Sosok Sri Mulyani, Mantan Menteri Keuangan 3 Era Presiden yang Kini Jadi Anak Buah Bill Gates
January 15, 2026 09:29 AM

 

TRIBUNJATIM.COM - Mantan Menteri Keuangan Republik Indonesia (RI) Sri Mulyani kini menjadi anak buah dari taipan asal Amerika Serikat, Bill Gates.

Sri Mulyani merupakan mantan Menteri Keuangan di 3 era presiden RI.

Di antaranya dari era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

Kabar Sri Mulyani menjadi anak buah taipan Amerika Serikat itu dilansir dari laman resmi Gates Foundation, Senin (12/1/2026).

Baca juga: Deretan Prestasi Sri Mulyani yang Tak Main-main hingga Direkrut Bill Gates Masuk Dewan Yayasan

Sri Mulyani disebut dipilih menjadi anggota Dewan Pengurus Bill Gates Foundation. 

“Dr. Indrawati bergabung dengan Dewan Pengurus pada saat yang sangat penting dalam sejarah yayasan ini," tulis Gate Foundation, dikutip Tribunnews.com.

CEO dan anggota Dewan Pengurus Gates Foundation, Mark Suzman, menilai rekam jejak moncer Sri Mulyani bisa membantu yayasan tersebut mencapai tujuan jangka panjangnya.

Di mana menurut Gates Foundation, Sri Mulyani dianggap telah membuat kebijakan ekonomi yang adil.

Hal ini dianggap penting agar Gates Foundation bisa mencapai tujuan jangka panjang.

"Sri Mulyani membawa pengalaman mendalam dalam membentuk kebijakan ekonomi yang adil, keahlian yang sangat penting untuk mencapai tujuan jangka panjang yayasan," kata Suzman.

Diharapkan, di bawah kepemimpinan Sri Mulyani, yayasan tersebut bisa memberikan pertumbuhan ekonomi inklusif dan meningkatkan hasil bagi masyarakat di seluruh dunia.

"Kepemimpinannya akan membantu memastikan, bahwa sumber daya kami terus digunakan untuk memperluas kesempatan, mempromosikan pertumbuhan ekonomi ekonomi inklusif dan meningkatkan hasil bagi masyarakat di seluruh dunia," imbuhnya.

Diketahui Sri Mulyani dicopot dari jabatan Menteri Keuangan RI pada September 2025. Posisi Sri Mulyani kemudian digantikan Purbaya Yudhi Sadewa. 

Pencopotan Sri Mulyani terjadi usai Menteri Keuangan RI terlama itu berkali-kali mengajukan surat pengunduran diri kepada Presiden RI Prabowo Subianto. 

Diduga pengunduran diri itu dilakukan Sri Mulyani imbas rumahnya yang dijarah pada demo Agustus 2025.

Sosok Sri Mulyani

Sri Mulyani sendiri sudah menjadi Menteri Keuangan di tiga era Presiden.

Di antaranya era Susilo Bambang Yudhoyono, Jokowi hingga Prabowo Subianto.

Simak profil Sri Mulyani yang diminta Prabowo untuk menjadi Menteri Keuangan kembali.

Baca juga: 109 Calon Menteri dan Wamen yang Dipanggil Prabowo dalam Dua Hari: Raffi Ahmad hingga Sri Mulyani

Profil Sri Mulyani

Dilansir kemenkeu.go.id, Sri Mulyani Indrawati merupakan Menteri Keuangan Republik Indonesia yang masih aktif menjabat sebagai Menteri Keuangan di Era Jokowi sejak 27 Juli 2016.

Kini, Sri Mulyani ditunjuk kembali menjadi Menteri Keuangan oleh Prabowo Subianto. 

Wanita kelahiran 26 Agustus 1962 itu adalah seorang ekonom terkemuka Indonesia berdarah Jawa, kedua orang tuanya berasal dari Kebumen, Jawa Tengah.

Sri Mulyani adalah orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia sejak 1 Juni 2010.

