Sosok Rizal Fadillah yang Sebut Analogi Pertemuan Eggi Sudjana dan Jokowi Berpotensi Penistaan Agama
January 15, 2026 10:32 AM

 

SURYA.CO.ID - Pertemuan dua tersangka kasus dugaan ijazah palsu, Eggi Sudjana dan Damai Lubis, dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di Solo, Jawa Tengah, pada 8 Januari 2026 kembali menuai kritik tajam.

Tersangka lain di kasus yang sama, Rizal Fadillah, menilai bahwa langkah Eggi Sudjana bertemu Jokowi tak sejalan dengan perjuangan Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA).

Bahkan, pertemuan itu, kata Eggi Sudjana, berpotensi memicu polemik serius, termasuk dugaan penistaan agama.

“Dalam konteks perjuangan, itu sudah keluar rel. Sejak awal tidak pernah ada agenda negosiasi, apalagi pertemuan diam-diam."

"Maka wajar jika publik menilai ada pengkhianatan terhadap spirit perjuangan bersama,” ujarnya saat mengomentari pertemuan Eggi Sudjana dan Damai Lubis dengan Jokowi, dikutip SURYA.CO.ID dari YouTube Forum Keadilan TV, Kamis (15/1/2026). 

Eggi Sudjana Tak Segera Klarifikasi

Baca juga: Sosok Benny Parapat yang Sebut Eggi Sudjana Ditawari Jokowi Proyek Triliunan, Diungkap Refly Harun

TUDING - Benny Parapat menyebut Eggi Sudjana ditawari proyek triliunan oleh Jokowi. Pengakuan Benny itu diungkapkan kepada kuasa hukum Roy Suryo, Refly Harun.
TUDING - Benny Parapat menyebut Eggi Sudjana ditawari proyek triliunan oleh Jokowi. Pengakuan Benny itu diungkapkan kepada kuasa hukum Roy Suryo, Refly Harun. ((Ho/Campus League)/IG @ratna_listy)

Menurut Rizal, TPUA sejak awal berkomitmen menjadikan Jokowi sebagai subjek yang harus dimintai pertanggungjawaban terkait polemik ijazah, bukan pihak yang diajak berkompromi.

Ia menegaskan, sebelum persoalan tersebut terbuka secara transparan,.

Rizal juga menyoroti lambannya klarifikasi Eggi Sudjana pasca pertemuan tersebut.

Ia menilai keterlambatan itu justru memicu fitnah dan prasangka di tengah publik.

“Kalau berbasis keagamaan, fitnah dan syak wasangka itu haram. Pertemuan itu tertutup, diam-diam, dan justru dengan pihak yang sedang dipersoalkan. Ini berimplikasi luas,” katanya.

Analogi Berpotensi Penistaan Agama

Baca juga: Alasan Eggi Sudjana Temui Jokowi di Solo Disebut Tak Masuk Akal, Razman Wanti-wanti Ada Polemik Baru

Lebih jauh, Rizal menyinggung pernyataan Eggi Sudjana yang menganalogikan pertemuannya dengan Jokowi sebagai peristiwa Nabi Musa dan Harun menghadapi Firaun.

Menurutnya, analogi tersebut tidak tepat dan berbahaya serta berpotensi menista agama.

“Ini analogi yang keliru dan bisa masuk wilayah penistaan agama. Kisah Musa dan Harun adalah perintah langsung dari Allah dengan misi membebaskan Bani Israil dari penindasan, bukan negosiasi personal atau kepentingan hukum,” tegas Rizal.

Ia menilai penggunaan dalil keagamaan untuk membenarkan langkah politik atau kepentingan pribadi justru mencederai nilai agama itu sendiri.

"Bisa berpotensi menista agama jika didalami," katanya.

Rizal mengingatkan bahwa tafsir yang tidak tepat dapat menyesatkan umat dan memicu konflik.

Ia juga menyoroti pernyataan Eggi Sudjana yang menganalogikan pertemuan dengan Jokowi seperti peristiwa Nabi Musa dan Nabi Harun yang diperintahkan Allah untuk menemui Firaun.

“Kisah Musa dan Harun adalah perintah langsung dari Allah SWT untuk membebaskan Bani Israil dari penindasan. Itu bukan negosiasi politik atau kepentingan hukum. Analogi ini sangat keliru dan berbahaya,” tegasnya.

Ia bahkan menilai penggunaan kisah kenabian untuk membenarkan langkah yang dipersoalkan publik dapat masuk wilayah sensitif dan berpotensi menyinggung nilai-nilai keagamaan.

“Agama jangan dijadikan tameng pembenaran. Kalau analoginya salah, itu bisa mencederai makna agama dan menyesatkan umat,” tambahnya.

Rizal juga menegaskan bahwa pertemuan Eggi Sudjana dengan Jokowi pada 8 Januari tidak bisa disebut sebagai kelanjutan agenda TPUA, berbeda dengan pertemuan TPUA dengan Jokowi pada 16 April 2025 yang, menurutnya, dilakukan secara terbuka, kolektif, dan dengan misi tunggal meminta kejelasan ijazah.

“Itu dua peristiwa yang sangat berbeda. Yang satu institusional, terbuka, dan jelas misinya. Yang ini rahasia, personal, dan bocor ke publik,” ujarnya.

