TRIBUNNEWS.COM – Mantan presiden Real Madrid, Ramon Calderon, melontarkan kritik keras terhadap Florentino Perez menyusul keputusan klub memecat Xabi Alonso dari kursi pelatih.
Calderon menilai kepemimpinan Perez terlalu otoriter dan dijalankan dengan “tangan besi” alias diktator bahkan kejam.
Pemecatan Alonso terjadi tak lama setelah Real Madrid kalah dari Barcelona di final Piala Super Spanyol 2026 yang digelar di Arab Saudi.
Kekalahan tersebut menjadi pemicu utama perubahan besar di tubuh Los Blancos.
Calderon yang pernah memimpin Real Madrid pada periode 2005 hingga 2009, menilai keputusan tersebut tidak sepenuhnya adil.
Ia percaya Real Madrid sejatinya masih memiliki peluang besar di laga final tersebut.
“Mereka bisa saja bermain imbang atau bahkan menang dengan mudah. Penampilannya tidak buruk,” ujar Calderon dikutip dari Mundo Deportivo.
Namun menurutnya, hasil tersebut langsung berdampak pada nasib Alonso.
“Pada akhirnya, tampaknya itu adalah keputusan presiden untuk memecatnya,” tambahnya.
Baca juga: Hadiah Copa del Rey 2025/2026: Real Madrid Dapat Rp2,4 Miliar, Barcelona Berpeluang Mandi Uang
Calderon kemudian menyoroti gaya kepemimpinan Perez yang dianggap terlalu mencampuri urusan teknis tim.
Mantan Presiden Real Madrid itu menilai Perez tidak memiliki struktur olahraga yang sehat.
“Tidak ada direktur olahraga maupun struktur penasihat sepak bola yang nyata di Real Madrid. Oleh karena itu, presidenlah yang membuat keputusan dan membatalkannya sesuka hatinya,” tegas Calderon.
Ia pun menyimpulkan dengan kritik tajam, “Dia menjalankan Real Madrid sesuka hatinya.”
Tak berhenti di situ, Calderon juga menyalahkan Perez atas perencanaan skuad yang dinilai buruk, khususnya di lini tengah.
Kepergian dua legenda klub, Luka Modric dan Toni Kroos, disebut meninggalkan lubang besar yang belum teratasi.
“Dari sudut pandang saya, perencanaan skuad mungkin tidak optimal, karena lini tengah jelas menderita setelah kepergian Luka Modric dan Toni Kroos,” ujar Calderon.
Ia menambahkan bahwa seharusnya tanggung jawab keputusan olahraga berada di tangan direktur olahraga, bukan presiden klub.
“Seharusnya saya bertanya kepada direktur olahraga saat itu, Predrag Mijatovic, karena dia dan timnya yang bertanggung jawab atas keputusan-keputusan olahraga," kata Calderon.
"Merekalah yang tahu, atau seharusnya tahu, bagaimana segala sesuatunya berjalan,” jelasnya.
Omongan Calderon seolah langsung mendapat pembuktian di Copa del Rey 2025/2026. Real Madrid secara mengejutkan tumbang 2-3 dari tim kasta kedua, Albacete Balompie, pada Kamis (15/1/2026) dini hari WIB.
Dalam laga tersebut, Los Blancos dipimpin pelatih interim Alvaro Arbeloa. Ia berani melakukan rotasi dengan menurunkan pemain akademi, Jorge Cestero, sebagai starter untuk menggantikan peran Jude Bellingham yang diistirahatkan.
Namun, keputusan itu justru berbuah risiko. Jorge Cestero gagal menjalankan peran sebagai jenderal lini tengah dengan optimal. Aliran bola Real Madrid kerap terputus, sementara intensitas permainan Albacete justru semakin meningkat.
Situasi tersebut dimanfaatkan Albacete untuk memberi tekanan konsisten hingga akhirnya mampu menyingkirkan raksasa ibu kota dari ajang Copa del Rey.
Kekalahan ini pun memperkuat kritik terbuka Calderon terhadap kondisi internal Real Madrid.
Situasi klub kian memanas di tengah masa transisi pascapergantian pelatih serta hasil mengecewakan di Piala Super Spanyol.
Kini, kepemimpinan Florentino Perez kembali berada di bawah sorotan tajam. Bukan hanya dari pengamat dan suporter, tetapi juga dari sosok yang pernah menduduki kursi tertinggi di Santiago Bernabeu.
(Tribunnews.com/Ali)