Kementan Rehabilitasi Sawah Terdampak Bencana di Sumatera, Khusus Sumbar 3.624 Hektare di Tahap Awal
January 15, 2026 07:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Kementerian Pertanian (Kementan) mulai melaksanakan program rehabilitasi lahan sawah pascabencana alam di sejumlah wilayah Sumatera, salah satunya di wilayah Sumatera Barat. 

Program ini mencakup perbaikan lahan pertanian, jaringan irigasi, serta pemulihan sarana dan prasarana produksi guna memastikan petani terdampak dapat kembali berproduksi dalam waktu dekat.

Tahap awal rehabilitasi ditandai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Lhokseumawe, Aceh, Kamis (15/1/2026). 

Baca juga: Tanpa Bantuan Sejak Awal Banjir Bandang, Petani Selayo Solok Pulihkan Sawah Secara Mandiri

Kementan menargetkan pemulihan lahan sawah dengan tingkat kerusakan ringan hingga sedang sebagai prioritas utama pada Januari hingga Februari 2026.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menegaskan, pemulihan sektor pertanian pascabencana merupakan tanggung jawab negara. 

"Oleh karena itu, Kementan bergerak cepat sejak bencana melanda sejumlah wilayah Sumatera pada akhir November 2025," katanya saat memberikan kata sambutan melalui siaran langsung.

Kementan mencatat total luas lahan sawah terdampak bencana di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, mencapai 98.002 hektare. 

Baca juga: Sawah Rusak Pascabencana, Bupati Agam Dorong Petani Alih Komoditas ke Jagung Demi Cegah Miskin

Dari jumlah tersebut, kerusakan ringan hingga sedang tercatat seluas 69.240 hektare dan menjadi fokus utama rehabilitasi tahap awal.

Pada tahap ini, Kementan menargetkan rehabilitasi lahan sawah seluas 13.708 hektare di tiga provinsi, terdiri atas Aceh 6.530 hektare, Sumatera Utara 6.593 hektare, dan Sumatera Barat 3.624 hektare. 

"Rehabilitasi meliputi perapihan pematang sawah, normalisasi saluran irigasi tersier hingga sekunder, perbaikan bangunan irigasi, serta pekerjaan olah lahan," ujarnya.

Di Aceh, pelaksanaan rehabilitasi dilakukan dengan skema padat karya. Melalui skema ini, petani terdampak dilibatkan langsung dalam pengerjaan lahan mereka sendiri, dengan upah yang ditanggung pemerintah pusat. 

Baca juga: Sawah Raib, Harapan Terkubur: Tangis Petani Lambuang Bukik Kota Padang Usai Banjir Bandang

Skema tersebut diharapkan dapat membantu pemulihan ekonomi petani selama masa rehabilitasi berlangsung.

Dari sisi pendanaan, Kementan menyiapkan anggaran rehabilitasi lahan sawah nasional seluas 10.000 hektare senilai Rp148,53 miliar yang akan direalokasikan untuk penanganan lahan dengan kerusakan sedang di wilayah terdampak bencana. 

Selain itu, tersedia anggaran optimasi lahan sebesar Rp310 miliar untuk rehabilitasi lahan dengan tingkat kerusakan ringan di tiga provinsi tersebut.

Selain rehabilitasi fisik lahan, Kementan juga menyalurkan bantuan sarana produksi pertanian berupa benih, pupuk, alat dan mesin pertanian, serta bantuan kebutuhan pokok bagi petani terdampak.

Seluruh bantuan tersebut telah disalurkan ke daerah sesuai dengan komitmen pemerintah pusat kepada pemerintah daerah.

Melalui program rehabilitasi ini, Kementan menargetkan sebagian besar lahan sawah terdampak dapat kembali produktif dalam waktu singkat, sehingga ketahanan pangan di wilayah Sumatera tetap terjaga pascabencana. (TribunPadang.com/Fajar Alfaridho Herman)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.