Fakta Guru SMK Dikeroyok Siswa di Jambi, Terungkap Ucapan Jadi Pemicu Utama Permasalahan
January 15, 2026 09:09 AM

TRIBUN-MEDAN.com - Kasus pengeroyokan yang menimpa Agus Saputra guru SMKN 3 Berbak Kabupaten Tanjung Jabung Timur viral di media sosial.

Adapun video kekerasan fisik tersebut beredar luas di media sosial terutama di instagram.

Berikut beberapa fakta yang dirangkum melansir dari Tribunjambi.com

1. Diduga Berawal dari Kalimat

Informasi yang dihimpun Tribun Jambi, peristiwa bermula dari ucapan guru bernama Agus Saputra yang diduga menyinggung perasaan siswa. 

Kalimat yang dilontarkan guru dianggap telah menghina orang tua siswa, sehingga memicu emosi beberapa siswa.

Cekcok mulut tak terhindarkan, hingga berujung pada aksi kekerasan fisik. 

Sejumlah siswa mengejar Agus Saputra tersebut sampai ke halaman sekolah lalu melakukan kekerasan fisik.

2. Guru Sempat Panas

 Agus Saputra. Guru SMK Negeri 3 Tanjab Timur, yang dikeroyok siswanya. 

Situasi sempat memanas, sebelum guru-guru lain yang berada di lokasi melerai.

Para guru lalu membawa Agus Saputra ke sebuah ruangan untuk menghindari aksi lanjutan.

GURU DIKEROYOK - Seorang guru menjadi korban dugaan pengeroyokan siswa SMK di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi pada Selasa (13/01/2026).
GURU DIKEROYOK - Seorang guru menjadi korban dugaan pengeroyokan siswa SMK di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi pada Selasa (13/01/2026). (Instagram/Tangkapan layar Ig @jambisharing)

3. Ketegangan Saat Jam Istirahat

Pascakejadian, Agus Saputra melaporkan peristiwa itu ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi.

Saat diwawancarai Tribun Jambi, dia menuturkan kronologi tindak kekerasan di lingkungan sekolah.

Bermula saat dia ditegur seorang siswa dengan nada tidak sopan dari dalam kelas, sekitar pukul 09.00-10.00 WIB, ketika proses belajar mengajar berlangsung.

"Dia menegur saya dengan kata-kata tidak pantas. Saat itu juga saya masuk ke kelas dan menanyakan siapa yang memanggil saya seperti itu,” ujar Agus.

Menurut Agus, siswa tersebut mengaku dan menantangnya. 

Agus pun mengakui sempat menampar siswa itu satu kali secara refleks. 

Ketegangan kemudian berlanjut hingga jam istirahat dan siang hari.

4. Minta Maaf dan Petisi

Dia menyebut telah ada mediasi di sekolah. Dalam mediasi itu, siswa memintanya meminta maaf. 

Sementara di sisi lain, Agus menawarkan solusi berupa petisi, apakah siswa masih menginginkannya mengajar atau berkomitmen memperbaiki perilaku.

Seusai mediasi, Agus mengaku diajak oleh Komite Sekolah masuk ke kantor. 

Di lokasi itu, ia diduga dikeroyok oleh sejumlah siswa lintas kelas.

"Di situlah terjadi pengeroyokan oleh anak kelas 1, 2, dan 3," katanya.

5. Soal Senjata Tajam

Dia menuturkan sempat ada siswa yang membawa senjata tajam dan situasi terekam video yang kemudian viral di media sosial. 

Dalam salah satu potongan video, Agus pun terlihat membawa celurit.

Menanggapi video tersebut, Agus menjelaskan celurit itu merupakan alat pertanian yang tersedia di sekolah, karena SMKN 3 Tanjab Timur merupakan SMK Pertanian.

"Saya hanya menggertak agar mereka bubar, tidak ada niat menyakiti," tegasnya.

Agus juga mengaku mendapat lemparan batu dan benda keras lainnya. 

Akibat kejadian itu, dia mengalami bengkak di tangan dan memar di punggung.

Terkait tamparan ke siswa, Agus menuturkan tidak ada niat menganiaya siswa. Dia bilang tamparan yang dilakukan sebagai bentuk pembinaan spontan.

"Saya tidak melawan, hanya membela diri. Bisa dilihat di video," katanya.

6. Langkah Hukum

Terkait langkah hukum, Agus mengaku masih mempertimbangkan untuk melapor ke polisi, karena para pelaku masih berstatus siswa dan telah lama dididiknya sendiri.

"Saya lebih melihat mereka perlu pembinaan psikologis," ujarnya.

Perihal ucapannya yang viral dan dianggap menyinggung siswa, dia menyebut pernyataannya bersifat motivasi secara umum.

Itulah yang mendasari, sebagai tenaga pendidik, Agus memilih melaporkan peristiwa ini ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi.

"Sebagai bagian dari dinas, saya harus melapor ke pimpinan. Ini sudah saya bicarakan dengan keluarga," katanya.

7. Perundungan Pertama

Agus mengaku telah mengajar sekitar 15 tahun dan baru pertama kali mengalami kejadian seperti itu. 

Menurutnya, selama 2-3 tahun terakhir kerap mengalami perundungan verbal dari sejumlah siswa.

"Bukan satu dua orang, tapi hampir satu kelas. Ini sudah bertahun-tahun," ungkapnya.

Dia berharap ada mediasi dan penanganan serius dari pihak berwenang agar persoalan tidak berlarut-larut. 

8. Mediasi, Jadi Pembelajaran Bersama 

Sehari pascakejadian, pihak sekolah melakukan mediasi. 

Kepala SMK Negeri 3 Tanjabtim, Ranto M, memastikan persoalan perselisihan antara guru dan siswa telah ditangani melalui mediasi. Kegiatan belajar mengajar pun dipastikan kembali berjalan normal.

Ranto M mengatakan memang ada perselisihan paham antara guru dan murid di sekolahnya.

Dia mengatakan mediasi telah dilaksanakan dengan melibatkan berbagai unsur.

"Benar terjadi perselisihan antara guru dan siswa. Hari ini sudah kita lakukan mediasi yang dihadiri kepala sekolah, Babinsa, Bhabinkamtibmas, camat, lurah, ketua komite, serta pihak siswa dan guru," ujar Ranto, Rabu (14/1/2026).

Menurutnya, hasil mediasi berjalan kondusif dan situasi sekolah terkendali. Aktivitas pembelajaran kembali berlangsung seperti biasa.

Ranto juga mengimbau masyarakat, khususnya orang tua dan keluarga siswa, agar tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang beredar.

"Kami minta masyarakat tidak terpancing informasi yang belum tentu benar. Mari bersama menjaga keamanan dan ketertiban. Percayakan penanganannya kepada sekolah, TNI, dan Polri," tegasnya.

Pihak sekolah berharap persoalan itu menjadi pembelajaran bersama agar hubungan guru dan siswa tetap terjaga dalam suasana saling menghormati. 

(*/ Tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.