SURYA.co.id – Langit menjadi saksi ketika sebuah keputusan diambil dalam hitungan detik.
Dalam latihan militer internasional DOLPHINE XVI, kerja sama antara Kopassus dan Special Operations Command (SOCOM) Filipina, Serma Edi Sutono melompat dari ketinggian 10.000 kaki, menjalankan skenario latihan yang sudah berulang kali dilatih.
Namun latihan itu berubah menjadi ujian hidup dan mati.
Di fase awal terjun bebas tandem bersama Sgt. Sabado, semuanya berjalan sesuai prosedur.
Tubuh meluncur stabil, angin menekan dengan ritme yang dikenal para prajurit lintas udara. Hingga di ketinggian sekitar 3.000 kaki, sebuah tanda bahaya muncul.
Serma Edi menyadari tubuh rekannya kehilangan respons. Sgt. Sabado mengalami blackout, kehilangan kesadaran di udara, kondisi paling mematikan bagi penerjun payung.
Tanpa kesadaran, tubuh manusia hanyalah massa yang jatuh, tak mampu menarik tuas penyelamatannya sendiri.
Dalam situasi seperti itu, tidak ada ruang untuk berpikir panjang.
Tidak ada komando. Tidak ada aba-aba. Yang ada hanya naluri prajurit.
Serma Edi langsung mengubah arah jatuhnya, melakukan pengejaran di udara (mid-air chase) terhadap tubuh rekannya yang meluncur tak terkendali.
Jarak menyempit, angin menampar wajah, dan ketinggian terus menipis.
Ia berhasil menjangkau Sgt. Sabado dan menarik tuas parasut utama milik rekannya.
Dalam sepersekian detik yang menentukan, parasut mengembang sempurna.
Di udara, satu nyawa terselamatkan.
Namun keputusan itu menuntut harga yang mahal.
Dengan fokus memastikan rekannya hidup, Serma Edi kehilangan margin ketinggian aman untuk dirinya sendiri.
Setelah memastikan Sgt. Sabado melayang aman, Serma Edi beralih pada keselamatannya sendiri.
Ia menarik parasut utama, namun kain penyelamat itu tak mengembang sempurna.
Refleks prajuritnya bekerja. Tanpa ragu, ia menarik parasut cadangan.
Terlambat.
Ketinggian yang tersisa tak cukup untuk meredam kecepatan jatuh.
Tubuhnya menghantam pucuk pohon sebelum akhirnya jatuh ke tanah.
Benturan keras itu meninggalkan cedera serius, termasuk patah tulang pada bagian kaki.
Ia selamat. Tapi bukan tanpa konsekuensi.
Dalam latihan yang dirancang untuk membangun kesiapan tempur, Serma Edi menunjukkan bahwa nilai paling dasar prajurit bukan hanya teknik, melainkan pilihan.
Atas tindakan luar biasa itu, Panglima Komando Pasukan Khusus, Letjen TNI Djon Afriandi, menganugerahkan Sangkur Perak kepada Serma Edi Sutono.
Di lingkungan Kopassus, Sangkur Perak bukan sekadar atribut kehormatan. Ia adalah simbol pengakuan tertinggi atas keberanian yang melampaui tugas.
Panglima Kopassus menilai, tindakan Serma Edi mencerminkan nilai fundamental prajurit baret merah: keberanian tanpa pamrih, loyalitas mutlak, dan solidaritas, bahkan lintas negara.
“Sangkur Perak bukan sekadar simbol kehormatan, melainkan pengakuan resmi atas tindakan yang melampaui tugas dan mempertaruhkan hidup demi menyelamatkan orang lain,” jelasnya, dikutip SURYA.co.id dari laman resmi Penkopassus.
Kisah Serma Edi Sutono bukan hanya tentang militer, parasut, atau prosedur udara.
Ia adalah cerita tentang satu pilihan sunyi di ketinggian 3.000 kaki, ketika seorang prajurit memilih keselamatan orang lain di atas keselamatannya sendiri.
Di balik latihan bersama dan diplomasi pertahanan, ada nilai yang tak tertulis dalam manual mana pun, bahwa keberanian sejati sering kali hadir tanpa saksi, tanpa tepuk tangan, dan tanpa jaminan pulang dengan selamat.
Dan di langit itu, Serma Edi meninggalkan jejak yang tak akan hilang.