Isra Miraj DPRD Makassar Terbatas 300 Peserta
January 15, 2026 02:22 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Peringatan Isra Miraj akan berlangsung pada 16 Januari 2026.

Sekretaris Dewan (Sekwan) DPRD Makassar, Andi Rahmat Mappatoba, menyebut Isra Miraj agenda tahunan DPRD Makassar.

“Sekiranya ini sudah menjadi momen tahunan," katanya di Gedung sementara DPRD Makassar, Kamis (15/1/2026).

Menurutnya, Sekretariat DPRD akan berkoordinasi dengan pimpinan dan seluruh anggota dewan untuk menyambut momen keagamaan tersebut.

"Insya Allah kami akan berkoordinasi dengan pimpinan dan seluruh anggota dewan terkait momen Isra Miraj ini. Mudah-mudahan kita bisa berbuat lebih banyak untuk peringatan tersebut,” ujarnya.

Ia menambahkan, DPRD Makassar juga akan menggelar rapat internal sebagai langkah awal mempersiapkan peringatan Isra Miraj.

“Insya Allah kami juga akan melakukan rapat internal dalam rangka memperingatinya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Andi Rahmat menjelaskan keterbatasan kapasitas gedung menjadi salah satu pertimbangan.

Gedung DPRD Makassar hanya mampu menampung sekitar 300 orang.

“Kalau melihat kondisi gedung yang ada, untuk menampung kurang lebih 300 orang, kondisi kita memang sangat terbatas,” jelasnya.

Karena itu, DPRD Makassar akan mempertimbangkan bentuk dan momentum kegiatan paling memungkinkan dilaksanakan setelah peringatan Isra Miraj.

“Dalam waktu dekat akan kita lihat dan pertimbangkan momentum apa yang bisa dilakukan setelah Isra Miraj ini untuk menyambut dan memperingatinya,” ujarnya.

Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Bulukumba, Hakim Bohari, mengajak masyarakat memaknai Isra Miraj secara lebih mendalam, tidak sekadar seremoni.

Hakim Bohari menjelaskan, peristiwa Isra Miraj sejak masa Nabi Muhammad SAW hingga kini selalu membagi manusia ke dalam dua golongan.

“Sejak dulu sampai sekarang, manusia selalu terbagi dua. Ada yang melihat Isra Mi’raj dengan logika semata seperti Abu Lahab, dan ada yang memaknainya dengan iman seperti Abu Bakar,” katanya kepada TribunBulukumba.com, Rabu (14/1/2026).

Menurutnya, banyak persoalan sosial muncul karena cara pandang keliru dalam menyikapi peristiwa dan realitas kehidupan.

Manusia terlalu mengandalkan akal dan rasionalitas semata, bahkan sering disertai kesombongan.

“Persoalan dan kondisi hari ini sering tidak menemukan solusi karena semua peristiwa direspons dengan cara Abu Lahab, dan sangat jarang direspons dengan cara Abu Bakar,” ujarnya.

Hakim Bohari mengingatkan, ketika manusia hanya mengandalkan akal tanpa melibatkan iman, maka pertolongan Allah SWT akan menjauh.

“Jika disertai kesombongan, Allah SWT tidak akan menjadi penolong. Bahkan keteledoran itu dikembalikan kepada manusia sendiri dalam bentuk musibah, kerusuhan sosial, agar manusia kembali kepada fitrah dan kesadaran kepada Allah SWT,” katanya. (*)

 



 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.