Penyebab Sebenarnya Guru di Jambi Dikeroyok Siswa, Beruntung Aparat Sigap
January 15, 2026 02:19 PM

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Jambi - Terungkap penyebab sebenarnya guru SMK di Jambi dikeroyok siswa sampai cedera di beberapa bagian tubuhnya.

Dalam pengeroyokan itu beruntung ada aparat yang sigap membaca situasi sehingga keadaan dapat diatasi segera.

Ada juga guru lainnya yang membantu mengamankan keadaan.

Ternyata pengeroyokan itu merupakan puncak konflik yang terjadi di antara guru dan murid di sekolah tersebut.

Sang guru merasa jadi korban perundungan murid laki-laki selama ini sehingga tidak tahan memberi pendidikan tegas kepada siswa.

Namun tindakan guru tersebut justru memicu siswa melakukan pengeroyokan.

Kejadian itu dinilai mencoreng dunia pendidikan di Tanah Air mengingat aksi kekerasan terjadi di sekolah melibatkan tenaga pengajar dan siswa di lingkungan sekolah.

Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman untuk proses belajar, pembentukan karakter, dan penanaman nilai moral justru berubah menjadi arena konflik fisik.

Dilansir Tribunnews.com, guna mencegah aksi kekerasan di sekolah, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti telah menerbitkan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.

Peraturan tersebut dinilai sebagai langkah strategis pemerintah dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif bagi tumbuh kembang peserta didik.

Aturan ini juga menggunakan pendekatan humanis yang lebih mengutamakan budaya mendengar, menerima, dan menghormati.

Berdekatan dengan aturan itu diterbitkan, aksi kekerasan terjadi di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi.

Sebuah video yang menunjukkan seorang guru SMK Pertanian dikeroyok oleh siswanya, viral di media sosial.

Guru tersebut bernama Agus Saputra. Ia menjelaskan, kejadian bermula saat dirinya diteriaki oleh seorang siswa sekira pukul 09.00 WIB.

Agus menuturkan, teriakan itu bernada tidak sopan dan tak beretika.

Saat itu, siswa yang bersangkutan sedang mengikuti mata pelajaran olahraga atau Penjas.

“Guru olahraganya juga ada pada saat itu. Pada saat itu juga saya datang ke kelasnya."

"Saya tanya siapa yang meneriakkan saya dengan kata-kata yang tidak pantas itu. Refleks (satu  di antara siswa) dia bilang saya,” kata Agus, Rabu (14/1/2026), dilansir TribunJambi.com.

Mengetahui hal tu, Agus langsung menampar siswa tersebut sebanyak satu kali.

"Saya tampar satu kali," akunya.

Konflik akhirnya berlanjut, saat jam istirahat, ia ditantang kembali oleh siswa tersebut.

Sempat ada mediasi antara Agus dengan siswa tersebut. Agus juga berusaha menahan diri.

"Saya sudah berusaha tenang. Pada saat itu saya masih berada di dalam kantor dengan ada CCTV sebagai pembuktian,” jelasnya.

Saat mediasi, ia menanyakan apa keinginan siswa itu. Siswa tersebut lantas meminta Agus untuk meminta maaf.

“Mereka meminta saya meminta maaf untuk hal yang tidak saya lakukan. Kemudian saya memberi alternatif kepada mereka,” terangnya.

Agus kemudian menawarkan alternatif berupa petisi.

“Membuat petisi, kalau seandainya mereka tidak menginginkan saya lagi untuk mengajar di sana. Atau, mereka mengubah perangai (perilaku) mereka menjadi lebih baik lagi dari sekarang,” ujarnya.

Setelah mediasi itu, Agus sempat diajak komite sekolah masuk ke ruang kantor.

Saat itu, kata Agus, ia justru dikeroyok oleh siswanya.

“Saya diajak komite masuk ke ruang kantor, di saat itulah terjadi pengeroyokan oleh anak kelas 1, kelas 2, kelas 3,” ucapnya.

Beruntung, aparat keamanan sigap membaca situasi, sehingga aksi itu dapat diredam segera.

“Ada aparat datang ke tempat saya, Alhamdulillah kooperatif dengan segala macam tentunya guru-guru juga ada yang membantu,” katanya.

Akibat insiden itu, Agus mengaku mengalami cedera di beberapa bagian tubuhnya.

Bertahun-tahun Dirundung

Agus mengungkapkan, dirinya telah mengajar di sekolah itu sekira 15 tahun.

Ini merupakan kali pertama ia menampar siswa.

“Kejadian ini pertama seumur hidup saya. menampar anak (siswa) itu kejadian pertama,” tuturnya, dikutip dari TribunJambi.com.

Selama dua tahun terakhir, Agus mengaku kerap mendapat perundungan dari siswanya.

“Selama dua tahun sampai ada yang berkali-kali selama dua tahun. Sampai ada yang tiga tahun melakukan tindak verbal yang tidak menyenangkan terhadap saya,” ucapnya.

Agus menuturkan, perundungan itu dilakukan lebih dari satu siswa.

“Bukan satu orang dua orang tapi hampir anak laki-laki yang satu kelas. Kami ada anak satu kelas itu isinya laki-laki semua. Nah, itu juga merupakan bagian dari merundung saya."

“Jadi, selama bertahun-tahun saya sudah mencoba untuk bertahan dengan keadaan itu.

"Kalau saya rasa kalau untuk normalnya manusia, ini rasanya tidak manusia lagi ya,” bebernya.

Bertahun-tahun menahan, akhirnya Agus tak tahan lagi hingga akhirnya menampar siswanya.

“Tapi ini sudah bertahun-tahun, murid berganti dan segala macam itu terjadi sama saya dan terus terjadi,” ungkapnya.

“Jadi, akhirnya itulah puncak dari hari kemarin, hari Selasa, saya sudah ambil tindakan tegas untuk melakukan pembinaan secara mendidik,” ungkap dia.

Atas kejadian yang dialaminya, Agus melapor ke Departemen Pendidikan Nasional (Diknas) Provinsi Jambi.

“Tentu, saya sebagai bawahan dinas (Diknas) yang saya harus lakukan adalah mengadukan permasalahan ini ke pimpinan yang ada di dinas pendidikan."

"Karena, walau bagaimanapun saya adalah bagian dari dinas pendidikan,” katanya, Rabu.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.