Gigi Baja Mas Dayat Jadi Andalan, Perjalanan Paguyuban Reog Singo Manggolo Joyo di Jambi
January 14, 2026 03:03 PM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Berawal dari mutasi kerja dari Lampung ke Jambi pada 2007, seorang pria asal Ponorogo bernama Dayat sukses menanamkan akar budaya leluhurnya di Tanah Pilih Pesako Betuah. 

Melalui Paguyuban Singo Manggolo Joyo yang didirikannya secara swadaya, Dayat berhasil memperkenalkan kesenian Reog Ponorogo kepada masyarakat Jambi hingga merangkul penari lintas etnis, mulai dari suku Minang hingga warga keturunan Tionghoa.

Dedikasi selama 18 tahun tersebut akhirnya berbuah manis dengan raihan penghargaan bergengsi dari Keraton Surakarta Hadiningrat pada akhir Desember lalu. 

Mas Dayat, panggilan akrabnya, menjadi sosok inspiratif yang konsisten melestarikan kebudayaan nasional di perantauan, meski harus berjuang secara mandiri mulai dari penyediaan alat, kostum, hingga operasional sanggar secara swadaya, minim bantuan finansial dari pemerintah daerah.

Di balik kemegahan Dadak Merak seberat 60 kilogram yang kerap ia angkat dengan kekuatan gigi Mas Dayat membawa misi besar untuk membawa nama Jambi ke panggung Festival Nasional Reog Ponorogo. Singo Manggolo Joyo pun telah mendapat penghargaan dari Kraton Surakarta Hadiningrat.

Bagaimana perjalanan Paguyuban Reog Singo Manggolo Joyo Jambi menasional? Berikut petikan wawancara Mas Dayat bersama Jurnalis Tribun Jambi, M Ferry Fadly:

Tribun Jambi:
Selamat datang di studio Tribun Jambi, Mas Dayat. Mas Dayat menjadi narasumber pertama dengan set podcast terbaru kami. Terima kasih sudah hadir.

Dayat:
Terima kasih. Semoga ini bukan yang terakhir. Insya Allah.

Tribun Jambi:
Mas Dayat dikenal sebagai seniman Reog yang baru saja menerima penghargaan dari Keraton Surakarta. Sebelum ke sana, Mas Dayat asli orang Jambi atau pendatang?

Dayat:
Saya pendatang. Awalnya saya mutasi kerja dari Bandar Lampung ke Jambi tahun 2007. Alhamdulillah sudah 18 tahun di Jambi dan betah sampai sekarang.

Dulunya saya seorang Pembarong (pembawa kepala Reog). 

Tribun Jambi:
Berarti sudah seperti warga Jambi sendiri ya. Bagaimana kesan pertama saat pindah ke Jambi?

Dayat:
Awalnya membayangkan Jambi masih hutan. Tapi setelah tinggal dan berbaur dengan masyarakat, ternyata Jambi sangat ramah dan nyaman.

Tribun Jambi:
Reog sendiri sudah Mas Dayat tekuni sejak kecil?

Dayat:
Iya. Saya belajar Reog sejak TK di Ponorogo. Di sana, anak-anak memang dikenalkan Reog sejak dini sebagai bagian dari budaya.

Tribun Jambi:
Apa yang mendorong Mas Dayat mendirikan paguyuban Reog di Jambi?

Dayat:
Saya ingin Reog tetap lestari meski saya merantau. Walaupun Jambi identik dengan budaya Melayu, saya yakin seni adalah milik semua. Akhirnya saya dirikan Paguyuban Reog Singo Manggolo Joyo.

Tribun Jambi:
Apakah sulit memperkenalkan Reog di Jambi?

Dayat:
Pada tahun 2007, mulai bergerak sendiri mencari sesama perantau.

Saya tidak punya saudara di sini. Tapi bagi kami, sesama orang Ponorogo di perantauan adalah saudara. 

Saya bertemu Pak Keman di kawasan Simpang Kawat, Payo Lebar. Bersama beliaulah kami merintis paguyuban ini.

Butuh waktu sekitar enam bulan untuk mengumpulkan orang tua dan anak-anak di lingkungan sekitar untuk berlatih. 

Kini, anggotanya sangat beragam, tidak hanya orang Jawa, tapi juga ada orang Minang hingga etnis Tionghoa yang ikut menari.

