Laporan jurnalis TribunBekasi.com, Rendy Rutama Putra
WARTAKOTALIVE.COM, MEDAN SATRIA - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi akhirnya mengangkut tumpukan sampah yang sempat viral dan hampir menutup badan jalan di RW 07, Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi.
Kepala Bidang Penanganan Sampah dan Kemitraan di Dinas Lingkungan Hidup (Kabid PSKM DLH) Kota Bekasi, Andy Frengky, mengatakan berdasarkan pengecekan terakhir pada Selasa (14/1/2026), kondisi sampah di lokasi tersebut telah dibersihkan.
“Iya, jadi untuk posisi terakhir di tanggal 14 Januari 2026 kondisi sampah di RW 07 Kelurahan Pejuang itu sudah kami bersihkan,” kata Frengky saat dikonfirmasi, Rabu (15/1/2026).
Frengky menjelaskan, tumpukan sampah tersebut rupanya berasal dari kawasan permukiman yang tidak dapat dilalui armada truk pengangkut sampah.
Akibatnya, pengurus RT dan RW setempat melakukan pengangkutan secara door to door dan menjadikan lokasi tersebut sebagai titik kumpul sementara.
Baca juga: Rakor Bareng ADKASI, KLH Dorong Dukungan DPRD Kabupaten Atasi Krisis Sampah
“Memang kondisinya adalah sampah tersebut berasal dari pelayanan yang tidak bisa masuk armada sampah. Di situ banyak pemukiman, kemudian pengurus RT atau RW mengangkut sampah secara door to door, lalu dikumpulkan di titik tersebut,” jelasnya.
Menurut Frengky, lokasi penumpukan sampah itu merupakan Tempat Penampungan Sementara (TPS) skala kecil atau Tempat Penampungan Sampah Sementara (TPSS) yang dibuat untuk mengakomodir wilayah permukiman sempit.
Terkait keluhan warga yang menyebut sampah telah menumpuk selama berbulan-bulan, Frengky mengakui pengangkutan sampah di Kota Bekasi saat ini tengah mengalami kendala serius.
Ia menyebut, Kota Bekasi saat ini berada dalam kondisi darurat sampah.
Baca juga: Sesuai Pergub 102/2022, Kawasan Bisnis Harus Bisa Kelola Sampah Secara Mandiri
Satu penyebab utamanya adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu yang sudah mengalami overload.
“Memang Kota Bekasi masuk dalam kota darurat sampah. TPA Sumur Batu dalam kondisi overload,” ujarnya.
Frengky menyampaikan selain itu, faktor cuaca turut memperparah kondisi.
Hujan dengan intensitas tinggi dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan longsoran sampah yang menutup akses jalan utama menuju TPA Sumur Batu.
“Pada bulan lalu, kondisi cuaca hujan terus-menerus sehingga menimbulkan longsoran di akses jalan utama TPA. Akibatnya pelayanan pembuangan sampah menjadi terhambat dan terjadi antrean,” ucapnya.
Frengky menegaskan pihaknya telah melakukan penanganan dengan menurunkan alat berat untuk membersihkan longsoran tersebut.
Namun prosesnya membutuhkan waktu karena kembali terkendala hujan.
“Longsoran yang awalnya sekitar 30 sampai 35 meter, sekarang sudah berkurang menjadi sekitar 10 sampai 15 meter,” tegasnya.
Meski demikian, Frengky memastikan pengangkutan sampah di seluruh wilayah Kota Bekasi tetap berjalan, meski belum dalam kondisi normal.
“Pengangkutan sampah tetap kami lakukan di masing-masing wilayah. Namun karena TPA overload dan masih ada longsoran, pelayanannya tidak normal. Yang biasanya bisa dua kali seminggu, sekarang hanya bisa satu kali seminggu,” pungkasnya.
Diketahui sebelumnya, kondisi tumpukan sampah hampir menutupi setengah badan Jalan Kaliabang Ceger, Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi, Sabtu (10/1/2026).
Kondisi tersebut dikeluhkan warga karena sudah berlangsung lama.
Seorang warga sekitar, Rohayah (57) mengatakan penumpukan sampah itu sudah terjadi sekira setengah tahun terakhir.
Tumpukan itu terjadi lantaran kondisi TPS penuh.
“Sekira setengah tahunan atau enam bulanan sampah itu,” kata Rohayah kepada Tribun Bekasi di lokasi, Sabtu (10/1/2026).
Rohayah menjelaskan, sampah yang menumpuk didominasi sampah rumah tangga.
Namun ia memastikan tumpukan sampah itu bukan hanya berasal dari warga sekitar.
Ia menyebut, banyak orang yang melintas di kawasan tersebut membuang sampah sembarangan.
“Sampah rumah tangga tapi sampah liar bukan sampah warga sini aja. Dari mana aja jadinya orang buang,” jelasnya.
Rohayah menuturkan, selain hampir menutup setengah badan jalan, kondisi penumpukan tersebut juga kerap memicu kecelakaan, terutama pada malam hari.
Selain itu, dampak lainnya membuat aroma di sekitarnya menjadi timbul bau tak sedap.
“Bau kadang timbul, terus picu ada kecelakaan motor yang lagi jalan kencang tidak tahu waktu malam-malam melihat sampah nabrak gitu,” tuturnya. (M37)