Sekolah Rakyat Terintegrasi 62 Tana Toraja Tampung 73 Siswa, Terapkan Sistem Asrama dan Matrikulasi
January 14, 2026 07:47 PM

TRIBUNTORAJA.COM - Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 62 Tana Toraja yang menempati Gedung SKB Ge’tengan, Kecamatan Mengkendek, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, sebagai sekolah sementara, terus menunjukkan komitmennya dalam memberikan akses pendidikan bagi anak-anak miskin.

Wakil Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 62 Tana Toraja sekaligus Humas, Helena Angelia, menjelaskan bahwa saat ini sekolah tersebut menampung 73 siswa, yang terdiri dari 25 siswa tingkat SD dan 48 siswa tingkat SMA.

Untuk jenjang SD, siswa dibagi ke dalam tiga rombongan belajar (rombel) berdasarkan fase pembelajaran. 

Fase A mencakup kelas 1 dan 2, Fase B kelas 3 dan 4, serta Fase C kelas 5 dan 6, dengan total 25 siswa.

Sementara itu, pada jenjang SMA hanya membuka kelas 10 dan kelas 11. 

Kelas 10 terbagi dalam dua rombel, sedangkan kelas 11 saat ini hanya memiliki satu siswa. 

Secara keseluruhan, jumlah siswa SMA mencapai 47 orang.

“Untuk SMA, jam belajar dimulai pukul 07.00 sampai 15.30 WITA, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan ekstrakurikuler pada pukul 16.00 hingga 17.00 WITA,” jelas Helena saat ditemui, Rabu (14/12/2026).

Sekolah Rakyat Terintegrasi 62 Tana Toraja juga menerapkan sistem asrama. 

sr98
SEKOLAH RAKYAT - Siswa kelas 11 Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 62 Tana Toraja mengikuti mata pelajaran bahasa Inggris, Rabu (14/01/2026). Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 62 Tana Toraja untuk sementara menempati Gedung SKB Ge’tengan, Kecamatan Mengkendek, Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

Saat ini terdapat dua wali asrama laki-laki dan satu wali asrama perempuan, serta tujuh wali asuh yang terdiri dari empat perempuan dan tiga laki-laki.

Dalam kegiatan belajar mengajar, sekolah didukung oleh 14 guru mata pelajaran dan tiga guru agama. 

Dari jumlah tersebut, hanya satu orang berstatus guru tetap, sementara guru SD dan SMA saling berbagi tugas mengajar lintas jenjang.

“Guru SMA juga ikut bergabung mengajar di SD, jadi kami saling melengkapi,” ujar Helena.

Ia menambahkan, siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 62 Tana Toraja berasal dari berbagai wilayah, bahkan ada yang berasal dari daerah paling jauh di perbatasan Tana Toraja, yakni Simbuang dan Mappak, dengan jumlah dua siswa.

Terkait proses pembelajaran, Helena menjelaskan bahwa secara umum mengikuti sistem reguler.

Untuk jenjang SD, siswa Fase A, B, dan C masuk sekolah pukul 07.00 WITA. 

Fase A belajar hingga pukul 11.30 WITA, sementara Fase B dan C hingga pukul 14.00 WITA. Sedangkan siswa SMA belajar serentak mulai pukul 07.00 hingga 15.30 WITA.

Pada tahap awal pembelajaran, sekolah menerapkan program matrikulasi sebagai penyesuaian kemampuan dasar siswa. 

Hal ini dilakukan karena sebagian siswa sebelumnya sempat putus sekolah.

“Dulu itu banyak sekali siswa yang tidak paham huruf dari A sampai Z. Kadang kita tunjukkan huruf B, tapi dia bilang A,” ungkap Helena saat diwawancarai.

Melalui program matrikulasi dan pendampingan intensif oleh guru serta wali asuh, siswa-siswa SD yang belum bisa membaca diberikan bimbingan khusus agar mampu mengejar ketertinggalan.

Helena berharap, keberadaan Sekolah Rakyat Terintegrasi 62 Tana Toraja dapat menjadi jalan bagi para siswa untuk meraih prestasi seperti siswa pada umumnya.

“Harapan kami, mereka bisa mengubah nasib orang tua dan menjadi generasi emas bangsa,” katanya.

Dari pantauan Tribun Toraja, proses belajar mengajar di ruang kelas memanfaatkan teknologi smartboard yang dipasang berdampingan dengan papan tulis konvensional. 

Para siswa tampak antusias mengerjakan tugas yang diberikan guru, mengenakan pakaian seragam berwarna merah lengan pendek.

Tak hanya itu para siswa menggunakan kaos kaki diruangan, tanpa menggunakan sepatu, untuk menjaga lantai kelas tetap bersih.

Gedung Baru

Saat ini gedung permanen Sekolah Rakyat Terintegrasi 62 Tana Toraja sedang dibangun di Buntu Mapongka, Lembang Marinding, Kecamatan Mengkendek.

Lokasi ini berada di kawasan hutan yang telah dibebaskan oleh pihak kehutanan dan disertifikatkan atas nama Sekolah Rakyat, dengan luas lahan mencapai enam hektare.

Peninjauan lokasi pembangunan dilakukan pada Selasa (25/11/2025) oleh sejumlah pejabat, antara lain Bupati Tana Toraja Zadrak Tombeg, Kepala Kejaksaan Negeri Tana Toraja, Dandim 1414 Tana Toraja, Kapolsek Mengkendek, serta perwakilan PT Waskita Karya sebagai pelaksana proyek.

Pemerintah daerah bersama aparat keamanan memastikan pembangunan proyek strategis nasional tersebut berjalan aman dan lancar.

Kehadiran Sekolah Rakyat di kawasan Mapongka diharapkan menjadi tonggak pemerataan pendidikan sekaligus membuka akses masa depan yang lebih baik bagi anak-anak Toraja dari keluarga kurang mampu.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.