Kesulitan, tidak terlalu. Tantangannya lebih ke konsistensi. Seni itu dinamis, perlu pembaruan. Alhamdulillah, anggota kami bukan hanya orang Jawa, tapi juga Minang, Melayu, hingga Tionghoa.

Tribun Jambi:
Nama Singo Manggolo Joyo sendiri punya makna khusus?

Dayat:
Iya. “Manggolo Joyo” bermakna perjuangan. Harapannya Reog ini menjadi media perjuangan untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan.

Tribun Jambi:
Mas Dayat dikenal sebagai pembarong. Benarkah topeng Reog bisa mencapai 50 kilogram?

Dayat:
Benar. Bahkan di tingkat nasional bisa sampai 90 kilogram. Itu digigit menggunakan gigi dan ditopang leher.

Semua murni teknik dan latihan, bukan klenik.

Itu 100 persen sadar. Kami harus melakukan teknik blocking panggung dan memastikan gerakan kepala harimau terlihat hidup. 

Tribun Jambi:
Latihannya seperti apa?

Dayat:
Latihan beban sejak kecil. Dulu pakai batu, katrol, dan tambang. Rutin setiap hari.

Rahasianya ada pada kekuatan gigi dan leher yang dilatih sejak kecil.

Bahkan, dalam festival nasional, beban yang diangkat bisa mencapai 90 kg hingga 240 kg saat atraksi khusus.

Tribun Jambi:
Kini Singo Manggolo Joyo mendapat penghargaan dari Keraton Solo. Bagaimana ceritanya?

Dayat:
Kami aktif di komunitas Reog Dunia. Kegiatan kami sering diunggah. Akhirnya kami diundang ke Keraton Solo pada 27 Desember lalu untuk menerima penghargaan.

Eksistensi Singo Manggolo Joyo yang aktif di media sosial dan sering tampil di acara resmi (HUT Kota Jambi, HUT Provinsi, hingga hajatan warga) menarik perhatian Lembaga Dewan Adat Keraton Solo. 

Pada 27 Desember 2025, diundang langsung ke Solo untuk menerima penghargaan sebagai pelestari budaya.

Tribun Jambi: 
Ini semua biaya sendiri atau bagaimana?

Semua operasional paguyuban ini dilakukan secara mandiri. Sampai hari ini kami swadaya. 

Pak Keman menyediakan tempat, dan para penari terkadang iuran untuk membeli kostum sendiri. 

Kami belum mendapatkan bantuan resmi dari pemerintah, meski komunikasi dengan Dinas Pariwisata sudah mulai terjalin.

Tribun Jambi:
Perasaan Mas Dayat setelah menerima penghargaan itu?

Dayat:
Terbayar. Ini hasil kerja keras bersama selama 18 tahun, bukan kerja saya sendiri.

Tribun Jambi:
Apakah ada dukungan pemerintah sejauh ini?

Dayat:
Perhatian ada, tapi untuk dukungan fasilitas dan pendanaan masih swadaya.

Tribun Jambi:
Harapan ke depan?

Dayat:
Kami ingin membawa Reog Jambi tampil di Festival Nasional Reog Ponorogo. Sekaligus memperkenalkan budaya Jambi di tingkat nasional.

Mimpi terbesar adalah membawa nama Jambi ke Festival Nasional Reog Ponorogo di Jawa Timur. Saya ingin membuktikan bahwa seni Reog bisa tumbuh subur di tanah Melayu.

Kami ingin membawa Reog Jambi ke sana, sekaligus memperkenalkan sedikit sentuhan budaya Melayu Jambi dalam kreasinya nanti. 

Kami juga berharap pemerintah bisa lebih melirik potensi ini, terutama untuk mengenalkan budaya kepada anak-anak sekolah.

Tribun Jambi:

Terakhir, pesan untuk generasi muda?

Dayat:

Tetap semangat. Kebaikan yang kita tanam pasti akan berbuah. Harapan itu selalu ada dan akan datang pada waktunya.

Bagi warga Jambi yang ingin belajar Reog, kami membuka pintu sanggar di belakang terminal lama Simpang Kawat secara gratis. Asal sanggup latihan beban, silakan datang. (Tribunjambi.com/Asto)

Baca juga: Kisah Farhan Ngeteng dari Jambi ke Raja Ampat Papua Berhari-hari, Tidak Naik Pesawat

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.