TRIBUNNEWS.COM – Indonesia dilaporkan tengah mempertimbangkan akuisisi jet tempur dan drone dari Pakistan, Reuters melaporkan pada Senin (12/1/2026) lalu.
Salah satu sumber mengatakan kepada Reuters bahwa pembicaraan tersebut mencakup kemungkinan penjualan jet tempur JF-17, pesawat multiperan yang dikembangkan bersama oleh Pakistan dan China, serta drone yang dirancang untuk misi pengawasan dan serangan.
Dua sumber lainnya menyebutkan pembicaraan tersebut telah berada pada tahap lanjut dan melibatkan lebih dari 40 unit jet JF-17.
Salah satu sumber juga mengatakan Indonesia tertarik pada drone Shahpar buatan Pakistan.
Namun, sumber-sumber tersebut tidak mengungkapkan pembahasan terkait jadwal pengiriman maupun durasi kesepakatan yang diusulkan.
Baik Kementerian Pertahanan Indonesia maupun militer Pakistan mengonfirmasi adanya pertemuan antara Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin dan Marsekal Udara Pakistan Zaheer Ahmed Baber Sidhu.
Dilaporkan Tribunnews pada 13 Januari 2025, Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) RI Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait menjelaskan bahwa pertemuan tersebut menegaskan keseriusan kedua negara dalam melanjutkan dan memperdalam kerja sama pertahanan bilateral yang telah terjalin selama bertahun-tahun.
Namun, Rico menegaskan belum ada pembahasan yang mengarah pada keputusan atau komitmen pembelian jet tempur JF-17.
Ia mengatakan agenda pertemuan masih sebatas dialog kerja sama pertahanan secara umum dan berada pada tahap penjajakan.
“Belum ada pembahasan yang mengarah pada keputusan atau komitmen pembelian, dan belum ada hal yang bersifat mengikat,” kata Rico.
Saat ini, Indonesia tengah menjalani proses pengadaan sejumlah jet tempur dari berbagai negara.
Berikut rangkuman Tribunnews mengenai pesawat tempur yang akan dibeli atau sedang direncanakan Indonesia dalam program modernisasi TNI Angkatan Udara.
Baca juga: Akhir Januari, Gelombang Pertama Jet Tempur Rafale Indonesia Tiba, Sang Omnirole Fighter
Asal: Prancis
Status Pembelian: Sudah kontrak (42 unit), berpotensi bertambah menjadi 66 unit
Mengutip aerospaceglobalnews.com, perjalanan pengadaan Rafale oleh Indonesia dimulai pada Februari 2022, ketika Indonesia menandatangani kontrak dengan Dassault Aviation untuk 42 unit jet tempur, terdiri dari 26 varian satu tempat duduk dan 16 varian dua tempat duduk.
Jumlah tersebut kemudian meningkat secara signifikan.
Setelah kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Mei 2025, Indonesia mengumumkan rencana untuk meningkatkan pesanan menjadi 66 pesawat, menjadikan Indonesia salah satu operator Rafale terbesar di luar Eropa.
Pada Agustus 2025, Indonesia memamerkan jet tempur Dassault Rafale pertamanya.
Pesawat dua tempat duduk dengan nomor registrasi T-0301 terlihat dalam konfigurasi tempur lengkap di fasilitas Dassault Aviation di Bordeaux, Prancis, dengan kamuflase abu-abu dua warna dan lambang TNI Angkatan Udara.
Pesawat tersebut juga menampilkan lambang Sayap Udara ke-6, dengan Skuadron Udara ke-12 direncanakan menjadi unit operasional pertamanya.
Pengungkapan ini bertepatan dengan program pelatihan intensif di Prancis, di mana pilot dan teknisi Indonesia tengah dipersiapkan untuk mengoperasikan Rafale.
TNI AU berencana menempatkan armada Rafale di Pangkalan Udara Supadio, Pontianak, serta Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, yang keduanya sedang menjalani peningkatan besar-besaran.
Rafale akan menggantikan jet BAE Hawk 100/200 yang telah menua serta melengkapi armada F-16 dan Sukhoi Su-27/30 Indonesia yang jumlahnya semakin berkurang dan terkendala masalah perawatan serta suku cadang.
Transisi ini diharapkan menutup kesenjangan kemampuan dan meningkatkan daya gentar Indonesia dalam menjaga wilayah udara kepulauan yang luas.
Dengan pengiriman dijadwalkan dimulai pada awal 2026, program Rafale diproyeksikan menjadi tonggak penting dalam transformasi TNI AU.
Dengan perkiraan biaya sekitar 130 juta dolar AS per unit dan nilai total program melebihi 8,5 miliar dolar AS, pengadaan Rafale dipandang sebagai investasi strategis dalam kedaulatan dan stabilitas regional.
