Khawatir Perang Kawasan, Arab Minta Amerika Batalkan Serangan Militer ke Iran
January 15, 2026 04:48 PM

TRIBUNJAMBI.COM -Negara-negara Teluk Arab menyampaikan peringatan kepada Amerika Serikat agar menahan diri dari opsi serangan militer terhadap Iran di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah.

Peringatan tersebut muncul seiring situasi domestik Iran yang masih menjadi sorotan internasional akibat tekanan ekonomi, pelemahan mata uang, dan rangkaian unjuk rasa yang sebelumnya terjadi di Teheran.

Negara-negara Teluk menilai potensi serangan terhadap Iran berisiko langsung mengganggu keamanan Selat Hormuz yang merupakan jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi global.

Mengutip Anadolu, Selat Hormuz adalah perairan sempit yang memisahkan Iran dengan sejumlah negara Teluk Arab seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Oman.

Pada titik tersempit, lebar Selat Hormuz hanya puluhan kilometer sehingga dinilai rentan terhadap gangguan militer, termasuk serangan langsung, pemasangan ranjau laut, penembakan rudal, maupun pembatasan pelayaran.

Sekitar seperlima dari total pengiriman minyak dunia melintasi selat tersebut setiap hari, termasuk ekspor minyak mentah dan gas alam cair dari negara-negara Teluk menuju pasar Asia, Eropa, dan Amerika.

Negara-negara Teluk menyampaikan kekhawatiran bahwa Iran dapat memanfaatkan Selat Hormuz sebagai instrumen tekanan strategis jika terjadi serangan militer terhadap wilayahnya.

Gangguan terbatas berupa insiden keamanan atau ancaman militer dinilai cukup memicu gejolak pasar energi global meskipun tanpa penutupan resmi selat tersebut.

Bagi negara-negara Teluk, kelancaran aktivitas di Selat Hormuz dipandang sebagai kepentingan ekonomi dan keamanan yang saling terkait.

Gangguan sebagian terhadap jalur pelayaran itu disebut berpotensi mendorong lonjakan harga minyak mentah secara signifikan di pasar internasional.

Situasi tersebut dinilai berisiko menekan pendapatan ekspor, mengguncang stabilitas pasar keuangan, serta menghambat agenda pembangunan jangka panjang di berbagai negara.

Negara-negara Teluk memandang potensi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran tidak hanya berdampak bilateral, tetapi juga berimplikasi luas terhadap stabilitas energi dan ekonomi global.

Selain dampak ekonomi, negara-negara Teluk juga menyoroti potensi konsekuensi politik dan keamanan yang dapat meluas di kawasan.

Iran sebelumnya menyampaikan ancaman tindakan balasan terhadap kepentingan Amerika Serikat di wilayah tersebut jika terjadi serangan militer.

Ancaman tersebut mencakup kemungkinan penargetan pangkalan militer Amerika Serikat dan potensi gangguan terhadap jalur pelayaran di sekitar Teluk.

Perkembangan ini dinilai berpotensi melibatkan negara-negara kawasan seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, serta aktor non-negara di Irak, Suriah, dan Yaman.

Meluasnya konflik dinilai meningkatkan risiko ketidakstabilan politik jangka panjang di kawasan Teluk.

Di tengah desakan negara-negara Teluk agar Amerika Serikat menahan diri, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan situasi keamanan di negaranya berada dalam kondisi terkendali.

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul perhatian internasional terhadap unjuk rasa yang sebelumnya terjadi di sejumlah wilayah Iran.

Araghchi menyebut gelombang protes yang berlangsung sejak akhir Desember 2025 telah berakhir dan otoritas negara menguasai kondisi di lapangan.

Dalam wawancara dengan Fox News, ia menepis kekhawatiran mengenai potensi ketidakstabilan lanjutan di Iran.

“Selama empat hari terakhir semuanya tenang. Tidak ada demonstrasi dan tidak ada kerusuhan,” ujar Araghchi.

Ia menambahkan bahwa aparat keamanan telah memastikan situasi kembali normal sehingga aktivitas masyarakat berjalan seperti biasa.

Selain itu, Araghchi juga membantah tudingan terkait rencana eksekusi atau hukuman gantung terhadap para pengunjuk rasa.

Isu tersebut sebelumnya memicu kecaman dari komunitas internasional dan menjadi sorotan dalam tekanan diplomatik terhadap Teheran.

Pemerintah Iran menyampaikan pernyataan tersebut di tengah upaya meredam kritik global atas penanganan demonstrasi yang dipicu tekanan ekonomi dan inflasi, serta menjaga persepsi stabilitas negara di mata internasional.

Baca juga: Trump Incar Greenland! Ambisi Bendung Dominasi Rusia-China di Kutub Utara, Kecewa ke Putin

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.