Oleh: Salman Faris
TRIBUNLOMBOK.COM - Dalam minggu ini, telah diluncurkan lagu pop Sasak berjudul “Lombok yang Ada Kamunya”. Lagu yang berada di bawah label BMP tersebut dinyanyikan oleh Jien Raharja, salah seorang penyanyi terkenal di Lombok.
Rupanya, tidak hanya itu, dalam waktu yang hampir bersamaan, rilis juga lagu yang berjudul “Di Lombok”.
Lagu yang ditulis dan dinyanyikan oleh Bayu Cuaca. Bahkan, beberapa tahun yang lalu, Nirwan Mulya Wardana menulis lirik dan menyanyikan lagu yang berjudul “Mataram Ada Kamu”.
Karena ketiga lagu tersebut memiliki antatomi perasaan yang sama, maka dalam tulisan ini, saya lebih memokuskan perbincangan pada melankolia lagu tersebut, bukan dari segi morpologi lagu.
Dengan kata lain, saya tidak sedang mendiskusikan estetika lagu, melainkan nilai estetik yang dibagikan kepada umum, yang kemudian dapat menjadi kontsruksi teoretik untuk menyebutnya sebagai nilai estetik kolektif.
Pembacaan terhadap musik pop Sasak kontemporer memerlukan sebuah perangkat analisis yang mendalam.
Pendekatan melankolia menawarkan kunci penting untuk membuka lapisan makna tersebut. Hal ini sangat relevan ketika menelaah lagu-lagu populer seperti Mataram Ada Kamu, Di Lombok, dan Lombok yang Ada Kamunya.
Tidak dapat dihindari bahwa lagu-lagu pop tersebut seringkali dianggap sebagai hiburan sederhana.
Padahal, lagu-lagu ini menyimpan kedalaman emosional yang tersembunyi. Deretan lirik di dalamnya tidak hanya berkutat pada narasi cinta atau rindu semata. Terdapat lapisan makna lain yang jauh lebih fundamental, yang boleh menggambarkan perasaan kolektif suatu bangsa, yakni Sasak.
Lagu-lagu tersebut mengungkap sebuah bentuk kehilangan yang spesifik. Kehilangan ini memiliki sifat yang unik. Sifat tersebut adalah ketidakmampuan subjek untuk mengenali bahwa sesuatu telah hilang. Teori psikoanalisis Sigmund Freud menjadi landasan yang tepat untuk membedah fenomena ini.
Gagasan mengenai melankolia kultural juga memberikan perspektif yang tajam.
Sigmund Freud menulis sebuah esai penting berjudul Mourning and Melancholia. Tulisan tersebut membedakan dua respons psikologis terhadap kehilangan. Respons pertama adalah berkabung. Respons kedua adalah melankolia. Perbedaan antara keduanya sangat mendasar.
Berkabung merupakan proses kehilangan yang berlangsung secara sadar. Subjek mengetahui objek apa yang hilang. Subjek juga mengakui peristiwa kehilangan tersebut. Proses ini pada akhirnya akan mencapai titik penyelesaian. Subjek berhasil melepaskan diri dari objek yang telah pergi.
Kondisi melankolia menunjukkan dinamika yang berbeda. Kehilangan dalam melankolia terjadi secara tidak sepenuhnya disadari. Subjek mungkin tahu siapa yang pergi. Namun, subjek tidak menyadari apa yang sesungguhnya hilang dalam dirinya seiring kepergian itu.
Akibat ketidaksadaran tersebut, subjek tidak pernah benar-benar melepaskan objek yang hilang. Objek itu tidak pergi menjauh. Objek tersebut justru bersemayam dalam ego subjek. Bayangan objek terus menghantui dan mengganggu kehidupan batin subjek tanpa henti.
Kerangka pemikiran ini sangat membantu dalam menganalisis musik pop Sasak. Genre musik ini dapat dipahami sebagai ekspresi dari kehilangan yang tak terkatakan. Lagu Mataram Ada Kamu menjadi contoh kasus yang menarik.
Kehilangan dalam lagu tersebut tampak tertuju pada sosok (kamu). Namun, analisis lebih lanjut menunjukkan hal lain.
Makna kota Mataram itu sendiri sesungguhnya telah hilang. Kota tersebut tetap berdiri secara fisik. Gedung dan jalanan masih ada. Namun tenggelam dalam kehilangan. Dengan kata lain, kota yang hilang.
Kondisi emosional kota tersebut terasa kosong. Kekosongan ini tidak diakui sebagai sebuah kehilangan struktural. Masyarakat juga tidak melihatnya sebagai kehilangan kultural. Kehilangan tersebut dialihkan bentuknya.