Sri Mulyani dikenal sebagai seorang pengamat ekonomi di Indonesia. 

Ia menjabat sebagai Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM FEUI) sejak Juni 1998. 

Sebelumnya, dia menjabat Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Bersatu. 

Ketika ia menjadi Direktur Pelaksana Bank Dunia, ia pun meninggalkan jabatannya sebagai menteri keuangan saat itu. 

Pada tahun 2004 silam, Sri Mulyani pernah menjabat sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dari Kabinet Indonesia Bersatu. 

Kemudian, pada 5 Desember 2005, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengumumkan perombakan kabinet, Sri Mulyani dipindahkan menjadi Menteri Keuangan, menggantikan Jusuf Anwar.

Selama menjadi Menteri Keuangan, Sri Mulyani banyak menorehkan prestasi.

Di antaranya menstabilkan ekonomi makro, mempertahankan kebijakan fiskal yang prudent, menurunkan biaya pinjaman, dan mengelola utang serta memberi kepercayaan pada investor.  

Reformasi Kementerian Keuangan yang dinahkodainya berjalan dengan baik, sehingga banyak terjadi perubahan fundamental di Kementerian Keuangan. 

Pernah Pindah ke Bank Dunia

Pada tanggal 5 Mei 2010, Sri Mulyani ditunjuk menjadi salah satu dari tiga Direktur Pelaksana Bank Dunia, menggantikan Juan Jose Daboub.

Lalu, pengunduran diri Sri Mulyani itu berdampak negatif pada situasi ekonomi di Indonesia, seperti stock exchange yang menurun sebesar 3,8 persen.

Nilai rupiah turun hampir 1 persen dibandingkan dolar.

Hal tersebut merupakan penurunan saham Indonesia yang paling tajam dalam 17 bulan.

Kejadian ini disebut sebagai "Indonesia’s loss, and the World’s gain (Kerugian Indonesia, dan keuntungan dunia)".

Beredar isu, pengunduran dirinya saat itu disebabkan oleh tekanan dari pihak lain, terutama dari pengusaha dan ketua Partai Golongan Karya, Aburizal Bakrie.

Pasalnya, Aburizal Bakrie diduga mempunyai ketidaksukaan terhadap Sri Mulyani akibat penyelidikan oleh Sri Mulyani terhadap penggelapan pajak dalam jumlah besar pada Bakrie Group.

CURHATAN SRI MULYANI - Mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani, sebelum pelantikan kabinet Jokowi di Jakarta, Rabu (23/10/2019). Baru-baru ini, Mahfud MD membongkar curhatannya, yang ternyata sudah dua kali ingin mundur jadi menteri.
CURHATAN SRI MULYANI - Mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani, sebelum pelantikan kabinet Jokowi di Jakarta, Rabu (23/10/2019). Baru-baru ini, Mahfud MD membongkar curhatannya, yang ternyata sudah dua kali ingin mundur jadi menteri. (KOMPAS.com/Kristianto Purnomo)

Jadi Menteri Keuangan di Era Jokowi

Pada 27 Juli 2016, Sri Mulyani dipanggil oleh Presiden Jokowi untuk menjadi Menteri Keuangan lagi.

Kembalinya Sri Mulyani merupakan kejutan bagi banyak pihak dan dianggap sebagai salah satu langkah terbaik yang pernah diambil oleh Jokowi selama dia menjabat.

Pada tahun pertamanya kembali menjadi Menteri Keuangan, Sri Mulyani langsung melakukan sejumlah gebrakan, antara lain memangkas Rp6,7 triliun belanja Kementerian dan Lembaga yang dinilainya tidak efisien.

Kemudian. menahan Rp19,4 triliun Dana Alokasi Umum (DAU) ke 165 daerah dikarenakan posisi kas daerah yang masih tinggi, menunda pengucuran dana tunjangan profesi guru ke Pemerintah daerah dikarenakan adanya temuan kelebihan anggaran.

