Apa Mata Uang Iran? Ini Sebabnya Bisa Setara 0 Euro
GH News January 14, 2026 07:10 PM
Jakarta -

Negara Iran kini tengah disorot. Gelombang unjuk rasa yang telah dimulai sejak bulan lalu menemui titik baru. Mata uang Iran dikabarkan jeblok setara 0 terhadap euro.

Sejak 28 Desember 2025 lalu demonstrasi terjadi di Iran. Semula demo diinisiasi oleh para pedagang dan pelaku usaha, untuk mengkritik lemahnya perekonomian Iran karena inflasi dan nilai tukar rial yang kian terpuruk.

Apa Mata Uang Iran?

Iran memiliki mata uang rial. Disebabkan mata uang rial hampir tidak bernilai di hadapan euro, hal ini semakin memperburuk posisi Iran pada sistem keuangan global. Akibatnya, penduduk Iran semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Nilai rial terhadap euro menjadi nol. Artinya mata uang ini tidak lagi diterima mapun dapat ditukarkan di 27 negara Uni Eropa.

Dilansir dari The Sunday Guardian, penyusutan nilai mata uang ini sangat drastis. Nilai tukar rial Iran terhadap rupee India kini hanya bernilai 0,000091 paise. Sementara nilai rial Iran terhadap dolar AS menjadi sekitar 0,0000010 sen.

Apa yang Terjadi pada Mata Uang Iran?

Klaim mata uang Iran yang telah 'runtuh' sebenarnya tidak bisa dimaknai begitu saja. Menurut pakar, selama suatu negara masih beroperasi, maka tidak ada mata uang yang benar-benar tidak berdaya. Namun, lesunya perekonomian berdampak pada merosotnya daya beli secara massal, depresiasi ekstrem, dan kemungkinan redenominasi.

Pada Oktober 2025 lalu, pemerintahan Iran mendukung rencana penghapusan empat angka nol pada mata uang rial selama dua tahun masa persiapan dan tiga tahun masa transisi. Pada masa transisi uang kertas lama dan baru akan beredar dalam waktu bersamaan.

Berdasarkan penuturan para pengamat ekonomi, langkah yang diambil pemerintahan Iran adalah bentuk penyesuaian ulang atau "reset". Langkah sementara ini berupaya untuk mengendalikan mata uang di atas kertas. Namun, tantangan ekonomi yang berakar pada inflasi, pertumbuhan yang lambat, dan akses terbatas dengan mata uang asing, belum sepenuhnya terselesaikan.

Lima Faktor Utama di Balik Melemahnya Nilai Tukar Mata Uang Iran

1. Sanksi AS dan Internasional: Pembatasan akses terhadap dolar untuk transaksi ekspor, terlebih pada minyak yang meningkatkan tekanan terhadap rial Iran.

2. Hiperinflasi: Harga barang yang terus meroket hingga 42,5% sejak akhir 2025, memaksa penduduk Iran untuk beralih ke emas, mata uang asing, hingga bahan pokok lain ketimbang menyimpan uang tunai.

3. Pertumbuhan Ekonomi yang Lemah: Kontraksi sebesar 1,7% yang dialami PDB Iran pada 2025 lalu, serta proyek penyusutan yang akan berlanjut di 2026, menghadang pendapatan negara dan stabilitas fiskal.

4. Perombakan Kebijakan: Reformasi baru pemerintahan Iran mewajibkan importir membeli mata uang asing dengan kurs pasar terbuka, sehingga permintaan dolar melonjak drastis.

5. Gejolak Politik: Aksi protes berkelanjutan terhadap kepemimpinan ulama dan kekeliruan dalam membenahi perekonomian, menambah risiko "risk premium" yang mempercepat depresiasi mata uang.

Devaluasi mata uang telah mendorong tingkat inflasi tahunan Iran melewati 42%. Harga makanan melonjak lebih dari 70% di beberapa sektor. Dilaporkan melalui International Business Times, daging telah menjadi barang mewah yang tidak terjangkau bagi lebih dari 7 juta warga.

Tekanan ekonomi sebagian besar disebabkan oleh faktor eksternal dan internal. Pada Juni 2025, serangan Israel merusak bengkel sentrifugal di Isfahan, yang dikonfirmasi oleh IAEA. Sanksi balasan PBB dipulihkan pada akhir September, diikuti oleh perluasan tindakan AS dan kebijakan yang diperbarui pada awal 2025.

"Indikator sebenarnya di Iran adalah nilai tukar dolar-rial, karena harga barang, sewa, dan transportasi semuanya bergantung padanya," kata seorang pakarkepada The New Arab.

Intensitas Unjuk Rasa Melonjak, Penduduk Iran Ikut Terdampak

Ledakan unjuk rasa terjadi hampir di seluruh wilayah bagian di Iran. Aksi tersebut menimbulkan sejumlah korban jiwa dan puluhan ribu orang diamankan. Para demonstran menyuarakan tuntutan atas lonjakan inflasi, naiknya harga pangan, dan melemahnya nilai tukar rial.

Pemerintahan Trump dan sejumlah pengamat global masih terus memantau situasi terbaru di Iran. Presiden AS Donald Trump mengancam akan menjatuhkan sanksi dan denda terhadap mitra dagang Iran, jika para demonstran mendapat perlakukan kekerasan. Hal ini akan berdampak pada tekanan ekonomi Internasional.

Rial Melemah, Bitcoin dan Kripto Kian Dilirik

Penurunan kepercayaan masyarakat terhadap mata uang rial, alat transaksi bitcoin dan kripto mulai menarik perhatian. Mata uang digital tersebut bebas dari peraturan bank domestik dan dianggap sebagai pelindung dari laju inflasi. Kendati demikian, terdapat faktor volatilitas, risiko hukum dan hambatan teknologi yang perlu dipertimbangkan jika kripto dan bitcoin digunakan secara massal.

Akankah Rial Kembali Stabil?

Menurut sejumlah ahli, mata uang Iran akan pulih dalam waktu dekat jika redenominasi dan upaya penstabilan berjalan lancar. Akan tetapi kenyataan pahit tetap membayangi Iran, mulai dari gelombang unjuk rasa baru, sanksi berkelanjutan, hingga gejolak politik.

Nasib perekonomian Iran saat ini tengah berada di persimpangan jalan, antara warga dan pemangku kebijaksanaan terus berupaya mencari jalan keluar terbaik. Krisis keuangan Iran yang terjadi saat ini, salah satu yang terburuk dalam sejarah modern.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.