terlebih dahulu sebelum akal kita. Rangkaian peristiwa Isra Mikraj memang di luar jangkauan akal manusia. Oleh karenanya, pada saat itu banyak yang tidak percaya dengan apa yang dialami oleh Nabi SAW sehingga mereka akhirnya murtad.
Semua hal aneh tersebut terjadi dalam rangka menguji dan mengukur ketebalan iman seseorang, sebab manusia tersesat adalah orang yang hanya mengukur sebuah kebenaran dengan bersandar pada akal semata. Kita harus menghindari arus pemikir yang hanya membanggakan akal dengan mengesampingkan kekuatan Allah yang lain. Karena tidak mustahil jika pola pikir demikian dilestarikan akan menjadikan ajaran agama yang tidak cocok dengan akal akan ditolak dan diingkari.
Perjalanan Isra Mikraj yang spektakuler itu dapat kita jadikan pembelajaran bahwa jika sains tidak dapat membuktikan, maka peran keimanan (agama) yang mengambil alihnya. Karena kita semua paham bahwa tidak mungkin perjalanan Isra Mikraj itu hanya ditempuh dalam tempo yang singkat. Bahkan teori ilmu pengetahuan mana pun akan kesulitan membuktikannya, namun bagi orang yang beriman semua itu tidak mustahil jika Allah
berkehendak.
Tentu kita juga ingat dengan sebuah ayat yang menyatakan “Kun Fayakun”, jadi jika Allah berkehendak tidak ada yang bisa menghalanginya. Artinya keimanan (agama) berperan sangat signifikan dalam peristiwa Isra Mikraj tersebut.
Di sinilah nilai pendidikan yang perlu kita cermati dalam Isra Mikraj, yaitu mengintegrasikan nilai-nilai sains dan agama. Isra Mikraj menegaskan bahwa integrasi ilmu agama dan ilmu duniawi bisa terjadi. Di dalam https://uinib.ac.id/ peristiwa Isra Mikraj dapat menjadi pilar pengembangan ilmu pengetahuan. Pilar-pilar tersebut antara lain:
1. Isra Mikraj mengajarkan kita bahwa wahyu dan ilmu duniawi tidak terpisahkan. Saat Nabi Muhammad SAW menerima perintah untuk salat selama Mikraj, ini menegaskan bahwa ibadah (ilmu agama) dan kehidupan sehari-hari (ilmu duniawi) harus seimbang dan saling melengkapi. Selanjutnya, Isra Mikraj juga mendorong pencarian ilmu tanpa batas. Perjalanan Nabi Muhammad dalam Isra Mikraj yang menembus langit dan bertemu dengan para nabi lainnya menggambarkan pencarian ilmu yang tidak mengenal batas.
2. Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya ilmu dalam kehidupan. Isra Mikraj memberikan pelajaran bahwa pengetahuan yang didapat dari Allah Swt sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.
3. Menjadi pusat pemikiran dan dialog. Dalam peristiwa Mikraj, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan para nabi sebelumnya, yang menggambarkan pentingnya dialog antar-ilmu dan pemikiran yang berbeda.
4. Mendidik pemimpin masa depan yang berintegritas. Isra Mikraj juga mengajarkan tentang pentingnya kedekatan dengan Tuhan, yang tercermin dalam ajaran salat yang diberikan langsung oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.
Nilai pendidikan lain yang dapat dilihat pada peristiwa Isra Mikraj adalah “oleh-oleh" yang didapat nabi ketika Mikraj, yaitu perintah salat. Dalam sebuah hadis dinyatakan bahwa salat adalah tiang agama, apabila salat dikerjakan berarti sudah mendirikan agama. Namun sebaliknya, apabila salat ditinggalkan maka sama seperti merobohkan agama. Di sini urgennya posisi salat sehingga pantas jika salat harus diambil sendiri oleh Nabi Muhammad, berbeda dengan perintah-perintah yang lain.
Ada beberapa nilai pendidikan yang dapat diambil dari salat. Pertama, salat mengajarkan untuk bersih dan suci. Bersih secara jasmani maupun secara rohani. Bersih secara jasmani diawali ketika kita hendak mengerjakan salat harus berwudu terlebih dahulu. Di dalam Islam, pembelajaran tentang wudu selalu menjadi bab pertama.
Kemudian selain suci secara jasmani, salat juga membuat suci hati, sebab ketika salat ditegakkan maka hati
menjadi tenteram dan damai, karena seyogianya ketika salat dikerjakan maka Allah akan selalu diingat dan selalu dalam hati.
Yang kedua, nilai pendidikan dalam salat adalah disiplin. Seperti yang kita ketahui, salat itu sudah ditentukan waktunya sehingga tidak bisa melakukan salat ketika waktunya belum masuk atau waktunya sudah berlalu. Salat harus dikerjakan pada rentang waktu yang sudah ditentukan. Di sinilah nilai pendidikannya. Memanajemen waktu merupakan langkah awal untuk bisa disiplin.
Salat mengajarkan untuk bisa disiplin. Gerakan-gerakan salat yang sudah diatur gilirannya juga mengajar untuk disiplin. Mulai dari niat sampai salam harus dilakukan dengan berurutan, tidak boleh mendahului satu sama lainnya.
Harapannya tentu nilai-nilai pendidikan dalam Isra Mikraj ini dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. (*)