Selain itu, juga melobi langsung para pengusaha besar untuk meyakinkan mereka berpartisipasi dalam program pengampunan pajak atau tax amnesty.

Sri Mulyani dianggap mampu memperbaiki sistem perpajakan Indonesia lewat program pengampunan pajak (tax amnesty) yang mana realisasi pembayaran tebusannya jauh melebihi proyeksi Bank Indonesia.

Pada tanggal 23 Oktober 2019, Sri Mulyani kembali dilantik dan dipercaya untuk membantu Jokowi sebagai Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024. 

Jabatan ini adalah jabatan Menteri Keuangan keempat kalinya bagi Sri Mulyani pada kabinet yang berbeda.  

Penghargaan

Sri Mulyani dinobatkan sebagai Menteri Keuangan terbaik Asia untuk tahun 2006 oleh Emerging Markets Forum pada 18 September 2006 di IMF-World Bank Group Annual Meetings di Singapura. 

Selain itu, dia juga terpilih sebagai wanita paling berpengaruh ke-23 di dunia versi majalah Forbes tahun 2008 serta wanita paling berpengaruh ke-2 di Indonesia versi majalah Globe Asia bulan Oktober 2007.

Sri Mulyani juga menjadi Menteri Keuangan terbaik untuk tahun 2006 oleh majalah Euromoney. 

Pada bulan Februari 2018, Sri Mulyani Indrawati terpilih kembali menjadi "Best Minister in the World" pada World Government Summit di Dubai. 

Masih pada tahun yang sama, di bulan Oktober 2018, Global Markets memilihnya menjadi "Finance Minister of the Year - East Asia Pacific". 

Gelar tersebut diberikan saat berlangsungnya IMF-World Bank Group Annual Meetings di Bali. 

Pada tahun 2019, Sri Mulyani kembali dinobatkan sebagai menteri keuangan terbaik di Asia Pasifik versi majalah keuangan FinanceAsia. 

Penghargaan ini diperoleh tiga tahun berturut-turut setelah sebelumnya diperoleh pada tahun 2017 dan 2018. 

Pada bulan Oktober 2020, Global Markets memilihnya menjadi "Finance Minister of the Year - East Asia Pacific, merupakan penghargaan atas upaya penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia.

Lalu, pada Februari 2021, Sri Mulyani terpilih sebagai Co-Chairs Coalition of Finance Ministers for Climate Action (CFMCA) 2021-2023. 

Koalisi ini merupakan forum yang bertujuan mendukung upaya kolektif para menteri keuangan negara-negara anggota dalam menggunakan kebijakan fiskal, pengelolaan keuangan publik, dan mobilisasi pendanaan perubahan iklim untuk mendorong aksi perubahan iklim di tingkat domestik dan global. 

Pada 11 Oktober 2021, Sri Mulyani juga menerima Distinguished Leadership and Service Award dari The Institute of International Finance. 

Penghargaan ini diberikan kepada individu-individu yang telah memberikan kontribusi luar biasa dan konsisten terhadap perekonomian global dan sistem keuangan melalui kepemimpinan mereka.

Terbaru, pada tanggal 12 Desember 2023, Sri Mulyani menerima gelar kehormatan Honoris Causa Doctor of Laws dari Australian National University (ANU) sebagai pengakuan atas kontribusi dan kerja keras dalam pembangunan ekonomi, baik di Indonesia maupun internasional.

Riwayat Pendidikan

Sri Mulyani mendapatkan gelar sarjana dari Universitas Indonesia pada 1986.

Ia kemudian memperoleh gelar Master dan Doctor di bidang ekonomi dari University Illinois at Urbana-Champaign pada 1992. 

Riwayat Organisasi

Co-Chair of the Pathways for Prosperity Commission on Technology and Inclusive Development bersama Melinda Gates
Co-Chair of the World Economic Forum on ASEAN and sits on the Board of UNICEF’s Generation Unlimited Initiative
Ketua Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia periode 2019-2023

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.