Asal-usul Patung Jamu Gendong dan Pak Tani di Bulakrejo, Lokasi COD Favorit di Sukoharjo
January 14, 2026 05:12 PM

 

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Pernah punya pengalaman melintasi Jalan Solo-Wonogiri, tepatnya di Bulakrejo, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, melihat patung jamu gendong dan pak tani?

Patung Jamu ini terletak tepat di timur Gapura Selamat Datang Kabupaten Sukoharjo.

Bagi Warga Sukoharjo, Patung Jamu kerap menjadi lokasi COD atau sekadar nongkrong malam hari.

Pantauan TribunSolo.com, di bawah patung ini kerap ramai pada malam hari.

Baca juga: Sejarah Klenyem, Gorengan Jadul di Solo yang Kini Mulai Langka

Yam Patung Jamu Gendong dan Patung Pak Tani seolah sudah menjadi salah satu patung ikonik di Sukoharjo.

Lokasinya berjarak 9,9 kilometer dari pusat Kota Solo atau kurang lebih 26 menit kendaraan bermotor.

Kedua patung ini bukan sekadar elemen penghias ruang publik, melainkan simbol kuat identitas, budaya, dan potensi daerah Sukoharjo.

Sejarah Patung Jamu Gendong

Patung Jamu Gendong dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Sukoharjo pada tahun 1997.

Konon, ide pembuatan Patung Jamu Gendong berasal dari salah satu tokoh masyarakat Sukoharjo bernama Haryanto.

Ia dikenal sebagai pencinta jamu dan memiliki kekhawatiran bahwa tradisi jamu suatu saat bisa dilupakan masyarakat.

Pembangunan patung ini melibatkan seniman-seniman dari Yogyakarta serta pematung profesional lainnya, dengan waktu pengerjaan mencapai dua tahun.

Patung setinggi 8 meter ini terbuat dari beton, dan hingga kini masih berdiri kokoh sebagai penanda kawasan.

Baca juga: Asal-usul Masjid Argomedjono di Tawangmangu Karanganyar, Konon Dibangun dengan Bantuan Sapi

Makna Filosofis Patung Jamu Gendong

Patung Jamu Gendong menggambarkan seorang perempuan yang menggendong botol-botol jamu, merepresentasikan penjual jamu gendong.

Dalam budaya Jawa, jamu gendong adalah sosok perempuan yang menjajakan jamu tradisional dengan berjalan kaki dari kampung ke kampung sambil menggendong botol jamu di punggungnya.

Lapak di Pasar Jamu Nguter Sukoharjo
PRODUK JAMU - Lapak di Pasar Jamu Nguter Sukoharjo (Gmaps Pasar Jamu)

Figur perempuan dalam patung ini memiliki makna mendalam.

Ia melambangkan peran perempuan dalam menjaga tradisi jamu, mulai dari meracik, menjaga kualitas, hingga mewariskan pengetahuan jamu secara turun-temurun.

Perempuan Jawa juga identik dengan kelembutan, kesabaran, kebijaksanaan, serta ketelatenan, nilai-nilai yang selaras dengan filosofi jamu sebagai minuman kesehatan alami.

Patung Jamu Gendong dibangun sebagai bentuk apresiasi pemerintah kepada masyarakat Sukoharjo yang selama ini konsisten menjaga dan melestarikan warisan budaya jamu.

Baca juga: Asal-usul Kampung Batik Laweyan Solo : Berkembang Mulai Abad ke-15, Kini jadi Destinasi Wisata

Patung Pak Tani, Simbol Kesuburan Sukoharjo

Di sisi Patung Jamu Gendong berdiri Patung Pak Tani, yang melambangkan kesuburan tanah Sukoharjo serta kekayaan hasil bumi yang melimpah.

Patung ini menegaskan bahwa pertanian menjadi fondasi penting dalam kehidupan masyarakat Sukoharjo, termasuk sebagai penyedia bahan baku utama jamu berupa empon-empon.

Kehadiran kedua patung ini saling melengkapi: Pak Tani sebagai simbol penghasil bahan alam, dan Jamu Gendong sebagai simbol pengolah dan penjaga tradisi.

Mengapa Sukoharjo Identik dengan Jamu?

Kabupaten Sukoharjo dikenal dengan berbagai julukan, seperti Kota Jamu, Kota Pramuka, dan House of Souvenir.

Julukan Kota Jamu tidak lepas dari keberadaan Pasar Jamu Nguter, yang terletak di Dusun II, Nguter, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo.

Pasar Jamu Nguter telah ada sejak puluhan tahun lalu dan hingga kini menjadi pusat perdagangan jamu tradisional yang dijalankan secara turun-temurun.

Baca juga: Asal-usul Desa Bugisan Klaten, Jejak Prajurit Bogis hingga Lahirnya Desa Wisata Candi Plaosan

Puluhan pedagang jamu menjajakan berbagai produk berbahan empon-empon, mulai dari jamu gendong hingga jamu kemasan modern.

Popularitas Pasar Jamu Nguter semakin meningkat setelah diresmikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) saat itu, Puan Maharani.

Bahkan, produk jamu dari Nguter kini telah dipasarkan secara online ke berbagai daerah di Indonesia.

Selain itu, ada fakta bahwa banyak perantau asal Sukoharjo, khususnya dari Nguter, yang berprofesi sebagai penjual jamu gendong di berbagai kota.

Hal inilah yang turut memperkuat citra Sukoharjo sebagai Kota Jamu.

Dukungan Pemerintah dalam Pelestarian Jamu

Sebagai bentuk dukungan nyata, Pemerintah Kabupaten Sukoharjo menjadikan batik bermotif jamu gendong sebagai seragam resmi para pejabat.

Seragam berwarna merah dan hitam ini dikenakan setiap Jumat pada minggu pertama dan kedua.

Selain itu, Sukoharjo juga aktif dalam berbagai gerakan pelestarian jamu.

Salah satunya adalah gerakan minum jamu setiap Jumat yang diwajibkan bagi seluruh OPD, BUMD, hingga sektor swasta.

Gerakan ini diinisiasi oleh Bupati Sukoharjo Etik Suryani dan diluncurkan secara resmi pada April 2022.

Kebijakan tersebut merupakan upaya memberdayakan UMKM jamu agar terus berkembang.

Terlebih, jamu telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO, dan Sukoharjo menjadi salah satu daerah yang berperan besar dalam pelestariannya.

Sukoharjo juga pernah menggelar pemecahan rekor MURI minum jamu serentak di Alun-alun Sukoharjo.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.