Perasaan hampa itu berubah wujud menjadi kehilangan personal akan sosok kekasih, yang bisa menggambarkan bahwa begitu banyak orang Mataram yang kehilangan personal yang kemudian menjadi gumpalan kehilangan kolektif.
Lebih jelasnya ialah kesedihan yang muncul tampak bersifat individual. Padahal, kesedihan tersebut sesungguhnya bersifat kolektif. Warga kota merasakan alienasi terhadap ruang hidupnya sendiri. Lagu tersebut membungkus alienasi itu dengan narasi romansa.
Fenomena serupa muncul dalam lagu Di Lombok.
Melankolia hadir dalam bentuk perasaan yang paradoksal. Subjek merasa berada di rumah. Namun, subjek tidak merasa sepenuhnya pulang. Lombok menjadi ruang fisik yang dihuni. Bukan ruang batin yang dimiliki.
Tegasnya adalah sayangnya, ruang tersebut tidak lagi sepenuhnya dimiliki secara batin. Objek yang hilang dalam perspektif Freud bukanlah pulau itu sendiri. Rasa keterikatan batin yang dahulu pernah ada kini telah lenyap. Kehilangan rasa keterikatan ini tidak pernah diartikulasikan secara verbal.
Subjek kemudian terjebak dalam siklus emosi yang repetitif. Perasaan rindu muncul berulang kali tanpa pernah menemukan resolusi. Rindu tersebut tidak memiliki alamat yang jelas. Subjek merindukan sebuah kualitas rasa yang telah pudar.
Freud juga memberikan catatan penting mengenai perilaku subjek melankolia. Subjek seringkali menginternalisasi objek yang hilang ke dalam dirinya. Dampaknya sangat serius. Subjek kemudian mengarahkan kekecewaan dan amarah kepada diri sendiri.
Pola ini terlihat jelas dalam struktur lirik musik pop Sasak. Lirik-lirik tersebut cenderung berisi penyesalan diri. Tokoh dalam lagu sering menyalahkan diri sendiri atas kepergian sang kekasih. Mereka menerima keadaan yang menyakitkan tanpa perlawanan.
Sikap pasrah ini meniadakan resistensi. Kesedihan tidak diarahkan keluar menjadi kritik terhadap kondisi sosial.
Perasaan tersebut dikurung dalam ranah personal. Melankolia bekerja sebagai sebuah mekanisme psikokultural. Mekanisme ini berfungsi untuk meredam kritik dan menahan gejolak sosial. Namun dampak buruknya, manusia menjadi semakin terkurung dalam ruang kehilangan.
Analisis Freud kemudian diperluas melalui konsep melankolia kultural. Kajian budaya tidak memandang melankolia sebagai gangguan jiwa individual semata.
Melankolia dipahami sebagai kondisi kolektif suatu masyarakat. Masyarakat tersebut kehilangan sesuatu yang berharga.
Masalah utamanya adalah ketidakmampuan masyarakat untuk menamai apa yang hilang tersebut. Konteks masyarakat Sasak memperlihatkan hal ini dengan jelas. Kehilangan tersebut bisa berupa terputusnya kontinuitas budaya.
Bisa juga berupa hilangnya rasa berdaulat atas tanah kelahiran. Bisa juga kehilangan tempat karena pembangunan yang salah arah. Bisa juga kehilangan sistem sosial karena kemajuan yang tidak adil.
Makna Lombok sebagai ruang hidup mengalami pergeseran drastis. Pariwisata dan modernisasi mengubah wajah pulau. Perubahan ini menciptakan lubang emosional dalam psike masyarakat. Masyarakat merasakan perubahan itu tetapi gagal mendefinisikannya.
Sekaligus gagal menikmatinya karena kemajuan ekonomi hanya bagi orang lain. Sedangkan bagi orang Sasak sendiri, kebanyak tetap di jalur kemiskinan yang mengerikan.
Lagu Lombok yang Ada Kamunya menampilkan manifestasi melankolia kultural yang paling eksplisit. Judul lagu ini saja sudah mengandung problem ontologis. Lombok hanya memiliki makna sejauh keberadaan sosok (kamu).
Identitas kultural pulau tersebut tidak mampu berdiri sendiri. Identitas wilayah bergantung sepenuhnya pada relasi emosional personal. Hal ini menandakan sebuah kerapuhan yang serius. Imajinasi kolektif tentang Lombok sebagai rumah bersama telah goyah.
Pulau Lombok dalam lagu tersebut hanya hadir sebagai latar belakang. Pulau ini menjadi panggung romantik semata. Lombok kehilangan posisinya sebagai subjek sejarah. Wilayah ini tidak lagi memiliki narasi yang otonom di luar kisah cinta individu.
