TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri mencatat puluhan sapi terpapar Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada awal 2026.
Dalam dua pekan pertama di Bulan Januari 2026, penyakit hewan menular ini masih menjadi ancaman serius bagi peternak.
Plt Kepala DKPP Kabupaten Kediri, Tutik Purwaningsih, mengatakan hingga Senin (12/1/2026) tercatat 49 kasus PMK, dengan rincian 48 sapi sakit dan satu ekor mati.
Kasus terbanyak ditemukan di Kecamatan Tarokan, disusul wilayah lain seperti Purwoasri dan Ngancar.
"Update terakhir sampai tanggal 12 Januari kemarin, ada 48 kasus PMK dengan satu kematian di Kecamatan Tarokan. Ini menunjukkan virus masih ada dan kita harus tetap waspada," ujar Tutik, Rabu (14/1/2026).
Menurut Tutik, PMK mulai kembali terdeteksi sejak 27 Desember 2025 dan terus bertambah hingga awal Januari 2026.
Kecamatan Tarokan menjadi wilayah dengan kasus terbanyak karena merupakan salah satu sentra ternak sapi di Kabupaten Kediri.
"Tarokan itu memang wilayah dengan populasi sapi cukup besar. Begitu ada satu yang terjangkit, penularannya bisa cepat jika tidak segera ditangani," jelasnya.
Baca juga: Dana Desa di Tulungagung Turun Drastis, dari Rp 240 Miliar Tersisa Rp 86 Miliar
Tutik menegaskan bahwa PMK memiliki dampak ekonomi yang besar, seperti yang terjadi sejak wabah tahun 2022 lalu.
Karena itu, DKPP bersama pemerintah pusat terus melakukan langkah-langkah pencegahan melalui vaksinasi, sosialisasi, dan pengawasan terpadu.
"Sejak 2022 sampai sekarang kita tidak pernah berhenti melakukan vaksinasi, edukasi, dan pengawasan. Meski kasus masih ada di 2024 dan sekarang muncul lagi, kita tidak boleh lengah," kata Tutik.
Salah satu faktor yang membuat PMK masih bertahan adalah tingginya mobilitas ternak sapi, terutama sapi potong.
Tutik menyebut sapi potong memiliki tingkat lalu lintas yang sangat tinggi, mulai dari pasar hewan ke pasar lain hingga keluar masuk daerah.
"Sapi potong itu mobilitasnya luar biasa. Bisa dari satu pasar ke pasar lain, dari satu wilayah ke wilayah lain, bahkan keluar daerah. Ini sangat berpengaruh pada penyebaran PMK," ungkapnya.
Selain itu, menurunnya kesadaran peternak terhadap vaksinasi juga menjadi tantangan.
Menurut Tutik, sebagian peternak merasa aman karena sudah lama tidak ada PMK, padahal virus tetap ada dan bisa muncul kembali saat daya tahan ternak menurun.
"Ada yang merasa sudah lama tidak ada PMK, lalu tidak vaksin lagi. Padahal begitu musim berganti atau kondisi turun, virus bisa menyerang lagi," bebernya.
Untuk memperkuat pengawasan, tim dari Balai Besar Veteriner (BBVET) Wates yang merupakan unit teknis Kementerian Pertanian juga turun langsung ke Kediri.
Tim tersebut melakukan surveilans di Kecamatan Wates yang dilaporkan memiliki cukup banyak kasus.
"Surveilans hari ini itu meliputi pengambilan sampel darah, baik dari sapi yang sakit maupun yang masih sehat. Ini untuk melihat efektivitas vaksin dan pola penularan," jelas Tutik.
DKPP juga mengimbau peternak agar segera melakukan tindakan jika menemukan sapi dengan gejala PMK.
Gejala yang perlu diwaspadai antara lain mulut dan bibir pecah-pecah, keluar air liur, demam tinggi, malas makan, serta luka di kaki."Kalau ada gejala seperti itu, segera pisahkan sapi, lakukan karantina mandiri, dan hubungi petugas kesehatan hewan untuk pengobatan," tegasnya.
Tutik menambahkan, hingga saat ini puluhan sapi yang terpapar masih dalam proses pengobatan dan pemantauan.
Ia meminta peternak untuk tidak menjual sapi yang sakit dan terus menjaga kebersihan kandang dengan disinfektan.
"Kandang harus rutin disemprot, orang luar dibatasi masuk. Ini penting agar virus tidak menyebar ke ternak lain," tandasnya.
(Isya Anshori/TribunMataraman.com)
Editor : Sri Wahyunik