Terkait pemecatannya dari TPUA, Rizal menilai tindakan Eggi Sudjana bersifat sepihak dan tidak demokratis.

Ia mempertanyakan dasar hak prerogatif ketua umum dalam memecat pengurus tanpa mekanisme organisasi yang jelas.

“TPUA bukan milik pribadi. Ini dibentuk oleh ulama dan umat. Tidak boleh dikelola secara otoriter,” kata Rizal.

Rizal menegaskan, dirinya dan sejumlah pihak yang dipecat tetap konsisten memperjuangkan transparansi terkait polemik ijazah Jokowi.

Ia menolak pendekatan damai atau restorative justice yang dinilai berpotensi mengaburkan tujuan utama.

“Ini bukan soal personal, ini soal kepentingan umat dan bangsa. Kalau niatnya menyelamatkan diri, itu bukan perjuangan,” pungkasnya.

Rizal menyebut pemecatan tersebut tidak lepas dari sikap kritisnya terhadap pertemuan Eggi Sudjana dan Damai Lubis dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Solo pada 8 Januari 2026.

Rizal menilai pertemuan Eggi Sudjana bersama Hari Lubis dengan Jokowi elah menimbulkan kegaduhan di tengah publik karena dilakukan tanpa sepengetahuan dan persetujuan struktur organisasi TPUA.

Menurutnya, langkah tersebut menyimpang dari garis perjuangan TPUA yang sejak awal menuntut transparansi dan pertanggungjawaban Jokowi terkait polemik ijazah.

“TPUA dibangun untuk memperjuangkan kebenaran secara kolektif, bukan untuk membuka ruang negosiasi personal. Ketika ada pertemuan tertutup tanpa mandat organisasi, itu sudah keluar dari rel perjuangan,” ujar Rizal.

Rizal menegaskan, TPUA bukan organisasi milik individu, melainkan wadah perjuangan ulama dan aktivis yang harus dijalankan secara kolektif dan demokratis.

Ia mempertanyakan dasar pemecatan dirinya yang dilakukan secara sepihak oleh Eggi Sudjana selaku Ketua Umum TPUA.

“Tidak ada mekanisme musyawarah, tidak ada klarifikasi internal. Tiba-tiba ada pemecatan. Ini mencerminkan pengelolaan organisasi yang tidak sehat dan cenderung otoriter,” katanya.

Ia juga menyayangkan tidak adanya penjelasan resmi kepada publik mengenai maksud, tujuan, dan hasil pertemuan dengan Jokowi, sehingga memunculkan spekulasi dan prasangka di tengah masyarakat.

Menurut Rizal, keterlambatan klarifikasi justru menimbulkan fitnah dan kecurigaan yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Ia mengingatkan bahwa fitnah dan prasangka buruk merupakan perbuatan yang dilarang dalam ajaran agama.

“Dalam Islam, fitnah dan su’uzan itu haram. Ketika pertemuan dilakukan secara diam-diam, lalu tidak segera dijelaskan, maka umat akan bertanya-tanya. Ini bukan persoalan sepele,” ujarnya.

Rizal menilai kegaduhan yang terjadi seharusnya bisa dihindari jika komunikasi dilakukan secara terbuka sejak awal.

Alasan Eggi Sudjana Temui Jokowi

Eggi Sudjana mengungkapkan alasan di balik pertemuan dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di Solo, Jawa Tengah. 

Hal tersebut diungkap Refly Harun saat menjadi narasumber di Program Rakyat Bersuara di Inews TV, Selasa (13/1/2026).

Refly Harun membacakan isi pesan Eggi Sudjana yang dikirim melalui aplikasi Whatsapp (WA). 

Dalam pesan itu, Eggi menyebut bahwa kunjungan ke rumah Jokowi tidak ada kaitannya dengan kepentingan pribadi maupun adanya tekanan politik. 

"Demi Allah, Subhanallāh wa ta‘ala, saya BES (Bang Eggi Sudjana-Red) ke rumah Pak Joko Widodo atas imbauan banyak pihak dan segala kepentingan mereka. Itu semua saya tolak mulai dari 4 bulan lalu," kata Refly, dikutip SURYA.CO.ID, Rabu (14/1/2026). 

Eggi menegaskan alasan datang ke rumah Jokowi setelah menerima imbauan banyak pihak yang selama empat bulan sebelumnya selalu ia tolak.

"Kemudian saya membaca Al-Qur’an Surah Taha ayat 41 sampai ayat 46, Intinya Allah perintah kepada nabi Musa dan nabi Harun untuk datangi Firaun, ingatkan dia, muda-muda dia sadar."

"Tapi kalian berdua berkatalah kepada Firaun dengan lemah lembut. Lalu Musa khawatir, takut, namun Allah menjaminnya, jangan takut," kata Refli membacakan pesan WA Eggi.

“Itulah alasan ideologis saya mau berkunjung ke JKW. Bagi yang tidak percaya, no problem,” tulis Eggi dalam pesan tersebut, sembari menutup dengan pernyataan bahwa dirinya tidak sedang sakit.

===

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam Whatsapp Channel Harian Surya. Melalui Channel Whatsapp ini, Harian Surya akan mengirimkan rekomendasi bacaan menarik Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Persebaya dari seluruh daerah di Jawa Timur.  

Klik di sini untuk untuk bergabung 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.