Oleh: Prof Dr Apridar SE MSi, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh
DI tengah turbulensi ekonomi global yang dipicu ketegangan geopolitik, inflasi, dan perlambatan perdagangan, negara-negara ASEAN terus berjuang menjaga momentum pertumbuhan. Tantangan klasik seperti ketergantungan pada ekspor komoditas dan volatilitas aliran modal asing kini diperparah oleh disrupsi teknologi dan transisi energi.
Dalam konteks ini, pencarian mesin pertumbuhan baru yang berkelanjutan dan tangguh menjadi imperatif. Bukti empiris terkini, sebagaimana diungkapkan dalam serangkaian penelitian ekonometrik mutakhir, menunjuk pada sebuah sinergi krusial: transformasi digital dan stabilitas makroekonomi bukan hanya pendukung, melainkan dual engine of growth yang saling menguatkan bagi masa depan kawasan.
Temuan dari analisis jangka panjang mengkonfirmasi adanya hubungan keseimbangan yang kokoh antara berbagai variabel ekonomi. Yang paling mencolok adalah kontribusi positif signifikan dari transformasi digital dan stabilitas makroekonomi terhadap pertumbuhan ekonomi ASEAN. Dalam perspektif jangka panjang, transformasi digital bertindak sebagai engine of growth utama.
Baca juga: Aceh sebagai Pintu Gerbang Perdagangan Internasional, Mengaspirasi Pembangunan Dubai
Namun, kisahnya menjadi lebih kompleks dan menarik ketika dilihat dari lensa jangka pendek. Di sini, transformasi digital tetap menunjukkan asosiasi positif dan signifikan terhadap pertumbuhan. Setiap peningkatan 10 persen dalam adopsi internet berkecepatan tinggi dikaitkan dengan peningkatan pertumbuhan PDB per kapita.
Namun, stabilitas makroekonomi justru menunjukkan hubungan negatif yang signifikan. Paradoks ini mungkin mencerminkan realitas pahit yang dihadapi beberapa negara ASEAN pasca pandemi: tekanan inflasi yang membandel (di atas 5 % di beberapa negara pada awal 2023), pelemahan nilai tukar yang meningkatkan beban utang, dan pengetatan kebijakan moneter yang diperlukan untuk meredam inflasi justru dalam jangka pendek memperlambat aktivitas ekonomi.
ASEAN, dalam fase ini, mengalami perlambatan, bahkan kontraksi di beberapa indikator makro sebagai efek samping dari upaya penyeimbangan kembali (normalisasi kebijakan) setelah stimulus besar-besaran selama krisis.
Di luar dua variabel kunci tersebut, faktor-faktor fundamental lain tetap vital. Baik dalam jangka pendek dan panjang, modal manusia (kualitas tenaga kerja), investasi asing langsung (FDI), keterbukaan perdagangan, dan suku bunga (sebagai cerminan kebijakan moneter) terbukti berpengaruh positif dan signifikan.
ASEAN masih sangat bergantung pada FDI, yang pada 2022 mencapai rekor USD 222.5 miliar (UNCTAD), dengan sebagian besar mengalir ke sektor manufaktur dan digital. Keterbukaan perdagangan, dengan rasio perdagangan terhadap PDB seringkali di atas 100?gi negara seperti Singapura, Malaysia, dan Vietnam, tetap menjadi nadi pertumbuhan.
Temuan paling revolusioner datang dari uji kausalitas Granger dalam model VECM, yang mengungkap hubungan sebab-akibat dua arah (bidirectional causality) antara transformasi digital dan stabilitas makroekonomi, baik dalam jangka panjang maupun pendek. Ini adalah penegasan empiris bahwa kedua hal ini saling bergantung dan saling memacu.
Di satu sisi, kesiapan implementasi transformasi digital dalam kebijakan publik seperti melalui platform National Single Window untuk perdagangan, sistem pembayaran digital pemerintah-ke-masyarakat (G2P), atau identitas digital nasional mempercepat transaksi, memenuhi kebutuhan publik dengan efisien, dan pada akhirnya meningkatkan produktivitas ekonomi secara keseluruhan. Efisiensi ini menciptakan ruang fiskal yang lebih sehat dan mengurangi distorsi, yang pada gilirannya mendukung stabilitas makro.
