Perjuangan Jumiyati Bisnis Keripik, Mulai Hobi Makan hingga Punya 12 Karyawan
January 15, 2026 03:40 PM

TRIBUNBATAM.id - Perjuangan Jumiyati untuk membuka usaha aneka keripik Berkah Snack ternyata tidak mudah dan sebentar.

Berawal dari hobinya yang suka makan, Jumiyati memiliki ide untuk membuat keripik sendiri di tahun 2010.

Tak disangka usaha keripik Berkah Snack tersebut bisa membuat Jumiyati bisa menyekolahkan tiga anaknya dan memiliki 12 karyawan.

Sebuah rumah di Dusun Kliwonan, Desa Sugihan, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, menjadi saksi perjuangan Jumiyati membangun bisnis camilan tersebut.

Ketika memasuki rumah, pandangan mata langsung tertuju pada bagian dapur yang sederhana.

Wajan-wajan besar dengan minyak mendidih berdiri di atas tungku api yang menyala.

Aroma gurih langsung tercium saat memasuki ruangan yang digunakan untuk menggoreng keripik.

Terlihat beberapa ibu-ibu cekatan menggoreng aneka keripik mulai dari mengadon tepung, mencelupkan tempe, pare, dan bayam ke dalam adonan, hingga meniriskannya ke dalam wadah.

Tampak pula seorang perempuan sibuk merajang tempe dengan pisau tajam memastikan irisan tipis dan merata.

Jumiyati tentu memantau setiap tahapan produksi, dari pemotongan bahan, proses penggorengan, hingga pengemasan.

"Usaha ini sejak 2010. Saya awalnya itu memang suka makan."

"Bikin-bikin keripik sendiri, terus ke pasar tradisional untuk dijual," papar Jumiyati. 

Baca juga: Rezeki dari Burung Kenari Merah, Sertu Supriadi Awalnya Hobi Malah Jadi Untung

Mulanya, dia membuat kemasan keripik kecil-kecil yang dibanderol Rp700 per kemasan untuk dibawa ke pasar tradisional.

Dengan harga itu, pedagang eceran kulakan kepadanya untuk dijual kembali dengan harga Rp1.000. 

Seiring berjalannya waktu, usahanya pun kian berkembang.

Dia tak hanya menyasar ke pasar tradisional, melainkan ke toko grosir di berbagai kota. 

Produk Berkah Snack pun kini telah menjangkau Surakarta, Kendal, Semarang, Klaten, hingga Boyolali.

Tak hanya itu, sejumlah reseller juga datang langsung ke rumahnya untuk mengambil produknya untuk dijual kembali. 

Sistem penjualan dilakukan dalam bentuk bal-balan.

Untuk keripik bayam, satu bal berisi 2 hingga 2,5 kilogram dengan harga Rp90 ribu.

Sementara, keripik tempe dan pare dijual Rp75 ribu per bal dengan berat sekira 1,75 kilogram. 

"Boyolali itu ada satu, kalau di Surakarta ada lima toko. Di Semarang ada lima toko, Klaten dua," sebutnya. 

Sejak berpisah dengan suaminya, Jumiyati menapaki jalan sebagai perempuan mandiri.

Omzet usahanya mencapai Rp20 juta per pekan. 

Dari usaha rumahan inilah, dia mampu mencukupi kebutuhan ketiga anaknya.

Dua anaknya telah menempuh jenjang pendidikan tinggi. Sementara, satu anak lainnya masih menempuh pendidikan di bangku SMA.

"Alhamdulillah, anak saya, sekarang sudah kuliah. Satu sudah menikah. Satu masih SMK," sebutnya.

Miliki 12 Karyawan

Tak hanya menjadi penopang ekonomi keluarga, usaha keripik Jumiyati juga menjadi tumpuan bagi sejumlah ibu-ibu di lingkungannya. 

Ada 12 karyawan yang turut bekerja bersamanya.

Keseharian mereka menjadi juru potong, juru masak, juru kemas, serta sopir yang mengantarkan produk sampai dengan selamat ke sejumlah toko. 

Para juru masak ini dibayar sesuai jumlah tepung yang dihabiskan dalam memproduksi keripik. Rata-rata, pendapatan mereka mencapai Rp100 ribu perhari. 

"Jadi, satu adonan tepung itu Rp8.000. Rata-rata mereka terima Rp100 ribu perhari. Kalau yang potong-potong dan kemas itu borongan Rp75.000 perhari," urainya. 

Dalam sehari, Jumiyati memproduksi aneka ragam keripik dengan menghabiskan tepung sebanyak satu kuintal bahkan lebih saat momentum tertentu. 

Perjalanan Jumiyati tak selalu mulus. Dia pernah merugi dan sempat vakum satu bulan karena persaingan dengan pelaku UMKM lainnya.

Pengalaman itu justru menguatkannya. Strateginya bertahan pun sederhana.

Dia tetap konsisten dengan menjaga kualitas rasa dan memastikan produk tidak berminyak.

"Kalau gorengan gini kan yang penting kan jangan berminyak."

"Kalau kalau berminyak otomatis peminatnya kurang. Ini bayam saya itu tanpa spinner tapi enggak berminyak," sebutnya.

(TribunBatam.id)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.