Kasus DBD Terpantau di Kepulauan Meranti Awal Tahun Ini: Ada 8 Kasus
January 15, 2026 06:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, MERANTI — Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti mencatat sebanyak 8 kasus dengue pada Januari 2026 hingga 15 Januari.

Yaitu terdiri dari 4 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dan 4 kasus Demam Dengue (DD).

Dari jumlah tersebut, dua pasien DBD saat ini masih menjalani perawatan di RSUD.

Dilaporkan, sementara tidak ada kasus meninggal dunia dalam kasus tersebut.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kepulauan Meranti, Widya Nengsih, mengatakan kondisi kasus DBD pada awal tahun ini relatif terkendali jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

“Berdasarkan laporan puskesmas dan rumah sakit hingga 15 Januari 2026, total kasus dengue yang tercatat sebanyak delapan kasus, dengan empat di antaranya merupakan DBD. Saat ini dua pasien masih dirawat di RSUD dan kondisinya dalam pemantauan tenaga medis,” ujar Widya, Kamis (15/1/2026).

Ia menjelaskan, sebaran kasus DBD Januari 2026 paling banyak berasal dari wilayah kerja Puskesmas Selatpanjang dengan dua kasus, disusul Puskesmas Alai dan Puskesmas Kedabu Rapat masing-masing satu kasus.

Sementara puskesmas lainnya belum melaporkan adanya kasus DBD pada periode yang sama.

Widya menambahkan, angka insiden rate (IR) sementara dengue di Kepulauan Meranti pada Januari 2026 berada di kisaran 1,86 per 100.000 penduduk, jauh lebih rendah dibandingkan kondisi sepanjang tahun 2025.

“Sebagai perbandingan, sepanjang tahun 2025 tercatat total 247 kasus dengue, dengan 176 kasus DBD dan dua kasus kematian.

Artinya, tren awal 2026 masih menunjukkan penurunan yang cukup signifikan,” jelasnya.

Baca juga: Tantangan Kuansing Capai Swasembada Pangan 2027: Hal Ini Menjadi Hambatan

Baca juga: Lansia di Rohul Edarkan Diduga Sabu, Tiga Paket Diamankan Jajaran Polres

Meski demikian, Widya menegaskan bahwa pihaknya tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama pada musim penghujan yang berpotensi meningkatkan perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.

“Kami terus melakukan pemantauan kasus secara rutin, penguatan surveilans di puskesmas, serta mendorong upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di masyarakat.

Fogging dilakukan sesuai indikasi epidemiologis, bukan sebagai langkah utama,” tegasnya.

Ia juga mengimbau masyarakat agar aktif melakukan 3M Plus, yakni menguras, menutup, dan mengubur tempat penampungan air, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam tinggi lebih dari dua hari.

“Peran masyarakat sangat penting untuk mencegah peningkatan kasus. Deteksi dan penanganan dini menjadi kunci agar DBD tidak berkembang menjadi kondisi berat,” pungkas Widya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.