Di sisi lain, kontrol stabilitas makroekonomi menjadi lebih presisi jika data transaksi ekonomi dapat diakses dan dianalisis secara digital secara real-time. Bank sentral dapat memantau inflasi dengan data harga e-commerce yang lebih real-time.
Otoritas fiskal dapat mendeteksi kebocoran penerimaan dan menargetkan subsidi dengan lebih akurat melalui data digital. Dengan kata lain, stabilitas makro yang terkendali menciptakan lingkungan yang kondusif bagi investasi lebih lanjut dalam transformasi digital. Hal tersebut bukan substitusi, melainkan komplementer di era perkembangan teknologi masif.
Hubungan kausalitas dua arah lainnya yang terungkap adalah antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas makroekonomi dalam jangka pendek. Ini mengisyaratkan bahwa kepastian ekonomi (expectations) sangat penting dalam implementasi kebijakan pengendalian stabilitas makro.
Kebijakan yang dianggap dapat mendukung pertumbuhan akan membangun kepercayaan, yang kemudian memudahkan upaya stabilisasi. Begitu pula, kausalitas dari transformasi digital ke pertumbuhan ekonomi di jangka pendek menegaskan bahwa proyeksi digitalisasi dalam kebijakan publik sangat baik untuk mempercepat pertumbuhan, namun memerlukan pemantauan dan evaluasi berkala terhadap hambatan di tingkat pelaku usaha (Sri Andaiyani dkk, 2025).
Berdasarkan temuan ini, para pembuat kebijakan di ASEAN memiliki peta jalan yang jelas. Pertama, mendorong investasi dalam studi dan pengembangan teknologi digital, khususnya yang mendukung kebijakan publik (GovTech), harus menjadi prioritas jangka pendek. Ini memastikan bahwa stakeholder, dari UMKM hingga korporasi, dapat memenuhi kebutuhan efisiensinya. Inisiatif seperti ASEAN Digital Masterplan 2025 harus diimplementasikan secara agresif.
Kedua, konvergensi digital yang lebih besar, didorong oleh kemajuan teknologi, berpotensi memperkuat integrasi regional dan mendukung stabilitas makroekonomi lintas batas. Harmonisasi regulasi perlindungan data, pembayaran digital lintas negara, dan standar keamanan siber akan menciptakan pasar digital ASEAN yang lebih terintegrasi, mengurangi ketimpangan digital, dan pada akhirnya menciptakan fondasi makroekonomi kawasan yang lebih stabil.
Ketiga, dan yang tak kalah pentingnya, pengendalian stabilitas makroekonomi yang konvergen yakni kebijakan fiskal dan moneter yang terkoordinasi dan prudent akan membantu pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Stabilitas harga, nilai tukar yang kompetitif, dan neraca fiskal yang berkelanjutan menciptakan lingkungan yang mendorong lebih banyak aktivitas ekonomi dan investasi, termasuk investasi di sektor digital itu sendiri.
Kesimpulannya, masa depan pertumbuhan ekonomi ASEAN tidak terletak pada pilihan antara transformasi digital atau stabilitas makroekonomi. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa keduanya adalah mesin kembar yang saling terhubung dan saling mengisi bahan bakar.
Transformasi digital menyuntikkan efisiensi dan inovasi, sementara stabilitas makroekonomi menyediakan landasan yang kokoh untuk suntikan tersebut bekerja optimal. Tugas para pemimpin ASEAN kini adalah merancang kebijakan yang secara simultan memacu roda gigi digital sekaligus menjaga kemudi makroekonomi tetap stabil.
Hanya dengan sinergi dan terpadu tersebut, ASEAN dapat berlayar dengan percaya diri menuju masa depan pertumbuhan yang inklusif, berkelanjutan, dan tangguh.