TRIBUNNEWS.COM - Aksi kekerasan sekolah kembali terjadi, guru SMK N 3 Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi dikeroyok oleh siswanya sendiri.
Kasus menunjukkan lemahnya sistem pembinaan dan penanganan konflik di sekolah.
Siswa yang harusnya disiplin dan menghormati guru justru berbanding terbalik.
Aksi pengeroyokan tersebut bermula ketika korban, Agus Saputra menegurnya dengan kalimat yang tak pantas.
"Guru olahraganya juga ada pada saat itu,"
"Pada saat itu juga saya datang ke kelasnya. Saya tanya siapa yang meneriakkan saya dengan kata-kata yang tidak pantas itu," katanya.
Seorang siswa pun mengaku ia melontarkan kalimat tak pantas tersebut.
"Refleks dia bilang saya kemudian saya tampar satu kali," tuturnya, dikutip dari TribunJambi.com.
Namun, saat istirahat, ia justru ditantang oleh muridnya.
"Terjadi mediasi sebelum ada pengeroyokan terhadap saya. Saya sudah berusaha tenang,"
"Pada saat itu saya masih berada di dalam kantor dengan ada CCTV sebagai pembuktian," jelasnya.
Baca juga: Guru SMK di Jambi Tampar Siswa Berujung Dikeroyok, Korban Mengaku 2 Tahun Dibully Siswa
Saat mediasi, siswa tersebut memintanya untuk meminta maaf.
“Mereka meminta saya meminta maaf untuk hal yang tidak saya lakukan. Kemudian saya membeli alternatif kepada mereka,” lanjut Agus.
Alternatif tersebut adalah sebuah petisi untuk mengambil suara apakah para siswa tak ingin ia mengajar lagi di sekolah tersebut atau tidak.
"Membuat petisi, kalau seandainya mereka tidak menginginkan saya lagi untuk mengajar di sana,"
"Atau, mereka mengubah perangai (perilaku) mereka menjadi lebih baik lagi dari sekarang," lanjutnya.
Agus juga mengaku, ia sempat diajak komite sekolah ke kantor guru.
"Saya diajak komite masuk ke ruang kantor, di saat itulah terjadi pengeroyokan oleh anak kelas 1, kelas 2, kelas 3," ucapnya.
Video pengeroyokan tersebut pun viral di media sosial.
Agus mengaku tubuhnya memar-memar setelah dikeroyok.
Ranto M selaku Kepala SMKN 3 Tanjung Jabung Timur mengonfirmasi ada aksi pengeroyokan tersebut.
Ia menuturkan, pihak sekolah sudah melakukan mediasi dengan mengajak sejumlah pihak.
"Benar terjadi perselisihan antara guru dan siswa. Hari ini sudah kita lakukan mediasi yang dihadiri kepala sekolah, Babinsa, Bhabinkamtibmas, camat, lurah, ketua komite, serta pihak siswa dan guru," ujar Ranto, Rabu (14/1/2026).
Mengutip TribunJambi.com, Ratno mengimbau bagi orang tua dan siswa untuk tak mudah terprovokasi dengan isu yang beredar.
"Kami minta masyarakat tidak terpancing informasi yang belum tentu benar. Mari bersama menjaga keamanan dan ketertiban,"
"Percayakan penanganannya kepada sekolah, TNI, dan Polri," tegasnya.
Baca juga: Tolak Pilkada lewat DPRD, PDIP Disebut Dikeroyok dan Ditinggalkan Sendirian
(Tribunnews.com, Muhammad Renald Shiftanto)(TribunJambi.com, Syrillus Krisdianto/Rifani Halim)