Melankolia kultural bekerja dengan cara yang halus. Masyarakat lebih memilih untuk tenggelam dalam nostalgia emosional. Pilihan ini diambil untuk menghindari refleksi kritis yang menyakitkan. Musik pop Sasak menyediakan fasilitas untuk nostalgia tersebut.
Genre musik ini memungkinkan pendengar untuk meratapi kehilangan. Namun, pendengar tidak perlu menghadapi penyebab kehilangan itu secara politis. Pendengar juga terbebas dari tuntutan untuk memahami penyebab struktural. Melankolia menjadi emosi yang terasa aman.
Emosi ini tidak menuntut adanya perubahan keadaan. Melankolia hanya menawarkan jalan penerimaan. Masyarakat dibuai untuk menerima nasib tanpa mempertanyakan penyebabnya. Musik pop menjadi obat penenang bagi kegelisahan kolektif. Penenang sesaat yang kelak, menunggu waktu yang sesuai untuk kehancuran, kehampaan, dan kekalahan segala-total.
Fungsi musik pop Sasak menjadi sangat vital karena alasan tersebut. Genre ini bertransformasi menjadi arsip luka kultural. Lagu-lagu tersebut menyimpan jejak keterputusan hubungan. Terdapat jurang pemisah antara manusia Sasak dengan ruang hidup mereka. Manusia Sasak terbelah dari realitas yang pahit.
Generasi muda Sasak berada dalam posisi yang sulit. Generasi ini sangat mencintai Lombok. Namun, mereka tidak mengetahui cara untuk memperjuangkan tanah airnya. Mereka merasakan kerinduan yang mendalam. Namun tidak punya kekuatan dan langkah strategis untuk menjadi dominan dan kaya di tanah mereka sendiri. Akhirnya, berpura-pura tak luka, tetapi sebenarnya mereka sangat sengsara.
Lebih jauh lagi, sayangnya, generasi ini tidak memiliki kosakata untuk menyebut apa yang sebenarnya hilang. Mereka hanya bisa menyanyikan lagu cinta yang sedih. Lagu cinta tersebut menjadi metafora bagi kehilangan identitas yang lebih besar. Bahkan kehilangan total yang semakin mengancam.
Perspektif ini menempatkan melankolia pop Sasak pada posisi yang unik. Kesedihan dalam lagu-lagu tersebut bukan merupakan kelemahan estetika. Hal ini justru adalah gejala zaman yang valid. Fenomena tersebut menjadi penanda kondisi sosiologis-psikolgis-kultural masyarakat Sasak hari ini.
Masyarakat sedang berada di ruang ambang atau liminal. Mereka terjepit di antara nilai tradisi dan arus modernitas. Posisi mereka berada di antara konsep rumah sebagai tempat tinggal dan pasar sebagai tempat transaksi. Mereka terjepit di antara merasa memiliki Lombok dengan ketiadaan daya untuk bersuka ria atas kemajuan Lombok di tangan orang lain.
Ketegangan juga terjadi di antara rasa kelekatan dan perasaan keterasingan. Musik pop menjadi medium penyimpanan rasa kehilangan itu. Kehilangan tersebut disimpan rapi dalam melodi dan lirik. Perasaan itu diulang terus menerus dalam setiap pemutaran lagu. Pengulangan ini menciptakan efek normalisasi. Kehilangan yang tragis dianggap sebagai hal yang lumrah. Masyarakat menjadi terbiasa hidup dalam bayang-bayang kehilangan. Maka jadilah bahaya itu menjadi budaya.
Lagu-lagu seperti Mataram Ada Kamu, Di Lombok, dan Lombok yang Ada Kamunya harus dibaca ulang. Bagi saya, lagu-lagu tersebut merupakan teks kultural yang penting karena mengungkap sebuah proses kehilangan yang belum selesai. Kehilangan yang terus berproses di tengah kemajuan Lombok di tangan orang lain yang semakin pesat.
Proses berkabung masyarakat Sasak belum mencapai titik akhir. Objek yang hilang belum benar-benar dilepaskan. Karya-karya musik ini tidak menyuarakan perlawanan. Lagu-lagu tersebut tidak berteriak menuntut keadilan bagi nasib kebanyakan orang Sasak yang semakin terhimpit.
Kejujuran artistik lagu-lagu tersebut justru terletak pada ketiadaan teriakan itu. Musik pop Sasak berbicara dalam nada yang rendah dan lirih. Genre ini menceritakan tentang Lombok yang secara fisik tetap ada. Akan tetapi, pulau Lombok semakin hari semakin sulit dirasakan sebagai sebuah rumah yang utuh. Sebenarnya.
Malaysia, 14 Januari 2026