Pemicu Guru SMK Jambi Dikeroyok, Nasihat 'Jangan Bertingkah' Berujung Aksi Lempar Batu
January 15, 2026 03:23 PM

TRIBUNPALU.COM - Dugaan pemicu aksi pengeroyokan terhadap Agus Saputra, seorang guru di SMK N 3 Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, akhirnya terungkap.

Agus mengungkapkan bahwa insiden bermula ketika dirinya memberikan nasihat kepada sejumlah siswa di dalam lingkungan sekolah.

Dalam pernyataannya, Agus sempat berpesan agar siswa yang merasa dari keluarga kurang mampu untuk fokus belajar dan tidak berulah.

"Saya menceritakan secara umum, saya mengatakan kalau kita orangnya kurang mampu itu kalau bisa jangan bertingkah macam-macam itu secara motivasi,” ungkapnya, mengutip TribunJambi.com Rabu (14/1/2026).

Namun, ucapan tersebut rupanya memicu ketersinggungan mendalam bagi sejumlah siswa yang mendengar.

Ketegangan makin meningkat setelah Agus mengaku sempat menampar salah satu siswa yang mengucapkan kata-kata tidak sopan kepadanya.

Baca juga: Detik-detik Guru Dikeroyok Siswa di Jambi, Ngaku Terpaksa Pakai Celurit Demi Bela Diri

Puncaknya terjadi pada sore hari sekitar pukul 13.00 hingga 16.00 WIB, saat Agus mulai dikepung massa siswa.

Agus mengaku mendapatkan serangan anarkis berupa lemparan berbagai benda keras secara bertubi-tubi.

“Mereka malah melempari saya dengan banyak-banyak hal yang anarkis seperti batuan, batu bata dan sebagainya,” katanya.

Situasi yang makin tidak terkendali membuat Agus terpaksa mengambil tindakan untuk membela diri.

Dalam potongan video yang viral, Agus terlihat membawa senjata tajam untuk membubarkan kerumunan siswa tersebut.

Ia mengklarifikasi bahwa cangkul itu adalah alat praktik pertanian yang memang tersedia di kantor sekolah.

Agus menegaskan tidak ada niat untuk melukai, melainkan hanya ingin menggertak massa agar tidak terus menyerangnya.

“Saya tidak berniat untuk melakukan kejahatan terbukti videonya saya hanya mengejar mereka agar bubar. Pada kenyataannya mereka tidak bubar juga,” ucapnya.

“Kemudian kalau tidak seperti itu mungkin ada kejadian buruk lagi yang menimpa saya seandainya saya tidak melakukan hal tersebut,” lanjutnya.

Akibat pengeroyokan itu, Agus menderita luka memar pada bagian punggung dan bengkak di tangan.

Hingga saat ini, Agus mengaku masih bimbang untuk membawa kasus kekerasan ini ke ranah hukum.

Sebab, siswa tersebut masih sekolah dan sudah lama dia didik.

 Agus berpendapat, keadaan siswa tersebut memerlukan bimbingan secara psikologis.

“Karena saya merinding kalau tanya itu karena mereka sudah lama saya didik. Walaupun bukan anak kandung tapi anak didik,” ungkapnya.

Guru smk dikeroyok 64564
GURU SMK - Tangkapan layar video seorang guru SMK di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi dikeroyok sejumlah siswa.(Instagram).

Kronologi Pengeroyokan Versi Guru  

Agus Saputra membeberkan kronologi dugaan pengeroyokan yang dialaminya.

Peristiwa bermula sekitar pukul 09.00 hingga 10.00 WIB, saat dirinya ditegur oleh seorang siswa dengan ucapan yang dinilainya tidak sopan dan tidak beretika.

Saat itu, siswa tersebut tengah mengikuti pelajaran Pendidikan Jasmani (Penjas), dan guru olahraga berada di lokasi.

“Saya datang ke kelas dan bertanya siapa yang meneriakkan saya dengan kata-kata yang tidak pantas itu,” ujar Agus.

Menurutnya, salah satu siswa secara refleks mengaku.

Agus mengakui sempat menampar siswa tersebut satu kali.

Pada jam istirahat, Agus mengaku kembali mendapat tantangan dari siswa yang sama.

Situasi kemudian berlanjut hingga sore hari, sekitar pukul 13.00 sampai 16.00 WIB.

Baca juga: Foto Nisya Diterima Jadi Pramugari Garuda Ternyata Buatan AI, Ini Penjelasan dari Maskapai

Sempat Medisi di Kantor Sekolah

Sebelum pengeroyokan terjadi, kata Agus, sempat dilakukan mediasi di kantor sekolah yang dilengkapi CCTV.

“Saat mediasi, mereka meminta saya meminta maaf atas hal yang tidak saya lakukan,” jelasnya.

Sebagai jalan tengah, Agus menawarkan alternatif berupa pembuatan petisi.

“Petisi itu isinya apakah mereka tidak menginginkan saya lagi mengajar di sana, atau mereka berkomitmen memperbaiki perilaku,” katanya.

Namun, usai mediasi, Agus mengaku diajak komite sekolah masuk ke ruang kantor.

Di lokasi itulah, ia diduga dikeroyok oleh sejumlah siswa dari kelas 1, 2, dan 3.

“Terjadi pengeroyokan, namun segera diamankan aparat keamanan. Guru-guru juga membantu,” ujarnya.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.