Asal: China
Status Pembelian: Rencana besar dikonfirmasi (42 unit)
Pada Oktober 2025, pejabat pertahanan menyatakan Indonesia akan mengakuisisi setidaknya 42 jet tempur Chengdu J-10C buatan China, menandai pembelian pesawat tempur non-Barat pertama Indonesia.
Baca juga: Jet Tempur J-10 yang Kejutkan Barat Segera Terbang di Jakarta, Negara Mana Saja yang Punya?
Para analis menilai kesepakatan tersebut berpotensi menyentuh sensitivitas regional dan membawa implikasi geopolitik.
“Mereka akan segera terbang di atas Jakarta,” kata Sjamsoeddin, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Rencana pembelian J-10 pertama kali diungkap pada September 2025 oleh juru bicara Kementerian Pertahanan Brigjen Frega Wenas.
Media lokal melaporkan TNI AU masih meninjau jet tempur buatan China tersebut untuk memastikan akuisisi benar-benar memperkuat pertahanan udara nasional.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kemudian mengonfirmasi bahwa kementeriannya telah menyetujui anggaran pembelian pesawat dari China senilai lebih dari 9 miliar dolar AS.
“Jadi, semuanya seharusnya sudah siap,” ujar Sadewa.
“Namun saya harus memeriksa kembali kapan pesawat-pesawat itu akan tiba di Jakarta dari Beijing.”
Asal: Turki
Status Pembelian: Kontrak ditandatangani (48 unit)
Indonesia dan Turki telah menandatangani kontrak implementasi pengadaan 48 jet tempur KAAN, sebagaimana dilaporkan AeroTime.
Kontrak tersebut diteken dalam Pameran Industri Pertahanan Internasional (IDEF) 2025 di Istanbul pada 26 Juli 2025.
Kesepakatan ini menyusul perjanjian antar pemerintah (G2G) yang ditandatangani pada 11 Juni 2025 dan menegaskan niat Indonesia tidak hanya membeli pesawat, tetapi juga berpartisipasi dalam pengembangannya.
Kementerian Pertahanan Indonesia menyebut kemitraan tersebut mencakup transfer teknologi serta pembentukan basis industri lokal di dalam negeri.
KAAN, yang dikembangkan Turkish Aerospace Industries (TAI) dan sebelumnya dikenal sebagai TF-X, merupakan jet tempur multiperan siluman generasi kelima.
Pesawat ini melakukan penerbangan perdana pada Februari 2024.
Indonesia diperkirakan menerima unit pertama pada 2028, dengan varian awal menggunakan mesin General Electric F110 sebelum beralih ke mesin buatan Turki pada dekade berikutnya.
Baca juga: Pilot TNI AU Letkol Pnb Ferrel Venom Rigonald Sukses Jajal Pesawat Tempur KF-21/IF-X Boramae
Asal: Korea Selatan
Status Pembelian: Negosiasi lanjut (±16 unit)
Indonesia tengah meninjau kerangka kerja yang direvisi untuk menghidupkan kembali partisipasinya dalam program jet tempur KF-21, dengan fokus pada potensi akuisisi 16 unit KF-21 Block II.
Media intelijen pertahanan Janes.com melaporkan pada 8 Januari 2026 bahwa rencana tersebut dibahas dalam diskusi tertutup di Kementerian Pertahanan Indonesia pada 7 Januari 2026, yang melibatkan pejabat Indonesia, Korea Aerospace Industries, dan PT Dirgantara Indonesia.
Langkah ini menandai penyesuaian ulang komitmen Indonesia sebelumnya, yang semula mencakup jumlah pesawat jauh lebih besar tetapi terkendala penundaan pembayaran.
Dengan mempersempit target menjadi skala satu skuadron, Indonesia dinilai memprioritaskan kelayakan operasional jangka pendek.
Minat yang diperbarui juga tercermin dari dipamerkannya model KF-21 pada ajang Indo Defence 2025.
Indonesia awalnya merupakan mitra utama dengan kepemilikan saham 20 persen, sebelum dikurangi menjadi 7,5 persen akibat kendala finansial.
Asal: Amerika Serikat
Status Pembelian: Masih rencana
Pada 21 Agustus 2023, Indonesia dan Boeing menyatakan komitmen untuk menyelesaikan penjualan 24 unit F-15EX, dengan syarat persetujuan pemerintah AS.
Komitmen tersebut diumumkan saat kunjungan Prabowo Subianto, yang kala itu menjabat Menteri Pertahanan, ke Amerika Serikat.
Nota Kesepahaman ditandatangani oleh Marsekal Udara Yusuf Jauhari dan Mark Sears, Wakil Presiden sekaligus Manajer Program Boeing Fighters, di fasilitas Boeing di St. Louis.
F-15EX merupakan varian paling canggih dari keluarga F-15, dengan sistem kendali terbang digital, peperangan elektronik terbaru, kokpit digital penuh, serta kemampuan perangkat lunak mutakhir.
Namun hingga kini, belum ada perkembangan signifikan terkait akuisisi F-15EX.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)