Kapal Menuju Bawean Gresik Tak Beroperasi, Perantau Malaysia Gagal Temui Ibu yang Meninggal
January 15, 2026 02:32 PM

 

SURYA.CO.ID, GRESIK - Sanwari tampak kecewa, keinginannya bisa pulang ke Pulau Bawean kandas. 

Kabar duka kepergian ibunya lebih dulu sampai ketimbang kapal cepat yang mengantarkannya, Kamis (15/1/2026)

Keinginannya pulang untuk memeluk ibunya yang sedang sakit di Pulau Bawean pupus. 
Cuaca buruk dan gelombang laut tinggi memupus harapan Sanwari.

Tidak Ada Kapal yang Berlayar

Setibanya di Indonesia, tepatnya di pelabuhan Gresik, tidak ada kapal yang berlayar. 

Tak ada perjalanan. Begitupula pelabuhan Paciran, Lamongan menuju Bawean.

Yang tersisa hanyalah kabar duka. Pria asal Dusun Kuduk-kuduk, Desa Patarselamat, Kecamatan Sangkapura itu kini harus menerima kenyataan pahit.

Baca juga: Hujan Deras di Pulau Bawean, Longsor Terjang Rumah Warga di Sangkapura Gresik

Ibunya, Atma binti Atli, meninggal dunia sebelum ia sempat menginjakkan kaki di kampung halaman, Pulau Bawean, Gresik.

Sanwari adalah perantauan asal Kuala Lumpur, Malaysia, terpaksa tertahan di Gresik sejak beberapa hari terakhir. 

Bertahan di Pelabuhan Gresik

Ia bersama ratusan calon penumpang lainnya menunggu kapal yang tak kunjung beroperasi akibat gelombang laut yang mencapai dua meter.

Dia tinggal di sebuah penginapan sederhana di Jalan Yos Sudarso, Gresik, mata Sanwari berkaca-kaca.

"Saya tiba di Indonesia Jumat (9/1/2026). Niat saya pulang ingin bertemu ibu yang sedang sakit, rencana pulang Jumat naik Kapal Ferry Gili Iyang tapi tidak beroperasi begitu juga kapal cepat, hingga hari ini, Tadi pagi sekitar pukul 05.00 WIB, dapat kabar ibu meninggal dunia," ujarnya, Kamis (15/1/2026).

Baca juga: ABK Meninggal saat Melaut di Perairan Bawean, Dievakuasi ke Pelabuhan Paciran Lamongan

Pria berusia 50 tahun ini menghabiskan separo hidupnya dengan mengadu nasib di Negeri Jiran. 

Ia jarang pulang. Dua sampai lima tahun sekali baru bisa menyapa kampung halaman.

Kepulangannyan tahun ini  bukan untuk liburan, tapi untuk merawat ibunya yang sedang sakit. Namun nasib berkata lain.

"Ini sudah dua tahun tidak pulang ke kampung. Mau pulang, untuk menjenguk dan merawat ibu yang sakit, sekarang ibu sudah istirahat memenuhi panggilan tuhan," katanya.

Berharap Ada Solusi dari Pemerintah

Ia pun hanya bisa pasrah, sembari berharap ada solusi agar para penumpang yang tertahan bisa segera diseberangkan.

"Kami berharap sekali kepada pemerintah, untuk bisa mendatangkan kapal bantuan. Ini sudah seminggu, kami disini. Banyak pengeluaran dari biaya penginapan, makan, dan lain-lain. Semuanya sudah menipis," ungkapnya.

Sanwari bukan satu-satunya. Ratusan warga Bawean lainnya, mulai dari pasien, pegawai negeri, hingga perantau, terpaksa bertahan di sejumlah penginapan sekitar Pelabuhan Gresik.

Salah satu penumpang lainnya, Maswadi, pegawai perikanan di bawah naungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. 

Ia datang bersama 12 orang rombongan dan kini sama-sama terancam kehabisan biaya sebelum pulang ke Bawean.

"Stok uang untuk membeli kebutuhan sangat menipis. Kami harap ada kapal bantuan," ujarnya.

Cuaca Ekstrem dan Gelombang Laut Tinggi

Sejak 9 Januari 2026, pelayaran lintasan Bawean–Paciran dan Bawean–Gresik resmi ditunda. 

Kapal KMP Gili Iyang yang melayani jalur tersebut tidak berangkat karena kondisi cuaca ekstrem dan gelombang laut tinggi.

Bahkan, keberangkatan dari Pelabuhan Gresik yang dijadwalkan pada 10 Januari juga dibatalkan. 

Hingga Kamis (15/1/2026) ini, kapal cepat Express Bahari juga tidak berlayar.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.