Laporan Wartawan TribunSolo.com, Septiana Ayu Lestari
TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN - Hediono, petani selada asal Desa Majenang, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sragen, mengatakan bertanam dengan metode hidroponik lebih menghemat biaya produksi.
Diketahui, ia mulai menekuni budidaya selada dengan metode hidroponik sejak tahun 2018.
Budidaya selada miliknya kini terus berkembang dan telah memiliki 10.000 lubang tanam hidroponik di lahan seluas 800 meter persegi.
Hediono mengatakan hal yang paling menghemat biaya produksi adalah tidak membutuhkan banyak tenaga kerja.
"Di hidroponik ini sebenarnya sangat efisien. Biasanya biaya produksi di pertanian paling tinggi ada pada tenaga kerja. Dengan luas kebun 800 meter persegi, kami cukup dengan 2 sampai 3 orang. Jadi, biaya tenaga kerja bisa diefisienkan dan lebih hemat," katanya saat ditemui TribunSolo.com, Rabu (14/1/2026).
Selain itu, para pekerja di kebunnya juga hanya bekerja pada pagi dan sore hari.
Selain hemat dari sisi tenaga kerja, budidaya hidroponik juga tidak perlu mengolah tanah seperti di sawah.
"Tidak perlu olah tanah. Setelah panen, kami mencuci instalasi hidroponik dan saat itu juga bisa ditanami lagi," jelasnya.
"Jadi, bisa hemat tenaga dan waktu," sambungnya.
Baca juga: Sukses Usaha Selada Ala Warga Sragen, Modal Rp800 Ribu, Berawal dari Satu Meja
Saat ini, Hediono dapat memanen selada setiap hari. Hal tersebut telah ia jalankan sejak tahun 2021–2022.
Dalam sekali panen, ia bisa menghasilkan 40 kilogram selada.
"Satu periode tanam itu 45 hari, yang terbagi menjadi tiga tahapan, yakni 20 hari di meja semai, 17 hari di meja remaja, dan sisanya di meja dewasa," pungkasnya. (*)